Frensia.Id- Kos-kosan hebat dan bersejarah, lokasinya dulu jalan Peneleh VII No. 29-31 Surabaya. Di rumah itu, tokoh-tokoh pergerakan nasional lahir. Tempat tersebut milik Hadji Oemar Said (H.O.S) Tjokroaminoto.
Sejumlah tokoh nasional sering mengadakan diskusi tentang negara di kos-kosan tersebut. Beberapa aktivis pergerakan nasional seperti, Soekarno, Kartosoewiryo, Abikoesno, Alimin hingga Muso pernah berinteraksi di tempat itu.
Bahkan di tempat itu pernah digelar pernikahan Soekarno dengan anak pak kostnya. Namun, pernikahan antara Soekarno dan Oetari tidak seperti pernikahan pada umumnya. Soekarno mengakui bahwa pernikahan ini lebih sebagai bentuk penghormatan dan rasa kasihan terhadap Tjokroaminoto yang telah banyak berjasa dalam hidupnya.
Tak heran, banyak akademisi yang tertarik mengkaji dinamika sejarah kos-kosan tersebut. Salah satunya, M. Hendra Ramadan dan Nasution. Keduanya merupakan periset dari Program Studi Pendidikan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Negeri Surabaya.
Temuan riset yang terbit tahun ini, menganggap bahwa Rumah H.O.S. Tjokroaminoto dapat dijadikan model penyelenggaraan pendidikan informal yang baik.
Pada sekitar tahun 1912, istri Tjokroaminoto membuka rumah mereka sebagai tempat kost bagi para pelajar dari berbagai sekolah milik pemerintah Hindia Belanda di Surabaya, seperti Hogere Burger School (HBS), Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO), Middlebare Technise School (MTS), dan Nedherland Indische Artschen School (NIAS).
Bahkan pada tahun 1918, jumlah keseluruhan pelajar yang tinggal di kos-kosan itu berkisar antara 18 hingga 20 orang. Jadi perkembangan sangat pesat.
Apalagi juga tercatat, beberapa tokoh besar lahir dari pendidikan yang kembangkan oleh Tjokroaminoto dan keluarganya. Kualitas pendidikan yang ditawarkan mampu menarik minat banyak pihak dan tokoh pergerakan.
Tentu, salah satunya termasuk ayah Soekarno. Bahkan ia juga tercatat menitipkan puteranya di sana.
Ramadan dan Nasution melihat ada upaya penyelenggaraan pendidikan nasionalisme informal di kos-kosan itu. Tidak hanya fokus pada aspek akademis tetapi juga pada pembentukan karakter dan nilai-nilai kebangsaan.
Para pelajar yang tinggal di sana tidak hanya belajar ilmu pengetahuan tetapi juga mendapatkan bimbingan langsung dari Tjokroaminoto, yang merupakan seorang tokoh pergerakan nasional. Mereka dididik untuk menjadi pribadi yang mandiri, berwawasan luas, dan berjiwa patriotik.
Model pendidikan ini menunjukkan bahwa pendidikan informal yang diterapkan dalam lingkungan keluarga dapat menjadi alternatif yang efektif dan berkualitas tinggi. Rumah Tjokroaminoto menjadi tempat di mana para pelajar tidak hanya mendapatkan ilmu tetapi juga inspirasi dan semangat perjuangan.
Model ini dapat menjadi contoh bagi penyelenggaraan pendidikan informal di masa kini, di mana pendidikan karakter dan nilai-nilai kebangsaan menjadi bagian penting dari proses pendidikan.