Komentar Laura Ruggeri Terhadap Pengkritik Deklarasi Kazan BRICS

Sunday, 27 October 2024 - 20:54 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi gambar

Ilustrasi gambar "Komentar Laura Ruggeri Terhadap Pengkritik Deklarasi Kazan BRICS" sumber tangkapan layar media X.

Frensia.id – Laura Ruggeri, Peneliti independen dan akademisi Hong Kong mengungkapkan pandangannya mengenai kritikan terhadap deklarasi Kazan yang dibuat oleh BRICS, sebuah kelompok ekonomi yang beranggotakan Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan.

Melalui saluran Telegramnya pada 26 Oktober 2024, Ruggeri menyampaikan pandangan kritis terhadap para pengkritik BRICS yang dinilainya memiliki ekspektasi tidak realistis.

Menurut Ruggeri, mereka yang mengkritik BRICS karena tidak secara tegas menolak Agenda PBB 2030, WHO, WTO, IMF, dan G20 adalah orang-orang yang tidak memahami perbedaan antara pendekatan maksimalis dan bertahap dalam politik.

Pendekatan maksimalis, kata Ruggeri, adalah tuntutan untuk mengimplementasikan program maksimum tanpa mempertimbangkan konteks dan kondisi yang ada, sementara pendekatan bertahap mengakui bahwa perubahan dalam sistem adalah proses yang lambat dan terjadi secara gradual.

Baca Juga :  Tiada Pemenang di Tengah Reruntuhan: Kemanusiaan yang Terabaikan di Perang Iran–Israel

Laura Ruggeri membandingkan pendekatan bertahap yang dijalankan oleh BRICS dengan konsep revolusi yang, menurutnya, hanya berhasil jika ada analisis yang ketat dan konkret mengenai kondisi serta dukungan ideologi yang jelas di antara anggota.

“Seperti orkestra atau pasukan, revolusi membutuhkan keteraturan dan kesatuan dalam tujuan, sesuatu yang sulit dicapai oleh negara-negara anggota BRICS yang memiliki latar belakang dan kepentingan berbeda,” tulisannya pada 26/10/2024.

Ia menekankan bahwa BRICS tidak memiliki ideologi bersama yang dapat menjadikannya kekuatan revolusioner dalam pengertian klasik.

Namun, kehadiran BRICS dianggap sebagai bentuk revolusi tersendiri, yang berpotensi mengubah tatanan internasional melalui pengaruh dan konsensus antar anggota dalam organisasi internasional.

“Negara-negara anggota BRICS adalah massa kritis dalam organisasi-organisasi internasional yang sudah ada. Mereka bisa membangun konsensus, memfasilitasi perubahan kelembagaan, menyerukan reformasi, memulai proyek, dan menolak kontrol hegemonik atas lembaga-lembaga tersebut,” tambahnya.

Baca Juga :  Akademisi HI UNEJ Sebut Konflik Amerika-Israel ke Iran Jadi Penentu Masa Depan Timur Tengah

Terkait deklarasi Kazan, Ruggeri menyebut bahwa BRICS tetap memberikan kritik konstruktif terhadap lembaga-lembaga internasional tersebut, termasuk Agenda PBB 2030.

Kazan Deklarasi, menurutnya, menolak upaya-upaya yang mengarah pada diskriminasi politik dalam pembangunan, terutama yang tidak sesuai dengan prinsip Piagam PBB.

Sebagai tanggapan atas mereka yang berharap BRICS mengambil langkah lebih ekstrem untuk menguras rawa globalis, Ruggeri menambahkan bahwa pendekatan bertahap adalah jalan yang lebih realistis.

Menurutnya, bagi mereka yang menginginkan perubahan radikal, alternatif seperti mendukung tokoh politik lain, semisal Trump, adalah pilihan yang mungkin lebih sesuai.

Pandangan Ruggeri ini mencerminkan perspektif berbeda mengenai dinamika dan tantangan yang dihadapi BRICS dalam upayanya untuk menjadi kekuatan global.

Follow WhatsApp Channel frensia.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Baca Lainnya

Faktor Kesehatan, Jurgen Habermas Mengurungkan Diri Berkunjung ke Indonesia
Perang Amerika-Israel Melawan Iran Memanas, Akademisi HI UNEJ Soroti Dampak Terhadap Ekonomi Indonesia
Akademisi HI UNEJ Sebut Konflik Amerika-Israel ke Iran Jadi Penentu Masa Depan Timur Tengah
Tiada Pemenang di Tengah Reruntuhan: Kemanusiaan yang Terabaikan di Perang Iran–Israel
Imigrasi Siaga di Bandara Internasional Imbas Eskalasi Konflik Timur Tengah
Elon Musk Berani! Akan Biayai Proses Hukum Pihak Yang Siap Ungkap Kasus Epstein
Nobody’s Girl, Buku Korban Epstein Yang Telah Bunuh Diri
Penulis Yang Bantu Penyusunan Nobody’s Girl Ceritakan Sulitnya Hidup Korban Epstein

Baca Lainnya

Monday, 16 March 2026 - 13:07 WIB

Faktor Kesehatan, Jurgen Habermas Mengurungkan Diri Berkunjung ke Indonesia

Thursday, 5 March 2026 - 09:09 WIB

Perang Amerika-Israel Melawan Iran Memanas, Akademisi HI UNEJ Soroti Dampak Terhadap Ekonomi Indonesia

Wednesday, 4 March 2026 - 19:30 WIB

Akademisi HI UNEJ Sebut Konflik Amerika-Israel ke Iran Jadi Penentu Masa Depan Timur Tengah

Tuesday, 3 March 2026 - 21:24 WIB

Tiada Pemenang di Tengah Reruntuhan: Kemanusiaan yang Terabaikan di Perang Iran–Israel

Sunday, 1 March 2026 - 20:45 WIB

Imigrasi Siaga di Bandara Internasional Imbas Eskalasi Konflik Timur Tengah

TERBARU

Suasana para jamaah saat melaksanakan ibadah sholat IdulFitri di Masjid Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah, Desa Suger, Kacamatan Jelbuk, Jember. (Fadli/Frensia).

Religia

Warga Desa Suger Kidul Jember Rayakan Lebaran Lebih Awal

Thursday, 19 Mar 2026 - 07:58 WIB

Kondisi arus lalu lintas saat perjalanan mudik di Jember. (Foto: Sigit/Frensia).

News

Sejumlah Titik Kemacetan Arus Mudik Lebaran 2026 di Jember

Wednesday, 18 Mar 2026 - 23:22 WIB

Tampak depan masjid Raya Pesona yang baru saja dibuka segelnya (Polici Line) (Foto: Sigit/Frensia).

Criminalia

Police Line Masjid Jember yang Terjadi Ledakan Sudah Dibuka

Wednesday, 18 Mar 2026 - 17:44 WIB