Frensia.id- Sebagai seorang cendekiawan terkemuka dalam berbagai bidang keilmuan, sosok Al-Ghazali tidak diragukan lagi pengaruhnya dalam mewarnai khazanah keislaman dengan coraknya yang khas.
Sosok yang memperoleh gelar sebagai Hujjatul Islam ini juga mendapatkan banyak predikat berdasarkan kepakaran yang ia miliki, mulai dari mutakallimin, filsuf, ahli tasawuf. Kemampuannya dalam menguasai berbagai bidang studi, memberikan pandangan-pandangan yang lua terhadap objek kelimuan itu sendiri dengan sudut pandang yang berbeda.
Salah satunya adalah tinjauannya tentang tauhid yang ia rumuskan berdasarkan kacamata tasawuf falsafi. Konsep ini berbeda sekali dengan apa yang diutarakan oleh para sarjana teologi Islam dalam menjelaskan keesaan Allah SWT.
Pengarang kitab Ihya’ Ulumiddin ini mengklasifikasikan tauhid ke dalam 4 macam. Hal tersebut didasarkan pada tingkatan status dari seorang hamba di hadapan Allah SWT.
Pertama, tauhidnya orang munafik. Yaitu mereka yang lidahnya berucap Lailahailallah sementara hatinya lalai akan maknanya atau malah mengingkarinya.
Kedua, tauhidnya orang awam. Yaitu seseorang yang mengakui dengan hatinya akan makna Lailahailallah, sebagaimana yang diakui dan dibenarkan oleh kebanyakan umat Islam pada umumnya.
Ketiga, tauhidnya orang Muqarrabin. Yaitu seseorang yang menyaksikan pada makna kalimat Lailahailallah dengan hatinya tentang keesaan Allah dengan jalur kasyaf, lewat perantaraan cahaya Al-Haq. Dengan cara ini, orang yang pada tingkatan muqarrabin melihat banyak hal tetapi sebenarnya yang mereka lihat dalam kejamakan itu adalah sesuatu yang terlahir dari yang esa dan maha kuasa.
Keempat, tauhidnya orang-orang Shidiq. Yaitu seseorang yang sudah tidak lagi melihat dalam wujud apapun selain wujud yang maha esa. Kalangan Sufi menyebutnya “fana dalam tauhid“. Dalam kondisi seperti ini, seseorang yang telah mencapai tingkatan tertinggi dalam bertauhid maka tidak ada yang terlihat, bahkan diri mereka sendiri. Hal ini dikarenakan mereka telah tenggelam dalam lautan tauhid.
Mudahnya dalam memberikan gambaran terhadap klasifikasi tauhid sebagaimana digagas oleh Al-Ghazali dapat dilihat dengan perumpamaan kacang. Tingkatan pertama adalah kulit luarnya, tingkatan kedua adalah kulit dalamnya, tingkatan ketiga adalah kacang itu sendiri sedangkan untuk tingkatan keempat atau puncaknya adalah lemak dan protein dari kacang.
Tauhid sebagai sebuah konsep yang membahas mengenai ihwal keesaan Allah sebenarnya menjadi bidang pembahasan ilmu Kalam. Akan tetapi, menjadi berbeda secara drastis setelah mendapatkan tilikan lewat sudut pandang tasawuf falsafi.







