Frensia.id – Dr. Robert R. Redfield, mantan Direktur Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat, mengungkapkan pandangan kontroversial terkait asal-usul virus SARS-CoV-2.
Mantan Direktur Pusat Pengendalian dan Pencegahan penyakit AS itu menyatakan bahwa SARS-CoV-2 diduga direkayasa dalam program pertahanan Biologis.
Pernyataan tersebut seperti disampaikan Dr Robert dalam sebuah wawancara dengan Dana Parish tertanggal 14 November 2024.
Menurut Dr. Redfield, virus tersebut kemungkinan besar direkayasa sebagai bagian dari program pertahanan biologis.
Dr. Redfield menyatakan bahwa terdapat keterlibatan Amerika Serikat dalam penelitian yang mengarah pada pengembangan virus tersebut.
Ia menyoroti pendanaan yang diberikan oleh beberapa lembaga pemerintah, seperti Institut Kesehatan Nasional (NIH), Departemen Luar Negeri, USAID, dan Departemen Pertahanan AS.
Keempat lembaga tersebut, menurutnya, berkontribusi dalam mendanai penelitian terkait virus tersebut.
Selain itu, ia menyinggung seorang ilmuwan terkemuka bernama Dr. Ralph Baric dari University of North Carolina yang disebut memiliki peran signifikan dalam penelitian ini.
“Dia sangat terlibat dalam penelitian ini dan mungkin membantu menciptakan beberapa galur virus asli,” ungkap Dr. Redfield, meskipun ia mengakui bahwa belum ada bukti pasti terkait tuduhan tersebut.
Dr. Redfield juga menyoroti tanggung jawab China, bukan pada proses penciptaan virus di laboratorium, melainkan pada pelanggaran terhadap regulasi kesehatan internasional.
Ia mengkritik respons awal China terhadap wabah tersebut, termasuk kegagalan mereka mematuhi perjanjian internasional yang mengharuskan mereka menerima bantuan global dalam waktu 48 jam setelah wabah terdeteksi.
“China tidak mengizinkan CDC untuk segera membantu mengatasi situasi tersebut,” ujarnya.
Ketika ditanya apakah virus mungkin berasal dari Amerika Serikat dan China hanya dijadikan kambing hitam, Dr. Redfield tidak memberikan jawaban pasti.
Namun, ia menyebut kemungkinan bahwa virus itu mungkin berasal dari Chapel Hill, tempat penelitian intensif terkait virus corona dilakukan.
Pernyataan Dr. Redfield ini menambah babak baru dalam perdebatan panjang tentang asal-usul SARS-CoV-2.
Meskipun belum ada bukti konklusif, pandangannya menyoroti perlunya transparansi dan akuntabilitas lebih lanjut dari berbagai pihak terkait.