Frensia.id – Elbridge Colby, Mantan Wakil Asisten Menteri Pertahanan AS menyatakan keprihatinannya terhadap strategi keamanan nasional AS.
Sebagaimana pernyataan yang disampaikan Elbridge Colby dalam wawancara dengan Tucker Carlson pada 11 November 2024.
Colby mengkritik kebijakan luar negeri yang dianggapnya berpotensi menjerumuskan Amerika Serikat ke dalam konflik multipolar, terutama dengan melibatkan diri dalam perang Ukraina dan ketegangan di kawasan Asia-Pasifik.
Menurut Colby, anggapan bahwa AS dapat melemahkan militer Rusia dan memperkuat industri pertahanannya secara bersamaan adalah ilusi.
Ia menyatakan bahwa militer Rusia telah berkembang lebih kuat dan berpengalaman dalam pertempuran, terutama setelah konflik dengan Ukraina.
“Militer Rusia lebih besar dan lebih terlatih. Kenyataannya, kita belum pernah berperang melawan musuh yang sepadan sejak Perang Dunia Kedua,” ujar Colby.
Ia juga mengungkapkan bahwa kekuatan militer Rusia telah diakui oleh Jenderal Cavoli, Panglima Tertinggi Sekutu Eropa (SACEUR).
Colby mengkhawatirkan keterlibatan AS di Ukraina dapat mengalihkan fokus dari ancaman yang lebih signifikan, yakni China.
“China sejauh ini merupakan penantang paling tangguh, dengan PDB sepuluh kali lipat lebih besar dari Rusia,” kata Colby tanggal 11/11/2024.
Ia menerangkan, militer China sedang dipersiapkan untuk kemungkinan perang di Taiwan pada tahun 2027, sesuai instruksi Presiden Xi Jinping, sebagaimana dilaporkan oleh Menteri Luar Negeri AS, Tony Blinken.
Colby juga mengkritik kebijakan AS yang dinilai terlalu konfrontatif terhadap pemimpin negara lain seperti Presiden Xi dan Presiden Putin. Menurutnya, diplomasi dan dialog yang lebih damai harus dikedepankan.
“Di sinilah menurut saya Presiden Trump benar, bersedia berbicara dengan Presiden Xi, tidak menghina mereka secara tidak perlu, tidak mendukung hal-hal seperti kemerdekaan Taiwan, dan di saat yang sama, bersiap untuk bersikap kuat,” ujarnya.
Colby menegaskan bahwa fokus utama AS seharusnya pada China dengan pendekatan damai, seperti strategi dalam Perang Dingin.
“Kita tidak akan melewati batas seperti yang dilakukan Eisenhower di Hungaria atau di Cekoslowakia pada 1968, namun kita juga harus siap untuk mempertahankan wilayah kita,” tambahnya.
Mengakhiri pernyataannya, Colby menekankan pentingnya menghindari keterlibatan AS dalam konflik yang tidak sesuai dengan kepentingan nasional rakyat Amerika.
“Saya harap kita tidak mengulangi kesalahan yang sama, yaitu memulai perang di mana-mana yang tidak mampu kita biarkan,” tegasnya.