FRENSIA.ID – Siapa sangka penemuan sebuah mayat yang membeku di pegunungan es bisa mengungkap kasus pembunuhan tertua dalam sejarah umat manusia? Kisah tragis Ötzi, mumi legendaris yang hidup lebih dari 5.300 tahun lalu, telah diabadikan dalam sebuah film fiksi sejarah yang menegangkan.
Dirilis pada tahun 2017, film tentang Otzi ini dibintangi oleh aktor Jürgen Vogel dan ditulis sekaligus disutradarai oleh Felix Randau. Dengan dampak emosional yang kuat, Randau berhasil memvisualisasikan misteri pembunuhan prasejarah ini ke layar lebar, membawa penonton menyelami kehidupan nyata dan hari-hari terakhir sang “Manusia Es” sebelum kematiannya yang tragis.
Film tersebut mengambil latar di Pegunungan Alpen Ötztal ribuan tahun sebelum Masehi, mengisahkan sebuah klan Neolitik yang menetap di dekat sungai kecil. Karakter utama bernama Kelab—yang merepresentasikan sosok Ötzi—adalah seorang pemimpin sekaligus tabib klan yang bertugas menjaga Tineka, tempat suci kelompok mereka.
Kedamaian itu hancur ketika pemukiman mereka diserang secara brutal saat Kelab sedang berburu. Anggota suku dibantai, termasuk istri dan putranya, tempat suci Tineka dicuri, dan hanya menyisakan satu bayi yang selamat.
Dibutakan oleh rasa sakit dan amarah, Kelab memulai perjalanan balas dendam yang berat. Ia harus berjuang menyelamatkan nyawa sang bayi dan melawan kerasnya alam bersalju. Sebuah kesalahan fatal kemudian mengubah posisinya dari seorang pemburu menjadi pihak yang diburu.
Di tengah kesepian dan keraguan yang menyiksa, Kelab akhirnya berhadapan dengan para pembunuh keluarganya, menghadapi tantangan batin terbesar untuk tidak menjadi seorang pembunuh berdarah dingin seperti mereka.
Kisah dalam film ini berakar dari sebuah penemuan nyata yang sangat sensasional pada tanggal 19 September 1991. Dua pendaki asal Jerman, Erika dan Helmut Simon, tengah menyusuri Lembah Gletser Schnalstal di Pegunungan Alpen saat mereka menemukan sesosok mayat.
Awalnya, mereka mengira jasad tersebut hanyalah seorang pendaki gunung yang baru saja meninggal akibat kecelakaan. Namun, dunia ilmu pengetahuan terguncang ketika penelitian lebih lanjut memastikan bahwa jasad itu adalah mumi yang diperkirakan hidup ribuan tahun sebelum Masehi.
Menurut penuturan arkeolog Walter Leitner, profesor di Universitas Innsbruck, Ötzi hidup hingga usia yang lebih tua dibandingkan rata-rata orang sezamannya, meskipun ia tidak dalam kondisi yang sepenuhnya sehat.
Berdasarkan hasil otopsi, saat meninggal Ötzi diperkirakan berusia sekitar 48 tahun dengan tinggi badan 160 cm dan berat 50 kg. Ia digambarkan memiliki kulit yang agak kecokelatan, rambut gelap bergelombang yang terurai sebahu, dan memiliki janggut.
Fakta lain yang tak kalah memukau adalah keberadaan 61 tato yang menghiasi tubuhnya. Tato-tato kuno ini tetap terpelihara dengan sangat baik berkat iklim glasial yang membekukan tubuhnya, sebuah rahasia epik yang tak pernah diketahui dunia hingga sang mumi ditemukan tiga dekade lalu.
Misteri terbesar dari penemuan ini adalah bagaimana Ötzi menemui ajalnya. Selama bertahun-tahun, para ahli sempat kebingungan menentukan penyebab pasti kematiannya.
Tabir misteri itu akhirnya terkuak melalui pemeriksaan sinar-X modern yang mengungkap temuan mengerikan: sebuah mata panah tertanam dalam di bahu kiri bagian punggungnya. Temuan ini, ditambah dengan beberapa luka lain di tubuhnya, menjadi bukti tak terbantahkan bahwa Ötzi mengalami akhir hidup yang kejam sebagai korban pembunuhan.
Fakta inilah yang kemudian menginspirasi narasi kelam dalam film adaptasinya, menjadikan kisah Ötzi bukan sekadar penemuan arkeologi biasa, melainkan jendela hidup menuju tragedi peradaban awal umat manusia.






