“Falaisa ‘Indahu Fulus Fahuwa Mamfus”, Kata KH. Zuhri Juga Disadari Dari Tauladan Rosul

Monday, 19 January 2026 - 10:39 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Gambar

Gambar "Falaisa 'Indahu Fulus Fahuwa Mamfus", Kata KH. Zuhri Juga Disadari Dari Tauladan Rosul (Sumber: Istimewa)

FRENSIA.ID – Pengasuh Pesantren Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo, KH. Zuhri Zaini, menekankan pentingnya kemandirian ekonomi bagi para santri dan alumni pesantren. Dalam pandangannya, dakwah Islam tidak bisa hanya dipahami dalam ruang lingkup ritual semata, melainkan harus merambah ke sektor-sektor strategis lainnya, terutama ekonomi.

Hal ini disampaikannya dalam forum Halaqoh Alumni Pesantren Nurul Jadid yang digelar kemarin, 18/01. Kiai Zuhri mengingatkan bahwa kekuatan ekonomi adalah salah satu pilar utama dalam menegakkan agama dan menguasai peradaban dunia, sebuah realitas yang kini terlihat dari persaingan negara-negara besar.

Dalam pidatonya, Kiai Zuhri menyoroti bahwa santri harus membawa nilai-nilai kesantrian ke dalam berbagai sektor kehidupan, baik itu sosial, politik, maupun ekonomi. Beliau menegaskan bahwa penguasaan ekonomi adalah kunci kehidupan dunia.

“Siapa yang menguasai ekonomi itulah yang akan menguasai dunia. Sekarang ternyata rebutan di antara negara-negara besar itu sebetulnya yang kaitannya dengan masalah ekonomi,” ungkapnya.

Urgensi penguasaan ekonomi ini bahkan melahirkan sebuah adagium atau semboyan yang cukup populer dan menggelitik di kalangan pesantren. Kiai Zuhri mengutip semboyan tersebut dengan nada humor,

“Saking pentingnya ini ada semboyan di kalangan pesantren, man laisa ‘indahu fulus fahuwa mamfus, jadi orang gak punya uang akan mampus itu nanti,” ucapnya

Semangat berbisnis ini, menurut Kiai Zuhri, bukanlah hal baru yang asing bagi Islam, melainkan sunnah yang telah dicontohkan langsung oleh Nabi Muhammad SAW. Beliau menceritakan sejarah Nabi yang dikenal sebagai pebisnis ulung jauh sebelum diangkat menjadi Rasul. Nabi pernah diajak oleh pamannya, Abu Thalib, untuk berdagang hingga ke Syam dan kemudian bermitra dengan Siti Khadijah.

Baca Juga :  Demi Penguatan Wisata! Akademisi UIN KHAS Temui Kelompok Perempuan Desa Klatakan

“Beliau itu seorang pebisnis yang sukses ya, sekalipun gak pernah sekolah bisnis,” tutur Kiai Zuhri.

Kemitraan Nabi dengan Khadijah didasari oleh kejujuran dan etos kerja yang tinggi, sehingga Khadijah tidak ragu memberikan modal besar yang dikelola Nabi dengan sangat berhasil.

Namun, Kiai Zuhri memberikan catatan tebal mengenai tujuan di balik pencarian harta tersebut. Bagi seorang Muslim, ekonomi bukan sekadar untuk menumpuk kekayaan atau bersenang-senang, melainkan sebagai bekal ibadah dan perjuangan.

“Kita mencari uang atau dicari harta ini adalah dalam rangka bekal hidup, dalam rangka pertama ibadah kepada Allah subhanahu wa taala dan berjuang di jalan Allah,” jelasnya.

Beliau menambahkan bahwa ketika Nabi dan Khadijah telah bersatu dalam perjuangan dakwah, seluruh harta hasil bisnis tersebut diinfakkan untuk kepentingan agama.

Teladan ini pula yang diteruskan oleh pendiri dan para masyaikh Pesantren Nurul Jadid. Kiai Zuhri mengenang sosok KH. Zaini Mun’im yang tidak hanya mengajar mengaji, tetapi juga terjun langsung membudidayakan tembakau, sebuah komoditas yang dulunya asing bagi masyarakat setempat.

“Beliau itu yang membudidayakan tanaman tembakau di sini. Dulu orang-orang sini gak biasa tanam tembakau, karena kata orang sini itu tembakau itu gak bisa dimakan,” kenangnya.

