Ada 3 Diskriminasi Pada Novel Pramoedya Ananta Toer, “Rumah Kaca”

Tuesday, 30 July 2024 - 19:32 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Gambar Ada 3 Diskriminasi Pada Novel Pramoedya Ananta Toer, “Rumah Kaca” (Ilustrasi: Istimewa/Mashur Imam)

Gambar Ada 3 Diskriminasi Pada Novel Pramoedya Ananta Toer, “Rumah Kaca” (Ilustrasi: Istimewa/Mashur Imam)

Frensia.id- Ada 3 macam diskriminasi pada novel karya Pramoedya Ananta Toer, “Rumah Kaca”. Karya fenomenal tokoh sastrawan tersohor Indonesia ini menjadi banyak memikat hari pencinta novel yang tertarik pada narasi-narasi perjuangan.

Novel setebal 646 ini dianggap sebagai penutup karya “Tetralogi Buruh” yang ditulis oleh Pramoedya. Dari beberapa 3 novel sebelumnya yang berjudul, “Bumi Manusia”, “Anak Semua Bangsa” dan Jejak Langkah”, narasi dalam cerita novel ini cukup menarik.

Pasalnya, walaupun sama memakai latar kolonial Belanda, Minke atau Tirto Adhi Soerjo dalam tokoh sebelumnya sudah tak lagi ada. Tokoh utamanya berganti pada Jacques Pangemanann, seorang polisi kolonial Belanda.

Sebab itu juga, sudut pandang diskriminasi yang diceritakan dalam setiap penggal kisahnya lebih terasa. Tindakan intimidasi dan pengawasan melalui program rumah kaca pada tokoh nasional, Minke, lebih terasa.

Hal demikian yang mendorong Depri Ajopan dan dua rekannya yang sama dari Program Studi Sastra Indonesia Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Padang (UNP), Indonesia tertarik menelitinya. Ia berupaya menganalisis bentuk diskriminasi dalam kisah yang dituangkan oleh Pramoedya dalam novel tersebut.

Baca Juga :  Luapan Sungai Gerus Plengsengan di Sempu Banyuwangi, Nyaris Hantam Bangunan Warga

Temuan penelitiannya telah dituangkan dalam sebuah jurnal. Pada tahun 2017, telah diterbitkan dalam Jurnal Bahasa dan Sastra UNP. Di riset tersebut mereka menyimpulkan bahwa setidaknya ada bentuk diskriminasi yang diungkap.

Diskriminasi Ras

Minke merupakan tokoh yang dapat dianggap sebagai kalangan pembesar Pribumi. Sosok berpengaruh dari ras lokal yang dianggap ancaman oleh kolonial.

Diskriminasi yang dilakukan kolonial sangat parah. Dikisahkan Minke mendirikan sekolah dan sayangnya, orang pribumi dilarang belajar di Lembaga tersebut.

Diskriminasi Gender

Dalam novel juga ada kisah tentang Suurhof dan Rintje de Roo. Suurhof meminta perempuan pelacur bertarif mahal secara arogan.

Perintahnya ini untuk menjebak Pangemanan, komisaris besar itu, saat ada pertemuan di rumah Rintje de Roo di Kwitang. Begitu Pangemanan datang, Rintje de Roo langsung mempersilakannya masuk. Dia bermuka manis dan siap melayani sesuai perintah Suurhof.

Baca Juga :  Diminati Masyarakat Internasional, Fakultas Dakwah UIN KHAS Sambut Kedatangan Mahasiswa dari 5 Negara

Tanpa basa-basi, dia langsung duduk di pangkuan tuan komisaris besar itu. Tetapi Pangemanan tidak mau tertipu.

Kisah ini memberikan kesan perempuan sebagai penghibur. Ada sisi yang terkesan merendahkan dalam kisah tersebut.

Diskriminasi Elit

Ada bentuk diskriminasi elit dalam penggalan kisah novel “Rumah Kaca”. Salah satunya, adalah ketika masyarakat biasa yang mendapatkan larangan dari Gubermen untuk mengenyam pendidikan.

Bahkan ada narasi yang tampak mengisahkan fenomena diskriminasi dari kaum elit pada kelas ekonomi lemah. Bagi orang lemah yang menghadap masalah, tidak akan pernah diurus oleh hukum.

“..Dengarkan baik-baik, karena ini perjanjian: kalau terjadi sesuatu atas dirimu dan anak buahmu, hukum takkan mengurus. Mengerti? apa masih perlu diulangi”,  tulis Pramoedya pada novel Rumah Kaca halaman 22.

Follow WhatsApp Channel frensia.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Baca Lainnya

KKN Kolaboratif Desa Sidomulyo-Semboro Jember Dorong Pengelolaan Sampah melalui Pemilahan dan Budidaya Maggot
UIN KHAS Jember Adakan Diklat Kepemimpinan Ormawa, Bekali Mahasiswa Kemampuan Kelola Organisasi
Polije Perkuat Kolaborasi Global Lewat WFK-ICT 2026, Gaet 9 Politeknik se-Indonesia
Amat Serius! Kuatkan Kapasitas Dosen, Fakultas Dakwah UIN KHAS Gelar Short Course PAR Di Kongsi Tengah
Pria Lansia 60 Tahun Meninggal Saat Bantu Nelayan Dorong Perahu di Pantai Kompit Banyuwangi
Pengukuhan Guru Besar Prof Hamdanah Soroti Urgensi Kelembagaan Pendidikan Islam Berkeadilan Gender
Morula IVF Gandeng RSI Fatimah Banyuwangi, Perkuat Layanan Fertilitas
Akademisi Hukum UIN KHAS Sebut Program Homecare Pemkab Jember Mudahkan Akses Kesehatan Warga Kurang Mampu

Baca Lainnya

Monday, 17 August 2026 - 14:25 WIB

KKN Kolaboratif Desa Sidomulyo-Semboro Jember Dorong Pengelolaan Sampah melalui Pemilahan dan Budidaya Maggot

Saturday, 15 August 2026 - 18:55 WIB

UIN KHAS Jember Adakan Diklat Kepemimpinan Ormawa, Bekali Mahasiswa Kemampuan Kelola Organisasi

Friday, 14 August 2026 - 23:08 WIB

Polije Perkuat Kolaborasi Global Lewat WFK-ICT 2026, Gaet 9 Politeknik se-Indonesia

Friday, 14 August 2026 - 19:38 WIB

Amat Serius! Kuatkan Kapasitas Dosen, Fakultas Dakwah UIN KHAS Gelar Short Course PAR Di Kongsi Tengah

Friday, 14 August 2026 - 18:44 WIB

Pria Lansia 60 Tahun Meninggal Saat Bantu Nelayan Dorong Perahu di Pantai Kompit Banyuwangi

TERBARU

BPBD Jember, saat mendistribusikan air bersih di wilayah yang terdampak kekeringan (Foto: Humas BPBD Jember).

News

BPBD Jember Catat 922 KK Terdampak Kekeringan di 7 Kecamatan

Wednesday, 19 Aug 2026 - 21:26 WIB

Discover more from Frensia

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading