Frensia.id – Kisah Inspiratif ini berawal ketika Imam Syafi’i, seorang ulama besar yang berasal dari Palestina, pergi ke Madinah untuk menimba ilmu dari Imam Malik, seorang ulama besar yang berasal dari Madinah.
Imam Syafi’i sangat mengagumi Imam Malik dan ingin belajar banyak dari beliau.
Suatu hari, Imam Syafi’i bertanya kepada Imam Malik, “Wahai guru, bagaimana cara Anda mencari rezeki?”
Imam Malik menjawab, “Saya mencari rezeki dengan mengajar ilmu agama kepada orang-orang. Saya tidak pernah keluar dari rumah saya untuk mencari rezeki. Saya hanya menunggu rezeki datang sendiri kepada saya.”
Imam Syafi’i terkejut mendengar jawaban Imam Malik. Beliau berkata, “Bagaimana mungkin Anda bisa hidup dengan cara seperti itu? Bukankah Allah berfirman dalam Al-Quran bahwa manusia harus berusaha untuk mencari rezeki? Bukankah Nabi Muhammad SAW bersabda bahwa rezeki itu ada di langit dan di bumi, dan manusia harus mencarinya?”
Imam Malik tersenyum dan berkata, “Wahai muridku, Anda benar bahwa Allah berfirman dan Nabi Muhammad SAW bersabda demikian. Namun, Anda lupa bahwa Allah juga berfirman bahwa Dia akan memberikan rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki tanpa hisab. Dan Nabi Muhammad SAW juga bersabda bahwa ada dua jenis rezeki, yaitu rezeki yang harus didatangi dan rezeki yang datang sendiri. Rezeki yang harus didatangi adalah rezeki yang membutuhkan usaha dan ikhtiar dari manusia. Rezeki yang datang sendiri adalah rezeki yang Allah berikan tanpa usaha dan ikhtiar dari manusia. Saya termasuk orang yang mendapatkan rezeki yang datang sendiri.”
Imam Syafi’i masih belum puas dengan jawaban Imam Malik. Beliau berkata, “Wahai guru, apakah Anda tidak takut jika suatu hari ilmu Anda tidak laku lagi? Apakah Anda tidak takut jika suatu hari orang-orang tidak mau belajar dari Anda lagi? Apakah Anda tidak takut jika suatu hari Allah mencabut rezeki Anda?”
Imam Malik kembali tersenyum dan berkata, “Wahai muridku, Anda tidak perlu khawatir tentang hal-hal itu. Allah adalah Maha Pemberi Rezeki. Dia tidak akan mencabut rezeki seseorang tanpa alasan yang adil. Selama saya menjaga ilmu saya dengan baik, selama saya mengajar ilmu saya dengan benar, selama saya mengamalkan ilmu saya dengan ikhlas, Allah tidak akan mencabut rezeki saya. Jika suatu hari ilmu saya tidak laku lagi, jika suatu hari orang-orang tidak mau belajar dari saya lagi, jika suatu hari Allah mencabut rezeki saya, itu berarti Allah telah menyiapkan rezeki lain yang lebih baik untuk saya. Saya hanya perlu bersabar dan bertawakal kepada Allah.”
Akan tetapi, Imam Syafi’i masih kurang yakin terhadap pendapat gurunya, beliau masih ingin membuktikan pendapatnya bahwa rezeki itu harus dicari bukan datang sendiri. Dan Bagaimana mungkin rezeki bisa datang sendiri tanpa harus dicari?
Kemudian, seorang yang kelak juga menjadi Imam Madzhab sama seperti gurunya ini berpamitan untuk pulang.
Dalam perjalanan Imam Syafi’i melewati kebun anggur. Disana ia bertemu dengan orang-orang yang sedang memanen anggur.
Salah satu pemilik anggur kemudian memanggil Imam Syafi’i, “Wahai Pemuda! Kemarilah, bisakah kau membantu kami memanen anggur? Sebagai upahnya nanti kau bisa memilih anggur yang segar-segar dan bagus-bagus sebanyak wadah ini”
Imam Syafi’i pun menyanggupi dan menyelesaikan pekerjaannya dengan baik. Tiba-tiba langsung terbesit dalam benak Imam Syafi’i bahwa peristiwa ini membuktikan bahwa rezeki itu harus didatangi, andaikan ia tidak datang mengiyakan permintaan pemilik anggur, tentu tidak semerta-merta ia akan mendapatkan anggur.
Ia pun kembali ke Imam Malik dan bermaksud menceritakan hal tersebut ke gurunya.
“Wahai Guru! Ini aku mendapatkan anggur dari pemilik anggur yang tadi aku bantu untuk memanennya”, kata Imam Syafi’i seraya menekankan pada kalimat “yang tadi aku bantu untuk memanennya”
Sekalipun begitu, sebagi bentuk penghormatan kepada gurunya, Imam Syafi’i menghadiahkan sebagian anggur kepada sang guru.
Akhirnya, dengan santai Imam Malik menjawab, “Tadi ketika selesai mengajar aku kepikiran buah anggur yang segar-segar dan manis-manis. Aku bertawakkal kepada Allah. Lalu, Allah datangkan melalui engkau sebagai perantaranya”
Imam Syafi’i akhirnya mengerti maksud Imam Malik. Beliau merasa kagum dengan kepercayaan dan ketenangan hati Imam Malik dalam menghadapi masalah rezeki.
Semoga kisah inspiratif ini dapat memberikan pemahaman yang seimbang kepada kita semua tentang rezeki.
Wallahu A’lam Bisshawab