FRENSIA.ID — Grup band legendaris Slank kembali menggebrak panggung dan menyapa para Slankers di Banyuwangi melalui rangkaian Berani Kita Beda Tour (Tur ke-10 Hey Slank). Konser spektakuler yang digelar di pesisir Pantai Marina Boom pada Minggu (1/11/2026) membuktikan konsistensi Slank sebagai musisi yang berani menyuarakan kritik sosial yang tajam.
Di tengah antusiasme penonton yang memadati area konser, Slank mengambil momen untuk menyoroti isu ekologi yang belakangan ini kembali menjadi krisis. Salah satu segmen paling emosional dalam panggung tersebut adalah ketika mereka membawakan lagu yang secara khusus merespons tragedi kebakaran dan kerusakan hutan yang terus menjadi masalah serius bagi rakyat Indonesia.
Untuk menyuarakan keresahan lingkungan tersebut, Slank menarik kembali memori penonton pada karya mereka beberapa tahun silam. Bimbim, sang drummer sekaligus motor penggerak band, memberikan pengantar dari balik set drumnya sebelum lagu dimainkan.
“Balik ke Album Palalo peyang, album yang rilis tahun 2017,” ujar Bim-bim sang Drumer saat konser.
Ia kemudian menjelaskan konteks dan makna satir di balik lagu yang memotret ironi perilaku manusia terhadap alam tersebut.
“Ini bercerita sarkasme, tentang lingkungan. Tentang hujan, kita hancurin saja rame-rame,” tambahnya.
Lagu sarat kritik yang dibawakan dengan penuh distorsi dan energi tersebut berjudul “Hutan Karma”. Melalui hentakan musik rock n’ roll di bawah langit malam Banyuwangi,
Slank berhasil mengajak para penggemarnya untuk tidak menutup mata terhadap eksploitasi alam, menjadikan konser ini bukan sekadar pesta pora, melainkan sebuah refleksi kolektif tentang masa depan bumi. (Qobit)






