Frensia.id – Bulan Ramadhan adalah bulan yang memiliki nilai sakralitas tertentu bagi masyarakat Muslim di seluruh belahan dunia. Di Indonesia sendiri bulan ini sangat mempengaruhi pola pikir dan laku masyarakat, salah satunya adalah budaya konsumtif yang makin meningkat.
Penelitian Arif Hidayat (Institut Agama Islam Negeri Purwokerto) yang berjudul “Budaya Konsumen Bulan Ramadhan bagi Masyarakat Indonesia” mengungkapkan bahwa budaya konsumtif masyarakat Indonesia justru aneh saat menjelang bulan puasa. Pengeluaran rumah tangga seharusnya yang semakin sedikit sebab makan sehari hanya dua kali (buka dan sahur), justru pada saat demikian pengeluaran rumah tangga sontak banyak meningkat.
Meskipun subtansi dari bulan suci ini adalah pahala yang dilipat gandakan, dan terealisasikan dengan amalan-amalan baik, namun pada faktanya banyak masyarakat Muslim Indonesia yang justru tidak memprioritaskan hal demikian. Kebanyakan dari mereka adalah memanfaatkan momen bulan ini sebagai waktu paling pas untuk mengkonsumsi hal-hal tertentu di atas kekuatan finansial mereka.
Pola hidup masyarakat Muslim Indonesia sendiri sontak berubah selama bulan ini, Arif mengatakan bahwa dalam keseharian mereka menahan makan banyak hal lain menjadi pelarian. Ruang-ruang hiburan dan pusat-pusat pembelanjaan cenderung ramai hingga menjelang sore hari
Peneliti asal IAIN Purwokerto ini menyimpulkan bahwa budaya konsumtif masyarakat Indonesia saat bulan Puasa tersusun atas beberapa sebab. Pertama, budaya konsumtif terbentuk dari seperangkat mitos dan ketakutan tertentu tentang kesehatan yang harus dipenuhi saat bulan Puasa.
Kedua, para pemilik modal (korporasi) banyak memberikan inovasi-inovasi menarik pada produknya sehingga banyak menarik konsumen. Ketiga yakni masyarakat Muslim Indonesia lambat laun semakin kehilangan subtansi (aspek batiniah) dalam menjalani ibadah di bulan Puasa. (*)