Frensia.id-Rolling Stones memang kental dengan kondisi sosial. Karya-karyanya tak terpisah dari problematika masyarakat kala itu, termasuk dinamika feminis dan gender di Eropa.
Salah satu peneliti yang melihat dinamika demikian adalah Andrew Agustus. Temuan kajiannya telah diterbitkan dalam Taylor and Francis pada tahun 2009 lalu.
Ia melihat bahwa Tahun 1960-an merupakan dekade perubahan sosial besar-besaran di Inggris, di mana budaya anak muda menjadi pusat perhatian. Di tengah-tengah pergeseran ini, banyak wanita mulai menentang peran tradisional mereka dengan mencari pendidikan, pekerjaan, dan kebebasan pribadi yang lebih besar.
Namun, meskipun subkultur tahun 1960-an menjanjikan kebebasan dan kemajuan, sering kali justru memperkuat norma-norma yang ada. Rolling Stones, sebagai ikon utama budaya anak muda pada masa itu, mencerminkan ketegangan antara tradisi dan pembebasan, terutama dalam penggambaran mereka terhadap perempuan dan peran gender.
Menurutnya, gerakan pembebasan wanita mulai menguat pada akhir 1960-an, menjadi titik penting dalam perjuangan kesetaraan gender. Banyak wanita muda merasa tidak puas dengan terbatasnya pilihan hidup yang mereka miliki dan tekanan masyarakat yang mendorong mereka ke peran tradisional sebagai istri dan ibu.
Meski awalnya dilihat sebagai pembebasan, kebebasan seksual baru yang muncul di dekade ini sering kali justru mempertahankan struktur patriarki, menciptakan lanskap sosial yang penuh tantangan bagi wanita. Seiring waktu, semakin banyak wanita yang menyuarakan ketidakpuasan mereka terhadap norma-norma yang ada, baik yang lama maupun yang baru, dan mencari kebebasan yang lebih mendalam daripada sekadar janji revolusi seksual.
Selian itu, ia juga memandang bahwa sebagai salah satu band paling berpengaruh di era 1960-an, Rolling Stones menjadi simbol pemberontakan anak muda yang mewakili semangat kebebasan baru. Musik, gaya hidup, dan citra mereka mencerminkan keinginan banyak anak muda untuk menentang norma-norma sosial, terutama yang berkaitan dengan seks dan hubungan.
Lagu-lagu seperti “Under My Thumb” dan “Stupid Girl” menunjukkan sikap maskulin yang menonjolkan dominasi laki-laki dan ketundukan perempuan, tampaknya memperkuat hierarki gender tradisional yang tersembunyi di balik kedok pemberontakan.
Anehnya, menjelang akhir 1960-an, Rolling Stones—bersama dengan banyak budaya anak muda yang didominasi laki-laki—mulai mendapat kritik dari gerakan feminis yang terus berkembang. Banyak wanita menilai penggambaran perempuan dalam lagu-lagu mereka sebagai bentuk pelanggengan stereotip yang justru ingin diubah.
Alih-alih memberdayakan perempuan, mereka melihat penggambaran ini sebagai perpanjangan dari patriarki yang mereka lawan. Band yang sebelumnya dianggap sebagai simbol kebebasan dan pemberontakan sekarang mulai dilihat sebagai pendukung norma-norma patriarki.
Meskipun ada kritik tersebut, sikap Rolling Stones terhadap peran gender sebenarnya tidak sesederhana itu. Beberapa lagu mereka memang mencerminkan dominasi pria atas wanita, tetapi di sisi lain, ada juga lagu-lagu yang menampilkan perempuan sebagai individu yang kuat dan mandiri.
Lagu seperti “She’s A Rainbow” dan “Ruby Tuesday” menggambarkan perempuan sebagai sosok yang memiliki kepribadian kompleks, mampu melampaui ekspektasi sosial, dan menjalani kehidupan sesuai dengan kehendak mereka. Lagu-lagu ini mengisyaratkan pandangan yang lebih setara dalam hubungan dan memberikan gambaran tentang kebebasan yang lebih luas, di mana perempuan dapat menjadi mitra yang sejajar, bukan subordinat.
Ambivalensi Rolling Stones terhadap perubahan peran gender mencerminkan ketegangan budaya yang lebih besar di era 1960-an. Di satu sisi, mereka adalah produk zamannya, dengan sikap dan ekspektasi yang didominasi oleh norma laki-laki.
Di sisi lain, karya mereka juga kadang-kadang membuka jalan menuju visi masa depan di mana perempuan dapat bebas dari batasan-batasan tersebut. Musik mereka memberikan wawasan tentang kontradiksi di era yang penuh janji pembebasan, namun sering kali gagal mewujudkan kebebasan itu bagi semua orang.
Peran Rolling Stones dalam budaya anak muda tahun 1960-an mengungkapkan dinamika kompleks antara tradisi dan pembebasan dalam konteks peran gender. Meskipun dalam banyak lagu mereka terlihat mendukung subordinasi perempuan, mereka juga merayakan kemandirian dan kekuatan wanita dalam karya-karya tertentu.
Ambivalensi ini mencerminkan perjuangan yang lebih luas di era tersebut, ketika perempuan berupaya mendapatkan kesetaraan di tengah subkultur yang juga masih bergulat dengan kontradiksi internalnya. Warisan Rolling Stones mengingatkan bahwa ikon budaya sering kali lebih kompleks dari apa yang tampak di permukaan.