Frensia.id- GP Ansor pernah bersepakat dengan organisasi keagamaan lain untuk menolak sebuah monumen kebanggaan masyarakat Sidoarjo. Monumen tersebut bernama Patung Jayandaru.
Pada tanggal 29 Mei 2015, ada penolakan besar yang terjadi pada pembangunan patung Jayandaru. Padahal monumen ini diresmikan dengan gemilang, menambah satu lagi mahakarya ke dalam warisan budaya Sidoarjo.
Pembangunan monumen ini menjadi sebuah persembahan istimewa dari PT Sekar Laut Tbk, perusahaan terkemuka di bidang pengolahan produk kelautan yang bermarkas di kota tersebut. Monumen ini tidak hanya berdiri sebagai penanda waktu, tetapi juga sebagai karya seni yang dirancang oleh tangan-tangan terampil seniman asal Bali, I Wayan Winten.
Mengusung desain yang memukau, Monumen Jayandaru memvisualisasikan dua ikon utama Sidoarjo: udang dan bandeng, yang melambangkan kekayaan alam dan tradisi maritim daerah ini. Dengan keanggunan dan keindahan yang terukir pada setiap detialnya, tentunya mengundang kekaguman dan rasa bangga dari setiap orang yang melihatnya.
Anehnya, patung yang ada di pusat kota ini, melahirkan kontroversi. Bahkan tercatat pernah ditolak dengan berbagai alasan oleh beberapa ormas keagamaan. Beberapa diantarnya adalah MUI, MU dan masuk juga di dalamnya, GP Ansor.
Penolakan ini sempat menyulut perhatian beberapa akademisi, salah satunya Hilmy Rahmawan. Ia adalah peneliti yang pernah berafiliasi di Universitas Airlangga (UNAIR).
Hasil penelitiannya disusun dalam bentuk Jurnal. Telah diterbitkan pada tahun 2027 silam dalam Repsitory UNAIR.
Rahmawan melihat bahwa GP Ansor melakukan penolakan pada keberadaan Patung Jayandaru yang didanai oleh PT. Sekar Laut dan dihibahkan kepada Pemerintah Kabupaten Sidoarjo. Organisasi pemuda dari ormas terbesar ini, memandang bawah patung tersebut merupakan berhala karena berbentuk utuh menyerupai manusia.
Mereka juga mengkhawatirkan bentuk patung ini mendorong masyarakat menyembah dan mengurangi rahmat dan sakralitas depan Masjid Agung Sidoarjo. Pasalnya, pembangunannya dekat dengan masjid tersebut.
Rahmawan melakukan kajian dengan memakai teori mobilisasi sumber daya. Hasil temuannya melahirkan dua alasan utama GP Ansor, kenapa menolak patung itu.
Penolakan mereka ternyata didasarkan pada pendapat ulama yang menyatakan bahwa patung dapat memberikan dampak negatif dalam kehidupan manusia. Masyarakat akan menilainya sebagai sesuatu yang magis, tidak sekedar simbol.
Selain itu, Rahmawan juga mendeteksi alasan lain penolakan GP Ansor juga didasarkan sejumlah hadits-hadits yang menyebutkan bahwa patung adalah haram dalam ajaran agama Islam.