Frensia.id- Dapat diperlihatkan bagaimana untuk memperoleh kekuasaan, peralihan dari satu orde ke orde yang lain, ternyata tidak seperti apa yang diucapkan oleh Soekarno pada tanggal 17 Agustus 1945, yaitu “dengan cara seksama dan dengan tempo sesingkat-singkatnya”.
Tidak ada cara yang seksama untuk memperoleh kekuasaan. Seluruhnya sukar sekali, banyak tantangan dan harus menghadapi berbagai ancaman yang justru bisa menjadikan nyawa sendiri sebagai taruhannya.
Tidak pula dengan tempo sesingkat-singkatnya, tidak ada batasan waktu yang jelas, bisa saja seumur hidup bisa diperoleh atau tidak. Hal tersebut sangat tergantung lawan, kesempatan dan kecerdasan dalam menggunakannya.
Setiap tahun, tepatnya tanggal 11 maret, sejarah Indonesia mencatat, lewat ingatan-ingatan rakyat, sebuah peristiwa penting dalam perjalanan Indonesia pasca kolonial. Peralihan dari sebuah era ke era selanjutnya yang sama sekali berbeda dari sebelumnya. Dilakukan dengan benar-benar seksama dan tempo sesingkat-singkatnya, persis apa yang dikatakan oleh Soekarno sendiri.
Surat perintah sebelas maret yang dimaksudkan oleh Soekarno sebagai perintah pengendalian keamanan, termasuk pengendalian keamanan Presiden Soekarno dan keluarganya ternyata memuat makna lain yang sengaja disalah pahami.
Artinya dicarikan pemahaman lain yang memberi peluang keuntungan untuk dirinya sendiri, yaitu diri Soeharto. Makna yang ingin diucapkan oleh Soekarno tidak lagi dipatuhi, melainkan lewat struktur teks dipaksakakan mungkin ada makna lain.
Seperti pada frasa “mengambil segala tindakan yang dianggap perlu”. Kalimat tersebut tidak memberi batasan apa saja yang perlu dan sampai kapan, sehingga dengan begitu memungkinkan “yang dianggap perlu” dengan tafsir yang absolut, apapun itu bisa diperlukan.
Begitu pula terkait waktu, tidak ada pejelasan. Maka Soeharto sendiri sewaktu terjadi demo besar-besaran penolakan Taman Mini pada tahun 1972, ia masih saja menyebut Supersemar. Jelas sekali apa yang hendak dikatakan oleh Soekarno dalam surat tersebut, bukanlah peralihan kekuasaan. Karena maknanya ambigu maka Amir Mahmud yang membawa surat tersebut mengira adanya transfer kekuasaan.
Dengan surat tersebut Soeharto benar-benar menggunakannya untuk apapun sekiranya “yang dianggap perlu” mulai dari membubarkan PKI, menangkap 15 menteri pendukung Soekarno, memulangkan sekitar 4000 pasukan cakrabirawa yang loyal kepada Soekarno dan mengontrol media massa.
Tindakan-tindakan yang dilakukan oleh Soeharto tidak lain mempunyai arti penting untuk menghapuskan wilayah kekuasaan Soekarno dan mengarahkan satu-satunya kekuasaan ada pada pundaknya.
Benar sekali apa yang dikatakan oleh Gus Dur ketika memberi komentar tentang presiden yang telah berkuasa selama 32 tahun itu, “Pak Harto itu orang pintar, jasanya kepada Indonesia itu banyak meskipun dosanya pun juga besar”.
Dalam rekaman video yang lain Gus Dur pernah menyebut tingkat pendidikan Soeharto itu sangat rendah. Tetapi Jelas sekali segala upaya yang dilakukan oleh Soeharto menunjukkan kecerdasannya.
Dengan berani tanpa ragu hanya bermodalkan frasa ambigu tersebut, Soeharto telah mampu menutup arus kekuasaan dari Soekarno dan dialihkan kepada dirinya. Belum tentu siapapun orangnya mampu dan berani untuk memutar balikkan fakta hanya berdasarkan sepucuk surat yang mengandung satu kalimat potensial untuk diberi tafsir lain sesuai dengan ambisinya.
Supersemar hanyalah awal dari kemampuan Soeharto dalam mengkoordinir kekuasaan. Pada eranya, orde baru, ia pun piawai dalam menjalin hubungan dengan para kolega-koleganya demi menjamin tahtanya tetap berada dipundaknya dan perintah senantiasa muncul dari telunjuknya.
Persekutuannya dengan ABRI dan beralih ke Islam dibawah payung organisasi ICMI menunjukkan kalau sebenarnya Soeharto pandai dalam membaca situasi. Lagi-lagi tujuannya jelas untuk mempertahankan kekuasaan. Sehingga ia bisa menjabat selama waktu yang begitu lama tanpa terusik sedikitpun.