Frensia.id- Buku IWAN FALS Tak Tahu Kapan Kisah Ini Akan Berakhir, karya Abdul Mukhyi ini seperti sebuah perjalanan menembus ruang dan waktu, mengisahkan pergulatan hidup dan karya dari sosok Iwan Fals yang namanya melegenda di panggung musik Indonesia.
Disusun seperti kumpulan fragmen hidup, buku ini lebih menyerupai mini-biografi dengan sentuhan sastra yang merangkum artikel-artikel dari berbagai media cetak, membentuk narasi yang melintasi delapan dekade hidup sang musisi.
Dari halaman pertama, buku ini langsung menangkap perhatian lewat lirik Intro dari album Cikal, yang tertera bersama ilustrasi karikatur Iwan Fals sedang merenung sambil mencoret-coret sesuatu.
Di sini, pembaca seolah-olah diajak untuk masuk ke dalam dunia Iwan—dunia yang penuh renungan dan kritik, seolah dari tangan Iwan lahir suara rakyat yang terpinggirkan.
Abdul Mukhyi menyajikan kisah hidup Iwan dengan membagi perjalanan hidupnya menjadi delapan babak penuh warna, yang masing-masing menggambarkan fase-fase penting dalam hidup dan kariernya. Perjalanan pertama (1961–1976) melukiskan masa kecil hingga awal karier, memperkenalkan Iwan sebagai sosok yang dikenal dengan julukan “Iwan Fals,” sang penggugat dengan lirik-lirik tajam.
Perjalanan kedua (1976–1981) membawa kita ke masa lirik album pertamanya yang memperkenalkan suaranya sebagai cermin keresahan, berlanjut hingga album Frustasi yang mencuri perhatian masyarakat.
Di perjalanan ketiga (1981–1988), Iwan menapaki fase kesuksesan dengan kontrak di bawah label Musica, yang melahirkan album fenomenal 1910, sebuah karya yang menggaung seperti lonceng peringatan bagi berbagai lapisan masyarakat.
Lalu, perjalanan keempat (1988–1992) menyoroti masa keemasannya, saat Iwan Fals menggelar Pagelaran Rock Kemanusiaan dan menciptakan Belum Ada Judul, sebuah mahakarya yang dipuja banyak orang karena ketajaman lirikalnya yang mengkritik keadaan sosial.
Pada perjalanan kelima (1992–1994), Iwan mulai menjelma menjadi lebih dari sekadar musisi—ia menjadi ikon yang memproklamasikan Partai Tikus Got, menyuarakan pemberontakan terhadap korupsi dan ketidakadilan dengan nyanyian satire.
Fase keenam (1994–1997) adalah masa-masa redupnya Iwan dari rekaman hingga kelahiran album Kantata Samsara, karya yang menyuarakan sisi spiritualitas dan pencarian jati diri.
Ketika tiba di perjalanan ketujuh (1997–2000), Iwan melewati masa-masa duka dengan kehilangan besar yang sangat membekas dalam hidupnya.
Fase ini menggambarkan kedalaman emosinya, membawa kita ke titik-titik sunyi dalam perjalanan batinnya yang kemudian terlahir dalam Kantata Revolvere—sebuah album yang menandai siklus baru dalam hidupnya.
Selain narasi hidup Iwan, Abdul Mukhyi juga memperkaya buku ini dengan komentar dari lima tokoh besar dalam musik Indonesia: Franky Sahilatua, Ian Antono, Piyu, Iwang Nursaid, dan Ahmad Dhani.
Masing-masing tokoh memberi penghormatan kepada Iwan Fals yang mereka pandang sebagai bukan hanya musisi, tetapi pejuang sejati.
Karya ini bukan hanya dokumentasi perjalanan seorang legenda, melainkan sebuah potret hidup yang disulam dari lirik, suara, dan kisah perjuangan.
Melalui buku ini, Iwan Fals bukan sekadar menginspirasi, tetapi mengajak kita merenungi panggilan hati untuk berbicara demi kebenaran, melawan arus, dan tetap setia pada suara nurani.