Frensia.id – Berdasarkan ketetapan pemerintah melalui Kementerian Agama mengenai awal Ramadhan yang jatuh pada 12 Maret, Umat Islam telah memasuki pertengahan Ramadhan sejak malam Rabu 26 Maret 2024.
Masyarakat muslim umumnya dalam pelaksanaan sholat tarawih yang disertai dengan witir, mulai membaca qunut pada rakaat terakhir sholat witir ketika sudah memasuki pertengahan bulan Ramadhan.
Hal ini sebagaimana maklum dalam kitab utama yang dikaji hampir di semua pesantren, yakni Matn al-Ghayah wa at-Taqrib atau Kitab Taqrib Abi Syuja’ bahwa disunnahkan membaca qunut witir pada pertengahan akhir bulan Ramadhan. Lantas bagaimana dalilnya?
Dilansir Frensia.id dari akun Instagram @sabilunnashr berikut 4 dalil pelaksanan qunut witir yang dilaksanakan pada pertengahan Ramadhan:
Pertama,dalam kitab Sunan Abu Dawud, disebutkan sebuah hadits yang dishahihkan oleh Syaikh Syu’aib Al-Arnauth:
اَنَّ اُبَيَّ بْنَ كَعْبٍ أَمَّهُمْ – يَعْنِيْ فِيْ رَمَضَانَ – وَكَانَ يَقْنُتُ فِي النِّصْفِ الآخِرِ مِنْ رَمَضَانَ
“Bahwa Ubayy bin Ka’b mengimami mereka (para sahabat)-yakni ketika Ramadhan-, dan beliau melakukan qunut di pertengahan akhir bulan Ramadhan”
Kedua,dalam kitab Al-Hawi Al-Kabir karya Al-Mawardi Juz 2 halaman 292:
عَنِ الْحَسَنِ البَصْرِي أّنَّ عُمَرَ بْنَ الخَطَّابَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ جَمَعَ النَّاسَ عَلَى أُبَيٍّ وَقَالَ: صَلِّ بِهِمْ عِشْريْنَ رَكْعَةً, وَلَا تَفْنُتْ بِهِمْ إِلَّا فِي النِّصْفِ الأخِيرِ
“Dari Hasan Al-Bashri, bahwa Sayyidinia ‘Umar bin Khattab RA mengumpulkan orang-orang untuk diimami Ubayy, dan beliau berkata, ‘Sholatlah Bersama mereka 20 rakaat, dan janganlah melakukan qunut kecuali di pertengahan terakhir (Ramadhan”
Ketiga,dalam kitab Tuhfatul Muhtaj bi Syarhi al-Minhaj karya Imam Ibnu Hajar Al-Haitami juz 2 halaman 230:
لاَنَّ اُبَيَّ بْنَ كَعْبٍ فَعَلَ ذَلِكَ لَمَّا جَمَعَ عُمَرُ النَّاسَ عَلَيْهِ فِي التَّرَاوِيْحِ. رواه ابو داود
Imam Ibnu Hajar Al-Haitami menjelaskan sebab adanya qunut witir, “Karena Ubayy bin Ka’b melakukan itu (qunut witir) ketika Sayyidina Umar mengumpulkan orang-orang saat tarawih”
Keempat,dalam kitab Al-Hawi Al-Kabir karya Al-Mawardi Juz 2 halaman 292:
وَلَا يَقْنُتُ إِلَّا فِيْ شَهْرِ رَمَضَانَ فِي النِّصْفِ الأخِيرِ مِنْهُ وكذلك يَفْعَلُ ابْنُ عُمَرَ
Imam Syafi’i berkata, “Dan tidaklah melakukan qunut, kecuali di bulan Ramadhan, kecuali di pertengahan akhir darinya. Begitulah yang dilakukan oleh Ibnu Umar dan Mu’adz sang Qari’”
Adapun tatacaranya sebagaimana dikutip dari kitab Kifatul Akhyar halaman 168, lafadz jamak atau plural, yakni :
اَللَّهُمَ اهْدِ(نَا) فِيْمَنْ هَدَيْت… (Allahummahdi(na) fiiman hadait…), dan seterusnya.
Selain itu, disunnahkan untuk mengakat kedua tangah setinggi bahu, tidak mengusapkan tangan ke wajah setelah selesai qunut, imam mengeraskan suara, serta makmum mengamini ketika sampai pada kalimat pujian sebagaimana dijelaskan oleh Muhammad Zuhri Al-Ghamrawi dalam Kitab Anwarul Masalik Syarhu ‘Umdatis Salik wa ‘Uddatin Nasik halaman 85.