Merespon Karhutla, Wakil Ketua PC LPBI Kencong Mengkritik Keras Pemerintah dan Aktivis Organisasi

Friday, 16 October 2026 - 10:56 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

wakil ketua pc lpbi kencong, ridwan khamid

wakil ketua pc lpbi kencong, ridwan khamid

Frensia.id- Wakil Ketua Pimpinan Cabang (PC) Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim (LPBI) Kencong, Ridwan Khamid memberikan kritikan keras terhadap pemerintah yang dianggapnya justru mengakumulasi keresahan Masyarakat.

Kritikan dengan dasar yang sama tidak sekedar ditujukan kepada pemangku kebijakan, tetapi juga pada aktivis organisasi yang dianggapnya telah bungkam dalam memberikan masukan dan respon pada penguasa.

Hal tersebut ia ucapkan pada Jum’at (16/10/26), saat memberi keterangan dan respon terhadap kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan.

“Kita hidup di masa yang aneh. Di satu sisi, negara begitu aktif melahirkan kebijakan. Satu per satu regulasi disahkan, sering kali dengan kecepatan yang mengejutkan. Namun di sisi lain, masyarakat justru merasakan akumulasi keresahan yang semakin menumpuk”, ungkap Ridwan.

Menurut Ridwan, kebijakan pemerintah cenderung memaksa dan tidak berpartisipasi kepada rakyat, Dimana bencana terus mengintai. Saat musim hujan kebanjiran dan kemarau kebakaran.

“Kebijakan yang lahir terkesan memaksa. Tidak partisipatif. Jauh dari nadi rakyat kecil yang harus berhadapan langsung dengan asap karhutla, dengan banjir yang datang tiap hujan, dengan harga yang naik, dengan tanah yang semakin sempit. Ketika masyarakat bertanya, jawaban yang didapat seringkali adalah pembenaran, bukan penjelasan. Ketika masyarakat menolak, yang hadir bukan dialog, melainkan pendekatan yang terkesan menindas”, tegas aktivis Nahdliyin kelahiran Gumukmas, Jember.

Baca Juga :  Penyegaran Organisasi, Sejumlah Pejabat Polresta Banyuwangi Berganti Posisi

Lebih lanjut Ridwan yang merupakan hidup dan tumbuh dalam ekosistem NU menyayangkan saat kebijakan negara melenceng tidak terdapat kritik.

“Dulu, kita mengenal kontrol sosial yang kuat. Ketika kebijakan negara melenceng, ada suara dari mimbar-mimbar masjid, dari pesantren, dari tokoh agama yang berkopyah dan bergamis yang mengingatkan dengan lembut tapi tegas. Ada suara akademisi bergelar di kampus yang membedah kebijakan dengan data. Ada aktivis berseragam organisasi keagaman, mahasiswa, berbagai macam logonya dan puluhan organisasi besar lainnya yang gagah berdiri di garda terdepan membela rakyat. Lantang, Berani, Gagah Lalu sekarang? Hening”, paparnya.

Baca Juga :  BEM POLWANGI Gelar Nobar dan Diskusi Film Dokumenter "Makin Ditekan Makin Melawan"

Ridwan mempertanyakan eksistensi organisasi yang mampu meberikan masukan atas kebijakan pemerintah.

Padahal organisasi di negeri ini begitu banyak. Jumlahnya ribuan. Logonya ada di mana-mana. Seragamnya masih gagah dipakai saat pelantikan dan seremonial. Tapi di saat hutan terbakar, di saat hukum terasa tumpul ke atas tajam ke bawah, di saat kebijakan terasa tidak adil bagi orang miskin, di saat banjir dan longsor menjadi berita tahunan — suara itu tidak terdengar lagi” ungkapnya.

Menurutnya, Inilah krisis yang lebih dalam dari sekadar karhutla atau korupsi. Ini adalah krisis hilangnya tanggung jawab moral.

“Negara memang memiliki kekuasaan untuk membuat kebijakan. Tapi tanpa kontrol sosial dari tokoh agama, akademisi, dan aktivis, kekuasaan itu akan berjalan tanpa rem. Dan tanpa rem, kebijakan yang lahir pasti akan menabrak rakyatnya sendiri. Kita tidak butuh lebih banyak seragam baru. Kita butuh keberanian lama untuk Kembali”, pungkasnya.

Follow WhatsApp Channel frensia.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Baca Lainnya

Imigrasi Kantongi PNBP Rp8,68 Triliun, 5.310 WNA Nakal Dideportasi
PLN UP3 Siapkan Stasiun Pengisian Daya untuk Kendaraan Listrik di Jember dan Lumajang
Terduga Pembobol Rumah di Sobo Banyuwangi Dibekuk Tim URC Satreskrim Lewat Rekaman CCTV
Kebakaran Dua Kandang Ayam di Banyuwangi, 28 Ribu Ekor Ayam Mati Terpanggang
Tangis Istri dan Anak Kembar Pecah Sambut Jenazah Ponco Korban KM Virgo
Kemarau Panjang, 400 KK di Genteng Banyuwangi Digerojok 10 Ribu Liter Air Bersih
Buron Usai Dugaan Pembacokan di Banyuwangi, Pria Ini Menyerahkan Diri
Viral Video Belatung di Menu MBG di Sempu Banyuwangi, Pihak SPPG Buka Suara

Baca Lainnya

Friday, 16 October 2026 - 10:56 WIB

Merespon Karhutla, Wakil Ketua PC LPBI Kencong Mengkritik Keras Pemerintah dan Aktivis Organisasi

Thursday, 15 October 2026 - 22:52 WIB

Imigrasi Kantongi PNBP Rp8,68 Triliun, 5.310 WNA Nakal Dideportasi

Wednesday, 14 October 2026 - 23:44 WIB

PLN UP3 Siapkan Stasiun Pengisian Daya untuk Kendaraan Listrik di Jember dan Lumajang

Sunday, 11 October 2026 - 19:49 WIB

Terduga Pembobol Rumah di Sobo Banyuwangi Dibekuk Tim URC Satreskrim Lewat Rekaman CCTV

Sunday, 11 October 2026 - 19:47 WIB

Kebakaran Dua Kandang Ayam di Banyuwangi, 28 Ribu Ekor Ayam Mati Terpanggang

TERBARU

Masyarakat yang akan mengurusi paspor di Kantor Imigrasi. (Foto: Istimewa).

Regionalia

Imigrasi Kantongi PNBP Rp8,68 Triliun, 5.310 WNA Nakal Dideportasi

Thursday, 15 Oct 2026 - 22:52 WIB

Discover more from Frensia

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading