Rolling Stones, Disebut Sangat Rinci Gambarkan Dinamika Pemahaman Gender Tahun 1960an

Minggu, 1 September 2024 - 17:27 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Gambar Rolling Stones, Disebut Sangat Rinci Gambarkan Dinamika Pemahaman Gender Tahun 1960an (Sumber:Canva)

Gambar Rolling Stones, Disebut Sangat Rinci Gambarkan Dinamika Pemahaman Gender Tahun 1960an (Sumber:Canva)

Frensia.id-Rolling Stones memang kental dengan kondisi sosial. Karya-karyanya tak terpisah dari problematika masyarakat kala itu, termasuk dinamika feminis dan gender di Eropa.

Salah satu peneliti yang melihat dinamika demikian adalah Andrew Agustus. Temuan kajiannya telah diterbitkan dalam Taylor and Francis pada tahun 2009 lalu.

Ia melihat bahwa Tahun 1960-an merupakan dekade perubahan sosial besar-besaran di Inggris, di mana budaya anak muda menjadi pusat perhatian. Di tengah-tengah pergeseran ini, banyak wanita mulai menentang peran tradisional mereka dengan mencari pendidikan, pekerjaan, dan kebebasan pribadi yang lebih besar.

Namun, meskipun subkultur tahun 1960-an menjanjikan kebebasan dan kemajuan, sering kali justru memperkuat norma-norma yang ada. Rolling Stones, sebagai ikon utama budaya anak muda pada masa itu, mencerminkan ketegangan antara tradisi dan pembebasan, terutama dalam penggambaran mereka terhadap perempuan dan peran gender.

Menurutnya, gerakan pembebasan wanita mulai menguat pada akhir 1960-an, menjadi titik penting dalam perjuangan kesetaraan gender. Banyak wanita muda merasa tidak puas dengan terbatasnya pilihan hidup yang mereka miliki dan tekanan masyarakat yang mendorong mereka ke peran tradisional sebagai istri dan ibu.

Meski awalnya dilihat sebagai pembebasan, kebebasan seksual baru yang muncul di dekade ini sering kali justru mempertahankan struktur patriarki, menciptakan lanskap sosial yang penuh tantangan bagi wanita. Seiring waktu, semakin banyak wanita yang menyuarakan ketidakpuasan mereka terhadap norma-norma yang ada, baik yang lama maupun yang baru, dan mencari kebebasan yang lebih mendalam daripada sekadar janji revolusi seksual.

Baca Juga :  Ramadan, Musik Religi, dan Keabadian Musisi Favorit Generasi Milenial

Selian itu, ia juga memandang bahwa sebagai salah satu band paling berpengaruh di era 1960-an, Rolling Stones menjadi simbol pemberontakan anak muda yang mewakili semangat kebebasan baru. Musik, gaya hidup, dan citra mereka mencerminkan keinginan banyak anak muda untuk menentang norma-norma sosial, terutama yang berkaitan dengan seks dan hubungan.

Lagu-lagu seperti “Under My Thumb” dan “Stupid Girl” menunjukkan sikap maskulin yang menonjolkan dominasi laki-laki dan ketundukan perempuan, tampaknya memperkuat hierarki gender tradisional yang tersembunyi di balik kedok pemberontakan.

Anehnya, menjelang akhir 1960-an, Rolling Stones—bersama dengan banyak budaya anak muda yang didominasi laki-laki—mulai mendapat kritik dari gerakan feminis yang terus berkembang. Banyak wanita menilai penggambaran perempuan dalam lagu-lagu mereka sebagai bentuk pelanggengan stereotip yang justru ingin diubah.

Alih-alih memberdayakan perempuan, mereka melihat penggambaran ini sebagai perpanjangan dari patriarki yang mereka lawan. Band yang sebelumnya dianggap sebagai simbol kebebasan dan pemberontakan sekarang mulai dilihat sebagai pendukung norma-norma patriarki.

Meskipun ada kritik tersebut, sikap Rolling Stones terhadap peran gender sebenarnya tidak sesederhana itu. Beberapa lagu mereka memang mencerminkan dominasi pria atas wanita, tetapi di sisi lain, ada juga lagu-lagu yang menampilkan perempuan sebagai individu yang kuat dan mandiri.

Lagu seperti “She’s A Rainbow” dan “Ruby Tuesday” menggambarkan perempuan sebagai sosok yang memiliki kepribadian kompleks, mampu melampaui ekspektasi sosial, dan menjalani kehidupan sesuai dengan kehendak mereka. Lagu-lagu ini mengisyaratkan pandangan yang lebih setara dalam hubungan dan memberikan gambaran tentang kebebasan yang lebih luas, di mana perempuan dapat menjadi mitra yang sejajar, bukan subordinat.

Baca Juga :  Tentang Polemik Lagu Sukatani, Fadli Zon Anggap Tak Masalah Asal...

Ambivalensi Rolling Stones terhadap perubahan peran gender mencerminkan ketegangan budaya yang lebih besar di era 1960-an. Di satu sisi, mereka adalah produk zamannya, dengan sikap dan ekspektasi yang didominasi oleh norma laki-laki.

Di sisi lain, karya mereka juga kadang-kadang membuka jalan menuju visi masa depan di mana perempuan dapat bebas dari batasan-batasan tersebut. Musik mereka memberikan wawasan tentang kontradiksi di era yang penuh janji pembebasan, namun sering kali gagal mewujudkan kebebasan itu bagi semua orang.

Peran Rolling Stones dalam budaya anak muda tahun 1960-an mengungkapkan dinamika kompleks antara tradisi dan pembebasan dalam konteks peran gender. Meskipun dalam banyak lagu mereka terlihat mendukung subordinasi perempuan, mereka juga merayakan kemandirian dan kekuatan wanita dalam karya-karya tertentu.

Ambivalensi ini mencerminkan perjuangan yang lebih luas di era tersebut, ketika perempuan berupaya mendapatkan kesetaraan di tengah subkultur yang juga masih bergulat dengan kontradiksi internalnya. Warisan Rolling Stones mengingatkan bahwa ikon budaya sering kali lebih kompleks dari apa yang tampak di permukaan.

Follow WhatsApp Channel frensia.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Baca Lainnya

Ramadan, Musik Religi, dan Keabadian Musisi Favorit Generasi Milenial
Sukatani, Band Punk yang Diduga Diintimidasi Polisi, Ternyata Telah Diteliti Akademisi UNY
Dara Sarasvati Kembali Memukau dengan Menampilkan Busana Ratu Kidul
Sukatani Jadi Yang Ke-6, Masuk Musisi Tanah Air Yang Pernah Dicekal Pemerintah
Tentang Polemik Lagu Sukatani, Fadli Zon Anggap Tak Masalah Asal…
Faktor Fans Musik Hardcore Cenderung Vandalis? Pernah Diteliti Akademis ISI Yogyakarta
Diumumkan! 4 Personel Polisi Buntut Kasus Intimidasi Sukatani, Masih Direspon Buruk Warganet
Perayaan Sewindu KSBN, Stafsus Kementerian Komdigi Tampil Cantik dengan Kebaya Janggan

Baca Lainnya

Sabtu, 8 Maret 2025 - 03:50 WIB

Ramadan, Musik Religi, dan Keabadian Musisi Favorit Generasi Milenial

Minggu, 23 Februari 2025 - 18:22 WIB

Sukatani, Band Punk yang Diduga Diintimidasi Polisi, Ternyata Telah Diteliti Akademisi UNY

Minggu, 23 Februari 2025 - 11:54 WIB

Dara Sarasvati Kembali Memukau dengan Menampilkan Busana Ratu Kidul

Minggu, 23 Februari 2025 - 06:11 WIB

Sukatani Jadi Yang Ke-6, Masuk Musisi Tanah Air Yang Pernah Dicekal Pemerintah

Minggu, 23 Februari 2025 - 05:11 WIB

Tentang Polemik Lagu Sukatani, Fadli Zon Anggap Tak Masalah Asal…

TERBARU

Kolomiah

Lebaran yang Membumi

Rabu, 2 Apr 2025 - 23:14 WIB

Ilustrasi idul fitri 1446 H

Opinia

Lebaran: Subjek Bebas yang Memaafkan

Rabu, 2 Apr 2025 - 13:20 WIB