Frensia.id- Pada bulan Desember 2023 Romo Simon Petrus L. Tjahjadi, melayangkan surat undangan via email kepada Jurgen Habermas untuk hadir ke Jakarta dalam rangka merayakan 300 tahun lahirnya Kant (1724-1804), sebagai wujud kerja sama STF Driyarkara dengan Goethe Institut.
Hal tersebut disampaikan oleh Fitzgerald Kennedy Sitorus dalam unggahan Facebooknya pada Minggu (15/03/26), berdasarkan Whatsapp catatan personal dari Romo Lili (Ketua STF Driyakara) yang berisi upayanya untuk menghadirkan Sosiolog terkemuka Jerman.
Sebagaimana yang disampaikan dalam cerita di dinding FB Fitzgerald, Habermas cukup lama memberikan jawaban akan kesediaannya hadir memenuhi undangan tersebut. Baru kemudian pada tanggal 12 Februari ada balasan sejak Desember 2023.
“Bulan Desember 2023, kami melayangkan email kepada Habermas seraya memohon kesediannya untuk merayakan 300 lahirnya Kant (1724-1804) dalam rangka kerjasama STF dengan Goethe Institut dengan menyelenggarakan seminar di Jakarta. Lama sekali email itu tidak dijawab. Baru 12 Februari 2024 (tanpa sengaja – ini tanggal wafatnya Kant 220 tahun lalu!) Habermas mengirimkan balasannya, bahwa dia sungguh minta maaf tidak bisa ke Indonesia lantaran keadaan fisiknya tidak memungkinkannya.” Ungkap Romo Lili sapaan akrab Simon Petrus L. Tjahjadi di dinding FB Fitzgerald.
Setelah gagal mengundang Habermas secara langsung, Ketua STF Driyakara tersebut ternyata sudah menyiapakn rencana lain, yakni dengan tetap mengadakan seminar tetapi menggunakan via Zoom. Akan tetapi hal tersebut diurungkan karena Habermas dalam suasana duka, putrinya baru meninggal pada Desember 2023.
Pada akhirnya, hingga teoritisi kritis marxis berpulang pada 14 Maret 2026 di usia 96 tahun tetap gagal dihadirkan ke Indonesia. Upaya Romo Lili pada tahun 2023 ini bukan lagi yang pertama, pada tahun 2003 saat menempuh S3 di Universitas Goethe ia pernah menanyakan langung kepada Habermas untuk hadir ke Indonesia.
“Apa Anda berminat juga ke Indonesia, jika ada undangan nanti untuk acara serupa?”, tanya saya kepadanya, sambil memikirkan kemungkinan ini dalam kerjasama STF dan Goethe Institut Jakarta di masa depan.” Ungkap Romo Lili.
Habermas menjawab bahwa sang istri yang biasa menemani perjalanan tidak akan tahan dengan kelembaban udara yang tinggi di negara Tropis, termasuk Indonesia.
Selain menungkapkan rasa berat hati karena tidak bisa berkunjung ke Indonesia, Habermas dalam surat balasannya tidak lupa menyampaikan titip salam kepada Franz Magnis Suseno.






