Frensia.id– KH. Abdul Ghofur Maimoen menyampaikan ceramah mendalam pada acara Haul dan Harlah Pesantren Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo, kemarin (18/01). Dalam kesempatan tersebut, ulama yang akrab disapa Gus Ghofur ini menekankan bahwa kebesaran seorang ulama tidak hanya diukur dari kedalaman ilmunya semata, melainkan juga dari kemampuannya memahami karakter murid-muridnya. Ia mencontohkan bagaimana Imam Syafi’i berhasil membangun mazhab besar karena kepekaannya dalam mengenali potensi dan takdir santri-santrinya.
Dalam pidatonya, Gus Ghofur mengisahkan riwayat Imam Syafi’i menjelang wafatnya. Saat itu, murid-murid utamanya berkumpul, di antaranya Al-Buwaiti, Al-Muzani, Muhammad bin Al-Hakam, dan Ar-Rabi’ bin Sulaiman. Imam Syafi’i kemudian memberikan prediksi yang sangat spesifik mengenai masa depan mereka, yang di kemudian hari terbukti menjadi kenyataan. Gus Ghofur mengutip perkataan Imam Syafi’i kepada Al-Buwaiti,
“Buwaiti, nanti kamu akan mati fil hadid, katanya. Kamu nanti akan mati dalam keadaan diborgol,” ucapnya.
Prediksi tersebut bukan sekadar ramalan kosong. Gus Ghofur menjelaskan bahwa Al-Buwaiti adalah santri yang paling siap menggantikan Imam Syafi’i secara keilmuan. Namun, ia memiliki keteguhan prinsip yang luar biasa. Ketika terjadi fitnah Khalqul Quran di masa pemerintahan Baghdad yang bermazhab Muktazilah, Al-Buwaiti menolak mengatakan bahwa Al-Qur’an adalah makhluk.
Akibatnya, ia ditarik dari Mesir ke Baghdad dan dipenjara hingga wafat. Gus Ghofur menceritakan keteguhan Al-Buwaiti yang tetap mandi dan berpakaian rapi setiap hari Jumat untuk meminta izin shalat Jumat kepada sipir penjara, meski ia tahu izin itu tidak akan diberikan. Hal ini dilakukan semata-mata untuk menggugurkan kewajiban ikhtiar di hadapan Allah.
Selanjutnya, Gus Ghofur menceritakan tentang Al-Muzani. Kepada muridnya ini, Imam Syafi’i berkata, “Kamu akan hidup cukup panjang, kamu akan mengalami perubahan-perubahan secara sosial dan nanti yang bisa mengembangkan ilmu saya itu kamu. Orang paling pintar kias itu kamu.”
Gus Ghofur menjelaskan bahwa Al-Muzani memiliki kecerdasan di atas rata-rata, sehingga ia mampu mengembangkan fikih Syafi’i (Ashab al-Wujuh) dan beradaptasi dengan persoalan zaman.
Namun, kisah yang paling menarik perhatian jamaah adalah mengenai Ar-Rabi’ bin Sulaiman. Menurut kitab Thabaqatul Syafi’iyah karya Imam As-Subki, Ar-Rabi’ digambarkan sebagai santri yang lambat dalam memahami pelajaran (dedel). Gus Ghofur menuturkan,
“Jadi diajarin 40 kali itu enggak paham-paham.” Saking sulitnya Ar-Rabi’ memahami pelajaran, Imam Syafi’i sampai berkata, “Kalau saya mampu inistattu an utimaka ilman laattuk. Kalau bahasa jawanya itu nek aku iso dulang. Kalau saya bisa nyuapin kamu ilmu, saya suapin,” jelas Pengasuh Pesantren Al Anwar ini.
Meski demikian, Imam Syafi’i justru menunjuk Ar-Rabi’ sebagai periwayat utama mazhabnya. “Kamu itu bagian meriwayatkan ilmu saya,” kutip Gus Ghofur menirukan Imam Syafi’i.
Gus Ghofur menjelaskan logika di balik keputusan ini. Santri yang cerdas seperti Al-Muzani cenderung memiliki logika sendiri yang bisa jadi menambahkan atau menafsirkan ulang perkataan guru. Sebaliknya, santri seperti Ar-Rabi’ akan menyampaikan apa adanya tanpa menambah atau mengurangi.
“Kenapa? Karena orang kalau enggak cerdas-cerdas amat itu biasanya enggak nambah-nambahi. Tapi kalau santri cerdas itu kalau cerita tentang kiainya itu biasanya agak ditambah-tambahi,” ujar Gus Ghofur yang disambut tawa para hadirin.
Oleh karena itu, jika terjadi perbedaan riwayat antara Al-Muzani dan Ar-Rabi’, para ulama sepakat memenangkan riwayat Ar-Rabi’.
Terakhir, Gus Ghofur menyebutkan santri bernama Muhammad bin Al-Hakam yang diprediksi akan kembali ke mazhab lamanya, Maliki. Dan hal itu pun terbukti benar setelah sang Imam wafat.
Gus Ghofur menegaskan bahwa kemampuan membaca masa depan ini sering disebut sebagai firasat atau karamah, namun sejatinya hal itu lahir dari kedekatan emosional dan pendidikan yang sungguh-sungguh. Imam Syafi’i tidak ingin ilmunya hilang seperti Imam Laits bin Sa’ad yang mazhabnya punah karena murid-muridnya tidak mengembangkannya.
Selama tiga tahun di Mesir, Imam Syafi’i berjihad mendidik santri sesuai karakternya masing-masing. Gus Ghofur menutup ceramahnya dengan merefleksikan bahwa keberhasilan Pesantren Nurul Jadid dan pesantren besar lainnya juga berkat para Kiai seperti Kiai Zaini Mun’im yang mengenal betul karakter santri-santrinya, ada yang model Ar-Rabi’ dan ada yang model Al-Muzani, lalu mendidik mereka hingga menjadi tokoh yang bermanfaat bagi umat.







