Frensia.id- Hantu hingga saat ini masih dipercaya oleh masyarakat, terutama di Indonesia dan Malaysia. Keberadaannya ada yang menganggap mitos dan ada yang menganggapnya fakta. Untuk membuktikannya, perlu melakukan riset agar tergambar secara objektif dan rasional.
Geertz menjelaskan bahwa kepercayaan terhadap hantu adalah kepercayaan masyarakat awam. Bukan sebagai pengetahuan dan tidak dikaji secara kokoh.
Nasrullah menulis riset berjudul, “Hantu Di Tengah Keramaian Kota Banjarmasin” dan terbit pada jurnal UIN Antasari pada tahun 2018. Isinya menjelaskan bahwa Keberadaan hantu dalam imajinasi manusia sering kali dipicu oleh nalar awam dan mitos yang terus berkembang.
Selain itu, ada penjelasan yang lebih rinci, yakni dalam penelitian berjudul, “The belief in hantu in the Malay culture from the perspective of Islam“. Penelitian yang ditulis oleh Mohd. Zuhdi Amin, dan teman-temannya ini terbit pada tahun 2014 di Online Journal of Research in Islamic Studies.
Hasil temuannya menjelaskan mitos hantu dalam masyarakat Melayu. Hantu dianggap sebagai manifestasi jiwa jahat yang ingin menyakiti manusia. Hal demikian berhubungan dengan keberadaan jiwa atau “semangat” dalam segala sesuatu, termasuk tubuh manusia.
Awalnya kepercayaan tersebut asa pada masyarakat yang menganut animisme. Pada perkembangannya, walau masyarakat Melayu telah memeluk Islam, kepercayaan demikian tidak hilang sepenuhnya. Sebab Islam memiliki ajaran yang mirip. Ummat Muslim mempercayai jin, setan dan konsep abadi jiwa manusia di akhirat.