Supersemar dan Kecerdasan Soeharto

Rabu, 20 November 2024 - 06:54 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Soeharto dan Supersemar

Soeharto dan Supersemar

Frensia.id- Dapat diperlihatkan bagaimana untuk memperoleh kekuasaan, peralihan dari satu orde ke orde yang lain, ternyata tidak seperti apa yang diucapkan oleh Soekarno pada tanggal 17 Agustus 1945, yaitu “dengan cara seksama dan dengan tempo sesingkat-singkatnya”.

Tidak ada cara yang seksama untuk memperoleh kekuasaan. Seluruhnya sukar sekali, banyak tantangan dan harus menghadapi berbagai ancaman yang justru bisa menjadikan nyawa sendiri sebagai taruhannya.

Tidak pula dengan tempo sesingkat-singkatnya, tidak ada batasan waktu yang jelas, bisa saja seumur hidup bisa diperoleh atau tidak. Hal tersebut sangat tergantung lawan, kesempatan dan kecerdasan dalam menggunakannya.

Setiap tahun, tepatnya tanggal 11 maret, sejarah Indonesia mencatat, lewat ingatan-ingatan rakyat, sebuah peristiwa penting dalam perjalanan Indonesia pasca kolonial. Peralihan dari sebuah era ke era selanjutnya yang sama sekali berbeda dari sebelumnya. Dilakukan dengan benar-benar seksama dan tempo sesingkat-singkatnya, persis apa yang dikatakan oleh Soekarno sendiri. 

Surat perintah sebelas maret yang dimaksudkan oleh Soekarno sebagai perintah pengendalian keamanan, termasuk pengendalian keamanan Presiden Soekarno dan keluarganya ternyata memuat makna lain yang sengaja disalah pahami.

Artinya dicarikan pemahaman lain yang memberi peluang keuntungan untuk dirinya sendiri, yaitu diri Soeharto. Makna yang ingin diucapkan oleh Soekarno tidak lagi dipatuhi, melainkan lewat struktur teks dipaksakakan mungkin ada makna lain.

Baca Juga :  Percaya? Wong Jowo Terlibat Sejak Era Kolonial Dalam Bisnis Narkoba

Seperti pada frasa “mengambil segala tindakan yang dianggap perlu”. Kalimat tersebut tidak memberi batasan apa saja yang perlu dan sampai kapan, sehingga dengan begitu memungkinkan “yang dianggap perlu” dengan tafsir yang absolut, apapun itu bisa diperlukan.

Begitu pula terkait waktu, tidak ada pejelasan. Maka Soeharto sendiri sewaktu terjadi demo besar-besaran penolakan Taman Mini pada tahun 1972, ia masih saja menyebut Supersemar. Jelas sekali apa yang hendak dikatakan oleh Soekarno dalam surat tersebut, bukanlah peralihan kekuasaan. Karena maknanya ambigu maka Amir Mahmud yang membawa surat tersebut mengira adanya transfer kekuasaan.

Dengan surat tersebut Soeharto benar-benar menggunakannya untuk apapun sekiranya “yang dianggap perlu” mulai dari membubarkan PKI, menangkap 15 menteri pendukung Soekarno, memulangkan sekitar 4000 pasukan cakrabirawa yang loyal kepada Soekarno dan mengontrol media massa.

Tindakan-tindakan yang dilakukan oleh Soeharto tidak lain mempunyai arti penting untuk menghapuskan wilayah kekuasaan Soekarno dan mengarahkan satu-satunya kekuasaan ada pada pundaknya.

Benar sekali apa yang dikatakan oleh Gus Dur ketika memberi komentar tentang presiden yang telah berkuasa selama 32 tahun itu, “Pak Harto itu orang pintar, jasanya kepada Indonesia itu banyak meskipun dosanya pun juga besar”.

Baca Juga :  Cerita Alexander The Great kepada Aristoteles tentang Penjelajahannya di India

Dalam rekaman video yang lain  Gus Dur pernah menyebut tingkat pendidikan Soeharto itu sangat rendah. Tetapi Jelas sekali segala upaya yang dilakukan oleh Soeharto menunjukkan kecerdasannya.

Dengan berani tanpa ragu hanya bermodalkan frasa ambigu tersebut, Soeharto telah mampu menutup arus kekuasaan dari Soekarno dan dialihkan kepada dirinya. Belum tentu siapapun orangnya mampu dan berani untuk memutar balikkan fakta hanya berdasarkan sepucuk surat yang mengandung satu kalimat potensial untuk diberi tafsir lain sesuai dengan ambisinya.

Supersemar hanyalah awal dari kemampuan Soeharto dalam mengkoordinir kekuasaan. Pada eranya, orde baru, ia pun piawai dalam menjalin hubungan dengan para kolega-koleganya demi menjamin tahtanya tetap berada dipundaknya dan perintah senantiasa muncul dari telunjuknya.

Persekutuannya dengan ABRI dan beralih ke Islam dibawah payung organisasi ICMI menunjukkan kalau sebenarnya Soeharto pandai dalam membaca situasi. Lagi-lagi tujuannya jelas untuk mempertahankan kekuasaan. Sehingga ia bisa menjabat selama waktu yang begitu lama tanpa terusik sedikitpun.

Follow WhatsApp Channel frensia.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Baca Lainnya

Percaya? Wong Jowo Terlibat Sejak Era Kolonial Dalam Bisnis Narkoba
Geliat Kerajinan Sangkar Burung di Desa Dawuhan Mangli Jember, Mampu Bertahan Sejak Tahun 1955
Dua Periset UNIB Teliti K.H.R. Ach. Fawaid As’ad Situbondo, Ulama’ Politik Yang Menata Bangsa Dari Kehidupan Nyata
Akademisi UNESA Teliti Kasus Nenek Asyani, Dorong Perbaikan Hukum di Indonesia
Diteliti, Waly Al-Khalidy Berperan Besar dalam Desain Otoritas Agama di Aceh
Cerita Alexander The Great kepada Aristoteles tentang Penjelajahannya di India
Penelitian Unik, Temukan Jenis Kentut yang Dapat Hangatkan Bumi
Kakek Prabowo Disebut Akan Diajukan Sebagai Pahlawan Nasional, Berikut Rekam Sejarah Perannya

Baca Lainnya

Sabtu, 29 Maret 2025 - 04:57 WIB

Percaya? Wong Jowo Terlibat Sejak Era Kolonial Dalam Bisnis Narkoba

Jumat, 28 Februari 2025 - 17:02 WIB

Geliat Kerajinan Sangkar Burung di Desa Dawuhan Mangli Jember, Mampu Bertahan Sejak Tahun 1955

Minggu, 16 Februari 2025 - 11:31 WIB

Dua Periset UNIB Teliti K.H.R. Ach. Fawaid As’ad Situbondo, Ulama’ Politik Yang Menata Bangsa Dari Kehidupan Nyata

Minggu, 16 Februari 2025 - 05:07 WIB

Akademisi UNESA Teliti Kasus Nenek Asyani, Dorong Perbaikan Hukum di Indonesia

Minggu, 16 Februari 2025 - 04:42 WIB

Diteliti, Waly Al-Khalidy Berperan Besar dalam Desain Otoritas Agama di Aceh

TERBARU

Don Quixote, Tokoh fiksi karangan Miguel De Cervantes

Kolomiah

Kita Adalah Don Quixote yang Terhijab

Jumat, 4 Apr 2025 - 13:02 WIB

Kolomiah

Lebaran yang Membumi

Rabu, 2 Apr 2025 - 23:14 WIB