Frensia.Id- Buku berjudul “Santriducaton”, cukup menarik untuk dibaca para peneliti dan pengelola pesantren. Karya M. Nawa Syarif Fajar Sakti ini mempertemukan santri pada perkembangan industri dewasa ini.
Fajar Sakti mengurai seluruh perkembangan industri merupakan sebuah keniscayaan yang tak mungkin dihindari. Terpisahnya nitizen sebagai realitas baru perkembangan industri telah berpisah pada citizennya.
Ruang kontestasi dan kebutuhan pada pendidikan pun mulai beralih. Ruang publik baru dan arus perkembangan dianggap telah berganti jalur.
Pada konteks realitas pertumbuhan industri teknologi yang pesat ini, pendidikan pesantren benar-benar memiliki tantangan yang besar. Jika tidak pandai menformat pendidikan untuk para santri, akan pelan-pelan peranya melemah di masyarakat.
Kekhawatiran yang mendalam dari fenomena demikian, membuat Fajar Sakti menulis buku dengan judul, Santriducation. Isinya untuk memberikan pandangan pada dalam merekatkan kompetensi santri pada kebutuhan dan masalah pertumbuhan industri.
Baginya, setidaknya, sebagaimana fungsi lembaga pendidikan pada umumnya, ada lima hal perlu dilakukan oleh pesantren. Keempatnya adalah kompetensi dalam memecahkan masalah (problem solving), beradaptasi dengan perubahan (adaptability), bekerja secara kolaboratif (collaboration), memperkuat jiwa kepemimpinan (leadership), serta memiliki kreativitas dan inovasi (creativity and innovation).
Untuk mewujudkan keterampilan-keterampilan ini, diperlukan pendidikan yang memahami revolusi industri 4.0 dengan baik. Hal ini juga berlaku untuk pesantren, yang perlu menyesuaikan metode dan kurikulum mereka agar dapat membekali santri dengan kompetensi yang relevan dengan era digital dan global saat ini.
Karyanya telah memberikan ilustrasi hebat tentang kondisi global dan revolusi industri saat ini dari perspektif pendidikan. Ia berupaya mengungkap seluruh tantangan dan peluang yang dihadapi oleh pondok pesantren dalam menghadapi perubahan zaman di abad ke-21.
Ia memandang bahwa setiap individu dan lembaga pesantren sudah saat memulai dengan menyusun kesepakatan yang sama. Strategi dan persiapan telah sangat dibutuhkan agar sumber dayanya mampu menghasilkan mutu sesuai yang dibutuhkan.
Tujuannya, tentu adalah terbentuknya santri milenial dapat menjadi aktor aktif (fa’il) dalam era digital yang sedang berkembang. Agar tidak digilis arus modernisasi karena hanya jadi objek pasif (maf’ul).
Untuk itu, sudah saatnya pesantren berperan aktif dalam mempersiapkan generasi yang siap bersaing dan berkontribusi secara positif di tengah dinamika globalisasi dan kemajuan teknologi. Pesantren harus berani berubah, sebab itu adalah pangkal terjadinya kemajuan.
Buku yang telah diterbitkan oleh Elex Media Komputindo pada 2020 lalu ini tampak menekankan agar santri mampu beradaptasi dan bergerak menuju perubahan. Pesantren tidak bisa berdiam diri menghadapi perubahan yang terus-menerus terjadi.