Lagu Adat Manuk Dadali, Disebut-sebut Ajarkan Nilai Kebangsaan Pancasila

Tuesday, 1 October 2024 - 16:59 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Gambar Lagu Adat Manuk Dadali, Disebut-sebut Ajarkan Nilai Kebangsaan Pancasila (Sumber; Grafis Frensia)

Gambar Lagu Adat Manuk Dadali, Disebut-sebut Ajarkan Nilai Kebangsaan Pancasila (Sumber; Grafis Frensia)

Frensia.id- Lagu adat Manuk Dadali memang sangat unik. Lagu tersebut masuk sebagai salah satu musik adat yang banyak diketahui, khususnya yang dikenal oleh masyarakat Jawa Barat.

Ternyata lagu tradisional tersebut, berhubungan dengan Pancasila. Sehingga cocok dinyanyikan saat ini, 01 Oktober, Hari Kesaktian Pancasila.

Faza Ridwan, seorang akademisi dari Universitas Pasundan, berusaha menguraikan makna mendalam dari lagu tradisional Jawa Barat “Manuk Dadali” yang menggambarkan kegagahan burung garuda, simbol negara Indonesia. Lagu ini bukan sekadar nyanyian biasa, melainkan memiliki pesan kebangsaan yang kuat dan sarat akan nilai-nilai Pancasila, dasar ideologi negara Indonesia. Melalui irama dan liriknya, lagu ini berhasil menyampaikan semangat persatuan dan kebanggaan akan Indonesia.

Lagu “Manuk Dadali” diciptakan oleh Sambas Mangundikarta dan dikenal luas di masyarakat Sunda. Dalam bahasa Sunda, manuk dadali berarti burung garuda. Burung ini, dalam konteks lagu, digambarkan sebagai makhluk yang gagah perkasa, dengan kemampuan terbang tinggi di angkasa, paruhnya tajam, dan cengkeramannya kuat.

Baca Juga :  Menarik! Riset Prof Joni Aasi, Direktur UNESCO, Tentang Kerusakan Akibat Bom di Gaza

Gambaran ini sejatinya mewakili karakter burung garuda yang juga menjadi lambang negara Indonesia, yaitu Garuda Pancasila. Sejak lama, burung garuda dianggap sebagai simbol kekuatan, kemerdekaan, dan kejayaan bangsa.

Irama lagu “Manuk Dadali” membawa nuansa nasionalisme yang kental dengan balutan nada khas Sunda yang dinamis dan atraktif. Lagu ini bukan hanya indah didengar, tetapi juga penuh makna, mencerminkan semangat perjuangan bangsa dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan. Melalui simbol burung garuda, lagu ini mengajak kita untuk memahami bahwa bangsa Indonesia terdiri dari beragam suku, agama, dan budaya, namun tetap bersatu di bawah panji Garuda Pancasila. Pesan inilah yang mencerminkan sila ketiga Pancasila, yaitu “Persatuan Indonesia.”

Lebih dari sekadar lambang negara, burung garuda dalam lagu “Manuk Dadali” juga menjadi representasi nilai-nilai luhur Pancasila yang seharusnya dipegang teguh oleh setiap warga negara, khususnya generasi milenial. Faza Ridwan dalam artikelnya menyoroti pentingnya generasi muda untuk menginternalisasi nilai-nilai Pancasila, seperti toleransi, persatuan, dan keadilan sosial, yang semuanya tercermin dalam makna lagu ini.

Baca Juga :  UIN KHAS Jember Berduka! Pakar Ilmu Komunikasi Islam Wafat

Di tengah era globalisasi yang serba cepat dan penuh perubahan, penting bagi generasi milenial untuk tetap berakar pada nilai-nilai kebangsaan. Lagu “Manuk Dadali” berperan sebagai pengingat bahwa persatuan dan keberagaman adalah kekuatan bangsa. Lagu ini menyampaikan pesan bahwa meskipun Indonesia terdiri dari beragam latar belakang, Pancasila sebagai ideologi dan burung garuda sebagai lambangnya menyatukan seluruh elemen bangsa.

Dengan demikian, lagu “Manuk Dadali” bukan hanya lagu daerah yang penuh warna budaya, tetapi juga media untuk menanamkan nilai-nilai kebangsaan dalam diri generasi muda. Semangat persatuan dan nasionalisme yang terkandung dalam lagu ini diharapkan tetap terpatri dalam hati setiap warga Indonesia.

Follow WhatsApp Channel frensia.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Baca Lainnya

Buku Dewan Fiqh Amerika, Menggugat Mitos Rukyah dan Menuju Kepastian Astronomi
Riset Orientalis Ungkap Inkonsistensi Moral dan Disiplin Diri Saat Ramadhan Para Pemuda Mesir
Menarik! Riset Prof Joni Aasi, Direktur UNESCO, Tentang Kerusakan Akibat Bom di Gaza
CEO Tesla Merasa Tidak Bahagia, Begini Penjelasannya
Peneliti Universitas Esa Unggul Sebut Kepentingan Konglomerat Media Rusak Demokrasi Pers
Logika Penguasaan Negara Pada Karya Jurnalistik Diteliti Akademisi
Dispendik Jember Lakukan Trauma Healing di SDN 02 Jelbuk Usai Insiden Guru Over Reaktif
Oknum Guru SD di Jelbuk Jember Telanjangi Murid Gegara Hilang Uang, Dispendik Tarik Pelaku dari Sekolah

Baca Lainnya

Saturday, 14 February 2026 - 01:53 WIB

Buku Dewan Fiqh Amerika, Menggugat Mitos Rukyah dan Menuju Kepastian Astronomi

Saturday, 14 February 2026 - 01:29 WIB

Riset Orientalis Ungkap Inkonsistensi Moral dan Disiplin Diri Saat Ramadhan Para Pemuda Mesir

Saturday, 14 February 2026 - 01:01 WIB

Menarik! Riset Prof Joni Aasi, Direktur UNESCO, Tentang Kerusakan Akibat Bom di Gaza

Wednesday, 11 February 2026 - 15:57 WIB

CEO Tesla Merasa Tidak Bahagia, Begini Penjelasannya

Tuesday, 10 February 2026 - 18:34 WIB

Peneliti Universitas Esa Unggul Sebut Kepentingan Konglomerat Media Rusak Demokrasi Pers

TERBARU