Frensia.id- Akademisi Universitas Negeri Airlangga (UNAIR) mengungkap konflik yang pernah terjadi dalam tubuh Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT). Risetnya mengungkap jejak bentrokan perguruan silat yang saat ini telah menyebar ke banyak pelosok negeri.
Agus Listiana, peneliti UNAIR, menjelaskan bahwa ada dua perguruan silat yang terkenal berasal dari Madiun. Namanya, adalah Setia Hati Terate dan Setia Hati Tunas Muda Winongo.
Kedua kelompok silat ini sering terlibat konflik dan bahkan menimbulkan banyak korban jiwa hingga kerugian materiil. Konflik tersebut sangat fenomenal sehingga mendorong Agus Listiana mengkaji jejaknya.
Riset yang telah dipublikasi di Repository UNAIR pada tahun 2013 silam, mengangkat dinamika konflik dua perguruan ini. Teori yang dipakainya adalah dinamika konflik Simon Fisher.
Ia mengumpulkan data dari berbagai sumber. Beberapa diantaranya, para pengikut kedua perguruan silat yang telah disahkan sebagai warga perguruan selama minimal 10 tahun dan berdomisili di Madiun sebagai daerah konflik.
Disamping itu, ia juga mencari data dari aparat keamanan tercatat terlibat langsung dalam pengamanan konflik. Semuanya, dikumpulkan secara mendalam.
Setalah melakukan analisis secara serius, ia menemukan bahwa sebenarnya kedua perguruan tidak ada perbedaan. Mereka awal bersatu atas nama perguruan silat Setia Hati.
Sejarah mencatat perguruan ini didirikan oleh Ki Ngabehi Soeryodiwiryo, atau biasa disebut Eyang Soeryo. Beliau kemudian diceritakan memiliki dua murid kesayangan yang sama-sama sakti.
Setelah kematiannya, kedua muridnya ternyata konflik. Akibatnya, perguruan yang awal satu, terpecah menjadi dua kelompok yakni Setia Hati Terate dan Setia Hati Tunas Muda Winongo.
Kedau kelompok yang sama diketuai murid Eyang Soeryo, sama merasa paling hebat dan mewarisi ajaran Setia Hati. Pada perkembangannya, mereka sama-sama mengangkat murid.
Akhirnya, pengikut masing-masing perguruan semakin banyak. Rasa benci antar pengikut kedua perguruan menjadi sumber konflik. Kadang hanya masalah sepele saja bisa memicu konflik besar.
Konflik antara kedua perguruan, dalam pandangan Agus, tidak hanya merugikan pihak yang terlibat. Akan tetapi juga sering masyarakat yang tidak terkait juga jadi korban.
Jenis konflik yang terjadi adalah konflik horizontal. Agus melihat telah terjadi antara masyarakat dengan masyarakat lain.
Secara garis besar, ia melihatnya telah berbentuk konflik terbuka. Hal demikian ditandai dengan seringnya bentrokan antara pengikut kedua perguruan tersebut.