Frensia.id – Tiga lagu kritik Iwan Fals yang terkenal, yakni “Tikus-Tikus Kantor,” “Ambulans Zig-Zag,” dan “Suara Buat Wakil Rakyat,” baru saja diteliti oleh Zalsa Pramudya Wiyanti, seorang akademisi dari Universitas Padjadjaran (UNPAD).
Penelitian ini, yang diterbitkan pada 2024, memfokuskan pada peran musik protes Iwan Fals sebagai medium kritik terhadap rezim Orde Baru. Meskipun lagu-lagu tersebut memiliki kontribusi dalam membangun opini dan semangat gerakan sosial, hasil riset menunjukkan bahwa lagu-lagu ini tidak bisa dikategorikan sebagai bagian dari gerakan sosial baru.
Menurut Zalsa, meskipun musik protes Iwan Fals dapat dikatakan sebagai bentuk perlawanan simbolik, hal ini tidak memenuhi kriteria gerakan sosial baru. Pada masa Orde Baru yang represif, perlawanan terhadap pemerintah lebih banyak dilakukan secara tersembunyi, salah satunya melalui musik yang menjadi bentuk perlawanan simbolik.
Dalam konteks ini, Iwan Fals menggunakan lagu-lagunya sebagai sarana untuk mengekspresikan kritik terhadap ketidakadilan sosial dan korupsi yang terjadi di pemerintahan, dengan bahasa yang mudah dipahami oleh masyarakat luas.
Beberapa simbol yang digunakan dalam lagu-lagu Iwan Fals, seperti “tikus kantor” dan “kucing,” mengacu pada pejabat korup dan pengawas yang terlibat dalam praktik-praktik tersebut. Sementara itu, simbol lain seperti “ambulans” dan “helicak” menggambarkan kesenjangan sosial dalam layanan publik, seperti fasilitas rumah sakit yang tidak memadai untuk rakyat.
Selain itu, bahasa yang sinis dan tegas digunakan Iwan Fals untuk menyuarakan ketidakpuasannya terhadap keadaan sosial yang timpang.
Namun, meskipun lagu-lagu kritik ini memiliki dampak dalam membangkitkan semangat gerakan sosial, peneliti menilai bahwa mereka tidak membentuk pola perlawanan sosial baru.
Gerakan sosial baru sendiri, menurut penelitian ini, melibatkan aksi kolektif dengan tujuan bersama yang mengarah pada perubahan sosial melalui solidaritas dan identitas kolektif. Lagu-lagu Iwan Fals, meskipun mengangkat isu-isu penting seperti korupsi dan ketidakadilan sosial, tetap merupakan bentuk kritik individu yang tidak disertai dengan aksi kolektif.
Penelitian ini menunjukkan bahwa meski musik protes Iwan Fals berfungsi untuk menyatukan perasaan, membangun opini, dan memberi inspirasi bagi gerakan sosial, ia tidak memenuhi ciri khas aksi kolektif yang menjadi dasar gerakan sosial baru.
Musik protes ini lebih berperan sebagai alat untuk mengganggu pemerintah dan memberikan kritik, mirip dengan karakteristik gerakan sosial baru yang mengangkat isu nonmaterialistik dan menggunakan taktik yang disruptif. Namun, perlawanan ini tetap tidak terjadi dalam bentuk aksi bersama yang terorganisir.
Meskipun penelitian ini memiliki keterbatasan—terutama dalam hal ruang lingkup, objek penelitian, dan kendala wawancara dengan Iwan Fals yang tidak dapat dilakukan karena jadwal tur—temuan yang dihasilkan tetap memberikan wawasan yang menarik tentang bagaimana musik Iwan Fals berfungsi sebagai media kritik sosial.
Ketiga lagu tersebut tetap relevan untuk dibahas, mengingat tema-tema yang diangkat masih bersinggungan dengan kondisi sosial-politik yang ada.