Frensia.id – Al-Qur’an sebagai refrensial otoritatif umat Islam diturunkan Oleh Allah swt kepada umat Nabi Muhammad saw sebagai kitab suci, petunjuk yang mengandung keberkahan.
Membacanya adalah ibadah dan menjadikannya rujukan adalah pangkal keselamatan hidup.
Membaca al-Qur’an bisa dilakukan dengan sendiri namun juga bisa dilakukan dengan bersama-sama. Membaca al-Qur’an yang dilakukan dengan bersama ini lazim disebut dengan tadarus.
Tadarus al-Qur’an minimal harus dilakukan oleh dua orang atau lebih. Jika hanya dilakukan seorang saja tidak dapat disebut tadarus, karena istilah ini menuntut adanya keterlibatan lebih dari satu orang.
Dilansir dari Frensia.id Rasulullah saw lebih banyak membaca al-Qur’an daripada malam-malam lainnya. Para sahabat juga di bulan ramadhan lebih fokus memperbanyak membaca al-Qur’an.
Bahkan dalam sebuah hadist, Ibn Abbas RA berkata disebutkan bahwa Jibril selalu menjumpai Beliau di setiap malam dari bulan Ramadhan, lalu keduanya bertadarus Al-quran.
H. Zamakhsyari bin Hasballah Thaib dalam risetnya Tadarus Alquran: Urgensi, Tahapan, dan Penerapannya mengungkapkan terdapat empat hierarki etape bertadarus.
Keempat tahapan itu yaitu pertama bertadarus dengan cara saling membaca dan menyimak bersama Ayat-ayat suci Alquran.
Tahapan Kedua, bertadarus dengan saling mencoba memahami ayat yang dibaca dan didengar, dengan minimal merujuk pada terjemahan tafsirnya.
Tahapan Ketiga bertadarus dengan saling bertukar pandangan dan pemahaman hasil dari tadabbur terhadap ayat yang dibaca dan didengar.
Tahapan Keempat bertadarus dengan saling mengingatkan untuk mengamalkan dan mempraktekkan pesan dan pelajaran yang diambil dari Alquran.
Tata cara tadarus yang baik dan benar sudah dilakukan Rasulullah saw dan para sahabatnya. Mereka di setiap saat dan waktu senantiasa berdiskusi tentang makna dan pesan dari ayat yang dibaca.
Hal ini tentu lebih bagus dari pada tadarus yang hanya fokus pada kuantitas banyaknya bacaan atau mengejar akumulasi jumlah hataman. Artinya tadarus seperti yang lazim dimasyarakat yang hanya fokus pada bacaan tajwid dan makharijul huruf tetap harus dilazimkan.
Terus berlomba-lomba membaca al-Qur’am yang banyak dengan memerhatikan aspek tajwid, tilawah dan mahrojnya.
Namun perlu juga ada tadarus atau lingkaran khusus yang mengkaji aspek makna dan pesan dari Al-Qur’an. Sehingga tercipta pemahaman yang utuh dan perilaku yang Qur’ani.