Frensia.id – KH Said Aqil Sirajd mengakui bahwa dirinya tidak sehebat Gus Dur (KH Abdurrahman Wahid). Salah satu alasan yang disampaikan oleh Said Aqil adalah kekalahannya dalam pemilihan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) pada Muktamar NU ke-34 yang digelar di Lampung pada 2021.
Muktamar NU yang berlangsung pada 22-23 Desember 2021 menjadi ajang ketiga bagi Said Aqil untuk bertarung memperebutkan posisi Ketua Umum PBNU, setelah dua periode sebelumnya menjabat.
Namun, meskipun sudah memiliki pengalaman, Said Aqil gagal memperpanjang masa jabatannya setelah kalah dalam pemilihan suara dari Gus Yahya, yang merupakan kandidat pesaing utama.
Dalam proses pemilihan yang diwarnai dengan protes dari beberapa peserta muktamar, Said Aqil akhirnya harus menerima kenyataan pahit.
Hasil pemungutan suara menunjukkan bahwa Said Aqil memperoleh 210 suara dari total 548 suara yang ada dalam putaran kedua, sementara Gus Yahya berhasil meraih 337 suara.
Hasil ini memutuskan Said Aqil untuk tidak melanjutkan kepemimpinannya sebagai Ketua Umum PBNU.
Namun, sebuah fakta mengejutkan terungkap dalam sebuah wawancara dengan Akbar Faizal Uncensored (AFU) pada edisi spesial Lebaran, 31/03/2025.
KH Said Aqil mengungkapkan bahwa kekalahannya di Muktamar NU tersebut disebabkan oleh campur tangan Presiden Joko Widodo (Jokowi).
Ia mengungkapkan bahwa Presiden Jokowi tidak mendukung niatnya untuk terpilih kembali sebagai Ketua Umum PBNU, dan hal itu membuatnya kalah dalam pemilihan tersebut.
“Walah hasil Pak Jokowi tidak senang saya kalau saya ingin terpilih lagi di NU. Maka di Lampung semua itu ya diatur sehingga saya harus kalah,” ujarnya.
Said Aqil juga menambahkan bahwa dirinya tidak merasa sebesar Gus Dur dalam hal pengaruh dan keberanian menghadapi tekanan.
Ia menyebutkan bahwa Gus Dur pada Muktamar NU di Cipasum pada 1994 juga menghadapi ancaman besar dari kekuasaan Orde Baru, yang waktu itu dipimpin oleh Presiden Soeharto.
Saat itu, meskipun Gus Dur mendapat tekanan keras, ia tetap teguh dengan pendiriannya, bahkan dihalangi untuk naik ke panggung dalam acara pembukaan muktamar dan diberi perlakuan tidak menyenangkan lainnya.
“Saya tidak sebesar Gus Dur. Gus Dur waktu Muktamar Cipasum tahun 1994 juga ada gitu kan Pak Harto. Jangan sampai Gus Dur jadi. Dengan segala kekuatan, dengan segala saran. Ketika pembukaan naik di panggung mukul beduk Pak Harto mukul beduk. Gus Dur tidak dipersilakan ikut naik. Ketika selesai pembukaan minum teh di tempat istirahat. Gus Dur mau bergabung gak boleh. Koran yang mendukung Gustur tidak boleh masuk ke Tasik Malaya. Tapi yang menjelakkan Gustur masuk. Pelita waktu itu. Sampai segitunya lah. Ancaman dan tekanan. Tapi Gus Dur kuat,” jelas KH Said Aqil.
Meskipun merasa tidak sekuat Gus Dur, Said Aqil tetap menegaskan bahwa orang yang mempermainkan Nahdlatul Ulama (NU) akan mendapat balasan dari Tuhan.
Meskipun ia mengakui bahwa tidak semua perkataan atau ancaman yang diterimanya bersifat logis, ia tetap percaya bahwa Allah tidak akan membiarkan orang yang mempermainkan NU.
“Orang yang mempermainkan Nahdlatul Ulama. Insya Allah ada balasannya. Tapi ini gak logis sih. Bukan perkataan yang logis. Tapi orang yang mempermainkan Nahdlatul Ulama. Allah tidak akan membiarkan,” tambahnya.
Dengan pernyataan ini, Said Aqil menunjukkan bahwa meskipun ia kalah dalam pemilihan di Muktamar NU 2021, ia tetap memiliki keyakinan bahwa perjuangan untuk NU dan umat Islam akan terus berlanjut, dan keadilan pada akhirnya akan datang.