Frensia.id- Seorang Khatib Jum’at, dalam kesempatan singkatnya di atas mimbar menyampaikan kepada jama’ah agar tidak menyia-nyiakan bulan ramadhan dengan menekuni amal saleh. Menjadi pertanyaan bagi sebagian hadirin, mengapa bulan Ramadhan? Sebagaimana yang dijelaskan dalam literatur Islam klasik, ramadhan mempunyai arti panas yang sangat menyengat, membakar atau kekeringan. Berdasarkan arti etimologinya, digunakan dalam makna metaforis. Bahwa pada bulan ramadhan dosa-dosa manusia dibakar melalui amal-amal saleh. Pada bulan ke-9 dalam kalender Hijriyah ini pula, segala amal baik dilipat gandakan.
Oleh karena itu, dalam kondisi dahaga dan lapar ketika berpuasa, maka seyogyanya seorang muslim untuk memperbanyak amal saleh dan mengetuk pintu langit, agar segala dosa-dosanya yang telah lalu dan yang akan datang kemudian mendapatkan ampunan dari Allah SWT.
Berdasarkan keistimewaan bulan Ramadhan, dimana ampunan dibuka selebar-lebarnya dan pahala diobral sebanyak-banyaknya, maka menjadi mungkin bagi seorang yang beriman akan menanjak status kehambaannya. Jika memang ia menjalankan dan mengejawantahkan iman di dalam hatinya dengan sepenuh hati.
Akan tetapi apabila dari tahun ke tahun statusnya tetap sama, disamping menjalankan amal ibadah wajib dan sunnah ia masih saja melakukan dosa yang sama sebagaimana tahun sebelumnya. Cara pandangnya terhadap persoalan duniawi dan objek keluh kesahnya masih sama, seolah-olah ia lupa bahwa Tuhan yang maha segalanya lebih dekat urat nadinya. Maka jelas sekali ada yang salah dengan cara penghambaan dirinya. Sebagai seorang hamba maka perlu melakukan upgrade iman dan pada momen Ramadhan ini dengan segala keistimewaannya yang terkandung, maka bisa dilakukan secara revolusioner. Yakni, melakukan perubahan total, drastis dan radikal dimana tolak ukurnya adalah nanti pasca bulan ramadhan berakhir.
Sesuai dengan medan tempuh yang mesti dilakukan oleh seorang hamba, dimulai dengan latihan diri untuk melakukan pemutihan terhadap dosa-dosa (takholy) yang menjadi kebiasaan sehari-harinya. Secara berangsur dan bertahap beberapa dosa dihentikan untuk dilakukan, sekalipun tidak dengan drastis akan tetapi ada rutinitas dosa yang distop. Apabila dalam satu minggu ia biasa berbohong sebanyak tujuh kali, maka mesti dikurangi, semisal cukup enam kali. Pada minggu selanjutnya dikurangi sebanyak lima kali. Begitu seterusnya.
Selain itu, yang sangat penting untuk dievaluasi adalah perilaku dosa yang dilakukan oleh hati. Gerak-gerik hati yang berorientasi pada wilayah kotor perlu diatasi. Hal ini jelas tidak mudah, maka daripada itu perlu niat yang teguh
Setelah mengurangi perbuatan dosa, seorang hamba perlu berhias dengan amal ibadah (Tahally). Dimulai dengan amal ibadah wajib sebagai modal utama segala amal, kemudian ditambah dengan amal ibadah sunnah. Serta berakhlak yang baik, tidak hanya dalam wilayah luarnya saja lebih-lebih dan sangat penting untuk dievaluasi adalah pada zona hati. Sampai pada akhirnya seorang hamba mendapatkan pancaran cahaya ilahi, yaitu ketika hatinya telah bersih dari rongsokan duniawi.
Dalam upaya agar kebenaran (al-haq) singgah di hati seorang hamba, pada prosesnya mengalami banyak tipu daya (maghrur). Ada dua jenis tipu daya yang menyebabkan perjalanan spiritual seorang hamba tersendat, hingga pada akhirnya tidak pernah mencapai puncaknya. Pertama, tipu daya duniawi dan kedua, tipu daya yang mengatasnamakan Allah di dalamnya. Pada jenis yang pertama sangat mudah diidentifikasi, segala jenis persoalan duniawi yang menyebabkan lalai atau memposisikan Allah bukan sebagai prioritas. Masalah duniawi juga memberikan banyak variabel, ada orang yang bermusuhan, mencuri, mengganggu sesamanya karena rebutan harta, tahta dan perempuan. Ada pula seseorang yang iri, dengki karena harta dan anugerah yang diterima oleh orang lain. begitu pula dengan penyakit-penyakit hati lainnya.
Sedangkan jenis yang kedua, masih menyoal tentang tipuan dunia akan tetapi disamarkan karena dalam kemasannya melibatkan Allah. Seperti halnya seseorang banyak santrinya, hafal Al-Qur’an, merasa paling banyak amal jariyahnya sehingga merasa lebih baik dari orang lain. maka sebenarnya ia sendiri tidak sadar bahwa dirinya sedang tertipu. Pada contoh yang kedua ini paling banyak berlaku pada orang berilmu.
Termasuk pada bulan Ramadhan ini, dengan adanya obral pahala amal baik besar-besaran maka perlu melakukan evaluasi diri secara penuh apakah perbuatan yang dilakukan berorientasi pada Allah semata atau justru pada amal itu sendiri, dalam arti bermewah-mewah dengan kuantitas bahwa dirinya telah melakukan amal yang cukup banyak, sehingga justru melupakan kepada yang dituju, yakni Allah karena terlalu fokus pada cara menuju. Dengan begitu, apa-apa yang sebenarnya menjadi sebab, yaitu amal baik untuk menuju Allah, bisa jadi merupakan hijab untuk menuju kepada Allah.
Oleh karena itu dalam melakukan revolusi spiritual di bulan Ramadhan ini, tidak hanya sekedar membutuhkan semangat beribadah tetapi juga perlu sekali segala perbuatan baik yang dilakukan didasarkan dan ditopang dengan keberadaan ilmu. Sehingga semangat yang dimiliki bukan dikarenakan nafsu semata. Semisal nafsu untuk memperoleh pahala yang banyak.
Dengan ilmu itu pula digunakan untuk melakukan muhasabah akan iman yang berada di dalam hati. Apakah nikmat iman yang dianugerahkan sedang mengalami peningkatan atau justru mengalami dekadensi. Berkenaan dengan ini terdapat cerita dari Imam Besar Sunni, Hujjatul Islam Abu Hamid Al-Ghazali. Ia pernah merasakan kegalauan spiritual. Sebagai seorang guru besar yang alim dan allamah di Universitas Nizhamiyah dimana dirinya dikekang dan didominasi oleh rutinitas akademik sebagai pengajar, suatu hari ia merasa apabila kegiatan yang dilakukan sehari-hari seperti ini terus sedangkan di satu sisi iman di dalam hatinya tidak bertambah maka sebenarnya ia sedang berada di bibir neraka Jahanam.
Demikian hasil koreksi Imam Al-Ghazali atas status dirinya sebagai hamba dengan mengukur tingkatan iman dalam hatinya, bukan lagi dengan kuantitas amal kebaikannya. Dengan segala bekal yang mesti dipersiapkan untuk memgupgrade diri sebagai seorang hamba, maka perlu kiranya menilai pada bulan ramadhan tahun ini, apakah sudah siap atau belum untuk melakukan revolusi spiritual?







