Jember Bergolak, Menyoal Netralitas Pilkada

Kamis, 14 November 2024 - 13:55 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Frensia.id – Dentuman protes menggemparkan Jember, membuntuti dugaan keberpihakan penyelenggara pilkada 2024 yang nilai tidak netral dan berpihak pada salah satu calon. Gelombang demonstrasi yang menggugat ketidaknetralan tersebut tergabung dalam Aliansi Masyarakat Peduli Pilkada Jurdil (AMP2J), mengumandangkan tuntutan tegas netralitas pilkada.

Dilansir dari Frensia.id aksi tersebut menggambarkan keresahan rakyat Jember atas dugaan pelanggaran prinsip demokrasi yang semestinya dipegang teguh oleh penyelenggara Pilkada. Aksi masa bahkan merangsek masuk ke kantor Bawaslu, mereka meluapkan kekecewaan dan ketidakpercayaan pada lembaga yang mestinya bersikap netral.

Persoalan pelanggaran netralitas pemilu bukan masalah sederhana, sebab ia menggerogoti kepercayaan masyarakat terhadap demokrasi. Lebih parah lagi, ketidaknetralan penyelenggara pilkada dapat melahirkan pemimpin yang tidak baik, kandidat yang terpilih bukan melalui proses yang jujur dan adil.

Tidak hanya itu, pilkada adalah momentum dan instrumen rakyat menyalurkan hak politiknya secara adil. Bila penyelenggara bersikap tidak netral, maka asas keadilan dan kebebasan dalam menyalurkan kehendak politiknya akan tercemar.

Baca Juga :  Lima Jawaban Elegan Untuk Pertanyaan Sensitif Saat Lebaran

Dugaan ketidaknetralan penyelanggara –seperti yang di Jember ini — mengingatkan pentingnya menjaga integritas pilkada supaya tidak menghilangkan kepercayaan publik. Selain itu, memperparah ketidakstabilan politik yang berkepanjangan.

Dalam etika pemilu dan demokrasi, sikap keberpihakan penyelenggara untuk memuluskan paslon menuju kemenangan adalah tindakan yang cacat. Demokrasi tidak hanya soal administrasi prosedural, tetapi juga netraloitas, transparansi dan kejujuran.

Pilkada merupakan wadah masyarakat menentukan pemimpinya secara sadar, bukan diarahkan seperti baris-berbaris.
Etika dalam pemilu, menghormati kehendak rakyat secara jujur, adil dan transparan adalah syarat mutlak. Abnormalitas dari nilai-nilai tersebut sama halnya dengan mengingkari kepercayaan rakyat, dan itu mengancam bagi demokrasi itu sendiri.

Banyak para tokoh menekankan proses demokrasi seperti pilkada harus bersih dari manipulasi, Gus Dus misalnya. Menurut Presiden RI ke 4 ini pemilu adalah alat untuk mencapai keadilan sosial. Ia menyoroti demokrasi harus berdasarkan transparansi.

Ketiadaan prinsip transparansi akan menciptakan pemilu atau pilkada kehilangan kredibilitasnya. Publik tidak lagi menaruh kepercayaan bahwa suara mereka benar-benar diperoleh dengan cara jujur.

Baca Juga :  Karpet Merah untuk TNI, Kuburan bagi Reformasi

Bagi Gus Dur, pemilu atau pilkada tanpa dilalui dengan proses yang jujur adalah pemilu yang cacat. Ketika netralitas penyelenggara digugat dan dipersoalkan, demokrasi yang sedang dibangun juga akan runtuh. Dengan demikian, sikap netralitas, kejujuran dan tranparan dalam pilkada merupakan bagian tak terpisahkan dari jati diri demokrasi.

Untuk mengatasi gejolak ini, dibutuhkan usaha serius dari pihak terkait. Pertama, investigasi secara menyeluruh harus dilakukan lembaga yang berwenang untuk mengklarifikasi dan menyelesaikan ketidaknetralan penyelenggara. Kedua, masyarakat diberi ruang untuk menyalurkan aspirasinya, tanpa dihantui rasa takut menyampaikan kecurangan dalam proses pilkada.

Terakhir, lembaga pengawas pemilu menjalankan fungsinya dengan transparansi, tidak berpihak dan akuntabilitas. Dengan semangat menjaga netralitas pilkada, masyarakat akan menaruh percaya terhadap proses demokrasi, serta melahirkan pemimpin yang jujur dan adil.

Follow WhatsApp Channel frensia.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Baca Lainnya

Lebaran: Subjek Bebas yang Memaafkan
Lima Jawaban Elegan Untuk Pertanyaan Sensitif Saat Lebaran
Karpet Merah untuk TNI, Kuburan bagi Reformasi
Post Globalization Militarism: Kajian Interdisipliner tentang Hegemoni Ekonomi, Polarisasi Sosial, dan Tatanan Militerisme Dunia 
Negara atau Rentenir? STNK Mati, Motor Ikut Pergi
Evaluasi Flyer Pemerintah di Website Media: Menimbang Maslahat dan Mafsadat dalam Komunikasi Publik
Menjaga Alam, Merawat Kehidupan
Koalisi Permanen, Jalan Terjal Demokrasi

Baca Lainnya

Rabu, 2 April 2025 - 13:20 WIB

Lebaran: Subjek Bebas yang Memaafkan

Selasa, 1 April 2025 - 08:23 WIB

Lima Jawaban Elegan Untuk Pertanyaan Sensitif Saat Lebaran

Jumat, 21 Maret 2025 - 23:34 WIB

Karpet Merah untuk TNI, Kuburan bagi Reformasi

Kamis, 20 Maret 2025 - 22:06 WIB

Post Globalization Militarism: Kajian Interdisipliner tentang Hegemoni Ekonomi, Polarisasi Sosial, dan Tatanan Militerisme Dunia 

Rabu, 19 Maret 2025 - 05:57 WIB

Negara atau Rentenir? STNK Mati, Motor Ikut Pergi

TERBARU

Kolomiah

Lebaran yang Membumi

Rabu, 2 Apr 2025 - 23:14 WIB

Ilustrasi idul fitri 1446 H

Opinia

Lebaran: Subjek Bebas yang Memaafkan

Rabu, 2 Apr 2025 - 13:20 WIB