Kisah Haru Pasangan Tunanetra di Jember Besarkan 3 Anak: Bukti Cinta Itu Tak Harus Melihat

Tuesday, 24 February 2026 - 17:25 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto: Istimewa.

Foto: Istimewa.

Frensia.Id – Suara tangisan bayi memecah kesunyian pagi di sebuah rumah di ujung Jalan Bumi Tegal Besar, Kaliwates, Jember. Ali Muhtar Zamrony (35) bergegas. Tangannya bergerak terampil, sesekali meraba udara dan dinding, mencari arah sumber suara tersebut.

Dengan gerakan lembut dan penuh kehati-hatian, Ali menggendong Andra Zaidan Ar-Rasyid. Si bungsu itu baru genap berusia satu bulan. Di sampingnya, sang istri, Yepy Ristian, sibuk menyiapkan botol susu.

Pemandangan ini mungkin biasa bagi keluarga baru. Namun bagi Ali dan Yepy, ini adalah perjuangan luar biasa. Keduanya adalah penyandang tunanetra yang kini bahu-membahu membesarkan tiga buah hati mereka.

Benih Cinta di Balik Pijat Netra

Kisah cinta mereka tak tumbuh di taman kota atau kafe kekinian. Takdir mempertemukan mereka di UPT Rehabilitasi Sosial Bina Netra (RSBN) Malang. Saat itu, keduanya adalah teman sekelas yang tengah menimba ilmu menjadi pemijat profesional.

“Dulu itu ya sebatas teman belajar saja. Tapi ketika sudah selesai pelatihan, di akhir 2017 kita mulai dekat,” kenang Ali saat berbincang, Selasa (24/2/2026).

Bagi Ali, jatuh cinta tak butuh visual. Jika orang lain mengenal istilah ‘dari mata turun ke hati’, bagi pasangan ini, cinta adalah soal frekuensi dan kenyamanan berkomunikasi.

Baca Juga :  Kantor Taman Nasional Meru Betiri Jember Terbakar

“Alasan kuat saya itu karena saling cocok, ada keterkaitan, dan visi yang sama. Ibarat dunia kerja, kita satu frekuensi. Itu jadi fondasi lanjut ke jenjang berikutnya,” ujarnya.

Mandiri Berbekal ‘Daily Living’
Menikah pada 2020, kini mereka telah dikaruniai tiga anak: Nisatul Afifah (13), Aqila Ayudia Salsabila (2,5), dan si bayi Andra. Banyak yang bertanya, bagaimana mereka mengurus anak tanpa penglihatan?

Rahasianya ada pada kemandirian. Di tempat pelatihan dulu, mereka tak hanya belajar memijat, tapi juga dilatih daily living atau aktivitas harian.

“Kita dibimbing cara merawat anak hingga memberikan nutrisi. Jadi ketika memutuskan menikah, kita sudah siap untuk survive dan hidup normal seperti masyarakat umumnya, tanpa batasan,” tegasnya.

Dalam keseharian, Yepy yang mengalami tunanetra total sejak kecil, sangat mengandalkan indera peraba dan pendengaran. Mulai dari memandikan bayi hingga menyiapkan sarapan, semua dilakukan dengan kerja sama tim yang solid.

Berjuang di Tengah Fluktuasi Ekonomi

Untuk menyambung hidup, pasangan ini mengandalkan profesi sebagai praktisi pijat. Profesi ini dipilih karena sangat mengandalkan kepekaan sentuhan—kekuatan utama mereka.

Baca Juga :  Cerita Anak dari Jenazah PMI Asal Arjasa-Jember yang Meninggal di Malaysia: Kaki Habis Tertusuk Paku

Namun, Ali tak menampik adanya kerikil tajam. Pendapatan yang tak menentu menjadi tantangan tersendiri.

“Suka-dukanya banyak, terutama dalam mencari nafkah. Ekonomi yang fluktuatif sering jadi ujian,” akunya jujur.

Menariknya, di tengah kesibukan mengurus keluarga dan mencari nafkah, Ali tetap mengejar ilmu. Saat ini, ia merupakan mahasiswa semester 8 jurusan Pendidikan Luar Biasa di Universitas PGRI Argopuro (Unipar) Jember. Ia ingin ilmu yang didapatnya bisa membantu sesama disabilitas di masa depan.

Kunci Harmonis: Komunikasi, Bukan Materi

Bagi Ali, rahasia rumah tangga tetap kokoh meski dalam keterbatasan bukan terletak pada tumpukan harta. Melainkan kejernihan komunikasi.

“Tantangan terbesar itu komunikasi. Gimana tetap harmonis, melewati suka duka dengan pikiran jernih, jangan sampai bertengkar. Kalau komunikasi nggak bagus, orang kaya pun rumah tangganya bisa berantakan,” tandas Ali.

Kisah Ali dan Yepy adalah pengingat bahwa keterbatasan fisik bukanlah penghalang untuk menjadi orang tua hebat. Di balik gelap yang mereka alami, ada cahaya cinta yang terang benderang untuk ketiga buah hati mereka.

Follow WhatsApp Channel frensia.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Baca Lainnya

Sebanyak 46 Dapur SPPG di Jember Diberhentikan Sementara
Puluhan Sound Horeg Beraksi di Lokasi Wisata Dira Kafe
Akhmad Nizar, Pelari Asal Mayang Jember Cetak Rekor di UTMB 2026
Kasatkorcab Banser Kencong Mengecam Keras Ucapan Bos Sound Horeg
Ketua PWI Pusat Akhmad Munir Soroti Disrupsi Teknologi Digital Ubah Pola Masyarakat Konsumsi Informasi
Realisasi BBM di Jember Tembus 45%, Hiswana Migas Duga Ada Penimbunan
Pertamina Distribusikan 880 Kiloliter BBM ke Jember untuk Urai Antrean SPBU
Kapolres Jember Sambangi Kantor PWI, Perkuat Sinergi dan Keterbukaan Informasi

Baca Lainnya

Saturday, 12 September 2026 - 19:09 WIB

Sebanyak 46 Dapur SPPG di Jember Diberhentikan Sementara

Saturday, 12 September 2026 - 17:44 WIB

Puluhan Sound Horeg Beraksi di Lokasi Wisata Dira Kafe

Saturday, 12 September 2026 - 17:23 WIB

Akhmad Nizar, Pelari Asal Mayang Jember Cetak Rekor di UTMB 2026

Friday, 11 September 2026 - 10:21 WIB

Kasatkorcab Banser Kencong Mengecam Keras Ucapan Bos Sound Horeg

Wednesday, 9 September 2026 - 17:15 WIB

Ketua PWI Pusat Akhmad Munir Soroti Disrupsi Teknologi Digital Ubah Pola Masyarakat Konsumsi Informasi

TERBARU

Kepala Satgas MBG sekaligus Penjabat (Pj) Sekda Jember, Achmad Fauzi (tengah) (Foto: Sigit/Frensia).

News

Sebanyak 46 Dapur SPPG di Jember Diberhentikan Sementara

Saturday, 12 Sep 2026 - 19:09 WIB

Puluhan sound horeg saat memadati kawasan lokasi wisata Dira Kafe, Kecamatan Kencong, Jember. (Foto: Istimewa).

News

Puluhan Sound Horeg Beraksi di Lokasi Wisata Dira Kafe

Saturday, 12 Sep 2026 - 17:44 WIB

Discover more from Frensia

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading