Frensia.id – Rais ‘Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Miftachul Akhyar, menyampaikan pentingnya tabayun ketika mendengar suatu isu-isu mengenai NU.
Hal itu disampaikan pada Peringatan Hari Lahir (Harlah) Ke-101 Nahdlatul Ulama (1344-1445 H) di Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Yogyakarta, Kota Yogyakarta, Rabu, 31 Januari 2024.
Lantas, apa tabayun itu? Seberapa penting kita memahami dan mempraktekannya dalam kehidupan sehari-hari.
Tabayun adalah mencari kejelasan atau kebenaran tentang sesuatu hingga jelas dan terang. Tabayun sangat penting dilakukan oleh umat Islam, terutama di era informasi yang serba cepat dan mudah seperti sekarang ini.
Banyak informasi yang tersebar di media sosial atau internet yang belum tentu valid dan benar. Jika kita tidak melakukan tabayun, kita bisa terjerumus dalam kesalahan dan fitnah yang bisa merugikan diri kita sendiri maupun orang lain.
Allah SWT berfirman dalam surat Al-Hujurat ayat 6, yang berbunyi:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِن جَآءَكُمْ فَاسِقٌۢ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوٓا۟ أَن تُصِيبُوا۟ قَوْمًۢا بِجَهَٰلَةٍ فَتُصْبِحُوا۟ عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَٰدِمِينَ
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.”
Ayat ini menjelaskan bahwa kita harus melakukan tabayyun terhadap pembawa berita dan isi berita. Kita harus mencari tahu apakah pembawa berita itu bisa dipercaya atau tidak, dan apakah isi berita itu benar atau tidak.
Kita tidak boleh menerima mentah-mentah informasi yang diterima tanpa melakukan pengecekan dan verifikasi. Hal ini untuk menghindari kesalahan, fitnah, dan kerusakan yang bisa ditimbulkan oleh informasi yang salah.
Adapun Hadits-hadits yang menjelaskan tentang pentingnya tabayun antara lain adalah:
- Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah bersabda:
“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari no. 6136 dan Muslim no. 47)
Hadits ini menunjukkan bahwa seorang muslim harus menjaga lisannya dari perkataan yang tidak bermanfaat atau bisa menimbulkan mudharat.
Jika kita tidak yakin dengan kebenaran informasi yang kita dengar atau baca, maka lebih baik kita diam daripada menyebarkannya tanpa tabayun.
- Dari Abdullah bin Umar RA, Rasulullah SAW bersabda:
“Cukuplah seseorang itu berdusta jika ia menceritakan semua apa yang ia dengar.” (HR. Muslim no. 5)
Hadits ini menunjukkan bahwa seorang muslim harus berhati-hati dalam menyampaikan informasi yang ia dengar.
Jika ia tidak melakukan tabayyun, maka ia bisa termasuk orang yang berdusta karena menyampaikan informasi yang salah atau palsu.
- Dari Abu Sa’id al-Khudri RA, Rasulullah bersabda:
“Jauhilah banyak bertanya-tanya dan banyak mencela, karena sesungguhnya banyak bertanya-tanya dapat merusak agama dan banyak mencela dapat merusak persaudaraan.” (HR. Muslim no. 47)
Hadits ini menunjukkan bahwa seorang muslim harus bersikap bijak dalam mencari informasi. Jika ia ingin mengetahui sesuatu, maka ia harus bertanya kepada orang yang ahli dan terpercaya, bukan kepada orang yang fasik atau tidak tahu.
Jika ia mendapatkan informasi yang tidak sesuai dengan kebenaran, maka ia harus melakukan tabayun, bukan mencela atau menuduh orang lain. Hal ini untuk menjaga agama dan persaudaraan di antara umat Islam.
Demikian penjelasan singkat dan dalil-dalil tentang tabayun yang sempat disampaikan oleh Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar tersebut. Semoga bermanfaat. Aamiin.
Wallahu A’lam Bisshawab