Frensia.id -Kelahiran seorang anak dalam kehidupan keluarga merupakan suatu anugerah dari Yang Maha Kuasa.
Layaknya sebuah hadiah yang diberikan, orang tua berkewajiban untuk berterima kasih, bersyukur, memelihara dan menjaga pemberian tersebut dengan baik.
Selain itu, setiap orang tua tentu menginginkan anak tumbuh berkembang dengan sempurna, selalu diberi kesehatan, berketerampilan, pandai dan beriman.
Untuk mencapai kesemuanya itu, orang tua yang paling bertanggung jawab untuk mendidik dan mengasuhnya dengan baik dan benar.
Yuni Aryanti dalam penelitiannya, “Peran Ayah dalam Pengasuhan Anak Usia Dini”, mengungkapkan bahwa pengasuhan secara pihak oleh ibu bukanlah cara yang tepat.
Penelitian yang diterbitkan dalam Jurnal Pendidikan Dompet Dhuafa Vol.7 No.1 Mei 2017, Sekolah Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia itu juga menegaskan model pengasuhan bersama (coparenting) merupakan model ideal untuk mengoptimalkan tumbuh kembang anak.
Dalam pengasuhan bersama, anak belajar banyak hal secara berbeda dari ayah dan ibu. Dari ibu, anak dapat belajar kelembutan, control emosi, dan kasih sayang. Sementara pada ayah, anak akan belajar ketegasan, sifat maskulin, kebijaksanaan, keterampilan kinestetik dan kemampuan kognitif.
Oleh karena itu, Aryanti berpendapat bahwa sudah selayaknya seorang ayah tidak hanya bertanggung jawab secara primer terhadap finasial keluarga, melainkan juga ikut berperan aktif secara positif pada pengasuhan anak.
Hal tersebut disebabkan seorang ayah turut memberikan kontribusi penting bagi perkembangan anak, pengalaman yang dialami bersama ayah akan terus mempengaruhi anak hingga ia dewasa.
Ayah yang menjalankan peran pengasuhan secara optimal sangat besar mempengaruhi perkembangan anak. Kelekatan dan hubungan emosional yang diberikan oleh ayah sangat berdampak pada perkembangan kognisi atau kecerdasan anak yang lebih baik serta akan memiliki kompetensi sosial atau lebih mudah menyesuaikan diri masyarakat dan lingkungan sekitar.
Lebih lengkapnya, Aryanti mengungkap 4 (empat) dampak keterlibatan pengasuhan Ayah
Pertama, perkembangan kognitif. Bayi yang menerima pengasuhan dari ayah akan menunjukkan kemampuan kognitifnya pada usia 6 (enam) bulan sampai 1 (satu). Bahkan, pada usia 3 tahun, umumnya seorang anak yang memiliki dekat dengan ayah akan menunjukkan tingkat intelegensi lebih tinggi dari seusianya.
Hal ini dikarenakan, dibandingkan seorang ibu yang lebih pada perhatian dan pujian-pujian, pola pembicaraan ayah yang lebih sering pada pertanyaan yang akan berdampak anak akan lebih komunikatif dalam berinteraksi serta menggunakan kosakata dan kalimat yang lebih bervariasi.
Sehingga pada perkembangan ilmu pengasuhan (parenting) hari ini para pakarnya menyebutkan anak-anak yang terlambat bicara merupakan dampak dari seorang ayah yang kurang aktif dalam pengasuhan.
Kedua, perkembangan emosi dan kesejahteraan psikologis. Kehangatan hubungan yang ditunjukkan ayah akan mempengaruhi kepuasan hidup, kebahagiaan, penyesuaian diri, serta pembentukan konsep diri dan harga diri.
Ketiga, perkembangan sosial. Keterlibatan ayah dalam pengasuhan secara positif berkorelasi dengan kompetensi, inisiatif, dan kematangan sosial.
Di usia 3 tahun, seorang anak yang memiliki kedekatan dengan ayah, akan menunjukkan prososial, atau mudah bersosialisai dengan orang lain. Serta saat menginjak remaja akan memiliki interaksi yang minimal konflik dengan teman sebayanya.
Keempat, kesehatan fisik. Ayah secara tidak langsung berperan terhadap keseharan fisik dan kesejahteraan psikologis anak, ketika memberikan dukungan terhadap pasangannya (istrinya). Sehingga Aryanti menyimpulkan anak-anak yang tidak tinggal Bersama ayah, sebagian besar akan mengalami kesehatan.