Baca Juga :  Direktur Pascasarjana UNIIB Banyuwangi Kaji Peranan Alumni UIN KHAS Jember di Masyarakat, Ini Hasilnya!

Ketekunan Kiai Zaini dalam bertani tembakau bahkan menjadi fondasi pembangunan fisik pesantren.

Kiai Zuhri menceritakan fakta menarik bahwa masjid pertama di pesantren tersebut dibangun dari hasil penjualan tembakau. Hal ini memiliki implikasi unik bagi pandangan keluarga pesantren terhadap hukum tembakau.

“Bahkan masjid yang ada di pesantren ini itu pertama kali dibangun dengan hasil penjualan tembakau. Karena itu keluarga di sini ndak berani mengharamkan tembakau,Kalau mengharamkan rokok, masjid itu haram juga nanti.” canda beliau yang disambut tawa hadirin.

Kiai Zaini tidak segan turun langsung menjual hasil panen ke pasar dan memimpin kerja bakti, mulai dari membuat batu bata hingga membangun saluran irigasi untuk mengubah lahan tegalan menjadi sawah produktif.

Selain aspek ekonomi, pendekatan Kiai Zaini dalam berdakwah melalui jalur pertanian juga sangat kultural dan santun. Kiai Zuhri mengisahkan bagaimana ayahnya mengubah tradisi sesajen di sawah yang berbau syirik menjadi tradisi Islami tanpa menimbulkan konflik. Dulu, petani setempat biasa memberi sesajen berupa bubur kecil di pintu air untuk “penunggu halus”. Kiai Zaini mengubahnya dengan membawa nasi tumpeng untuk dimakan bersama para tetangga setelah membaca Yasin dan Tahlil.

“Jadi yang asalnya sesajen diubah menjadi nasi tumpeng, dan bukan dimakan yang halus tapi yang kasar (manusia). Lah ini cara mengubah hal-hal tradisi yang tidak sesuai dengan syariah itu tidak dengan marah-marah apalagi pakai bentungan,” pungkas Kiai Zuhri

Penulis : MASHUR IMAM

Follow WhatsApp Channel frensia.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Baca Lainnya

Zainal Arifin Mochtar Dikukuhkan Guru Besar, Soroti Konservatisme Menggerus Independensi Lembaga Negara
Mimbar Demokrasi Tolak Pilkada Melalui DPRD, Sebut Demokrasi Semakin Mundur dan Perkuat Oligarki
Keren! UNIKHAMS Gelar International Conference On Education and Society (ICESY) 2026 di Taiwan
Kata Prof Eddy Hiariej, Konsep Kejahatan Seksual Tiap Negara Berbeda
Lulus Doktoral UIN KHAS, Warek I IAI Syaichona Mohammad Cholil Bongkar Perlawanan Ekonomi Khas Nyai Pesantren
Kejari Geledah Sekolah di Jember Usut Dugaan Korupsi BOS
Review Film Dokumenter KH Achmad Siddiq, Telaah Kiprah Perjuangan dan Pemikir Moderasi Beragama
​Kampung Kerapu Situbondo Luar Biasa! Dosen Syari’ah UIN KHAS: Bukti Sarjana Hukum Serbabisa

Baca Lainnya

Monday, 19 January 2026 - 10:39 WIB

“Falaisa ‘Indahu Fulus Fahuwa Mamfus”, Kata KH. Zuhri Juga Disadari Dari Tauladan Rosul

Thursday, 15 January 2026 - 20:33 WIB

Zainal Arifin Mochtar Dikukuhkan Guru Besar, Soroti Konservatisme Menggerus Independensi Lembaga Negara

Thursday, 15 January 2026 - 20:07 WIB

Mimbar Demokrasi Tolak Pilkada Melalui DPRD, Sebut Demokrasi Semakin Mundur dan Perkuat Oligarki

Wednesday, 14 January 2026 - 23:07 WIB

Keren! UNIKHAMS Gelar International Conference On Education and Society (ICESY) 2026 di Taiwan

Tuesday, 13 January 2026 - 19:18 WIB

Kata Prof Eddy Hiariej, Konsep Kejahatan Seksual Tiap Negara Berbeda

TERBARU

Foto: Istimewa

News

Perempuan di Jember Ditemukan Tewas saat Hanyut di Sungai

Sunday, 18 Jan 2026 - 20:02 WIB

Foto: Istimewa

Criminalia

Curanmor di Jember Tertangkap dan Diamuk Massa

Saturday, 17 Jan 2026 - 19:16 WIB