Frensia.id- Wacana perempuan menjadi isu penting yang diangkat dalam novel “Bumi Manusia” Karya Paramoedya Ananta Toer. Perempuan diposisikan pada situasi yang kompleks di era kolonial.
Dari sekian banyak karya, “Bumi Manusia” adalah karya Pramoedya yang sangat eksotis dan mengisahkan sengkarut konflik sosial era kolonial. Selain ditulis dari bilik jeruji besi, saat sang penulis ditawan Pulau Buru, buku ini telah terbit dalam banyak bahasa.
Di Indonesia, meledak kembali sejak diterbitkan oleh Lentera Dipantara dan bahkan beberapa tahu yang lalu telah difilmkan. Tak main-main, yang garap adalah Hanung Bramantyo, sutradara hebat yang memiliki segudang prestasi.
Selain keseksian riwayat kepopulerannya, ternyata karya Pramoedya ini dianggap sebagai salah saru novel yang mengungkap perdebatan wacana perempuan era kolonial. Penggal demi penggal kisahnya membuka tabir wacana pertentangan perempuan saat Indonesia dikuasai Belanda.
Berdasar pembacaan Frensia.id pada novel, ada banyak percakapan tokoh yang mengungkap posisi perempuan kala itu. Terkait akan dibahas secara terperinci, satu persatu setiap percakapan yang ditemukan.
Percakapan Minke dan Suurhof
“Hai, philogynik, mata keranjang, buaya darat, mana haremmu?”
“Rupa-rupanya kau masih anggap aku sebagai Jawa yang belum beradab.”“
“Mana ada Jawa, bupati pula, bukan buaya darat?”
Percakapan di atas, memosisikan perempuan sebagai hal yang pasti ada dalam kekuasaan. Mereka yang berkuasa di Jawa tampaknya lumrah memiliki simpanan yang setiap dapat menjadi pemuas seksualitas para pejabat.
Minke Di Rumah Nyai Ontosoroh
“Tak mungkin yang demikian terjadi pada majikan Pribumi: dia harus menunduk, menunduk terus. Dan alangkah indah kehidupan tanpa merangkak-rangkak di hadapan orang lain”
Narasi di atas, memperlihatkan perempuan selalu tunduk dan menyembah penguasanya. Perkataan Minke ini dapat dianggap sebagai pandangan miring pada budaya pribumi Jawa yang dianggap diskriminatif.
Nyai Ontosoroh Tentang Perempuan Bekerja
“Kau heran melihat perempuan bekerja?”
Pertanyaan di atas dari nyai Ontosoroh pada Minke. Menanggapi pertanyaan itu, Minke mengangguk heran. Narasi kisah ini memperlihatkan sejak awal akses perempuan di Jawa telah besar dan tidak seperti budaya kolonial yang cenderung diskriminatif.
Keheranan Minke Pada Sosok Nyai
“Nyai apa pula di sampingku ini”
Perkataan Minke terjadi saat ia terheran pada sosok Nyai Ontosoroh. Baginya perempuan sepertinya langkah. Bisanya didiskriminasi dan lemah, namun ia memiliki kesadaran dan posisi sosial yang tak biasa.
Nyai Ontosoroh baginya adalah sosok yang mulya. Jadi sosok Nyai dalam budaya pribumi menandakan ada kalangan perempuan yang kuat dalam masyarakat Jawa.
Perempuan Melawan Untuk Kehormatan
“Kita telah melawan, Nak, Nyo, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya.”
Pernyataan di atas, keluar sosok perempuan hebat dalam novel Bumi Manusia. Hal demikian memperlihatkan bahwa latar kisah novel tentang organisasi semacam Poetri Mardika (1912) dan Isteri Sedar (1930)adalah bagian dari gairah perempuan yang melawan.
Perempuan yang melawan dalam novel ini tidak dibahasakan sebagai pembangkangan. Akan tetapi untuk sebesar-besarnya dilakukan dengan sangat terhormat. (*)