Frensia.id- Lagu Iwan Fals yang berjudul “Wakil Rakyat” ternyata sangat istimewa. Beberapa ada akademisi mengkajinya dan menemukan latar historisnya adalah kekejaman politik orde baru.
Iwan Fals telah masyhur dengan lagu-lagu kritik sosialnya. “Wakil Rakyat” adalah salah satu lagu yang tajam yang mengkritik pemerintah, utamanya pemerintah orde baru.
Walaupun sejumlah lagu diciptakan di era Orde baru, makna masih kekal. Hingga saat ini lagu tersebut masih dinyanyikan, bahkan oleh generasi-generasi mudah.
Salah satu peneliti yang berupaya mengurai sejarah di balik pembuatan lagu demikian, adalah periset dari IPB University, bernama Muhammad Yusran Darmawan.
Penelitiannya yang disusun dalam bentuk jurnal ini, telah tebit dalam Jurnal I-Pop pada tahun 2020. Beberapa bagian dari hasil kajiannya, menghasilkan temuan menarik yang berisi interpretasi sejarah kekejaman orde baru.
Yusron menjelaskan bahwa lagu tersebut tidak terlepas dari fenomena politik yang terjadi selama tahun 1980-an. Pada tahun itu, skema parlementer multipartai sebenarnya telah berkembang di Indonesia, akan tetapi, partai Golkar, membuat sistem itu tak berdaya.
Partai ini memutuskan untuk membentuk koalisi fungsional yang terdiri dari kelompok-kelompok yang bersekutu dengan militer dan birokrasi. Mereka mendominasi pemilihan umum yang direkayasa oleh negara dan mengendalikan seluruh agenda politik dalam apa yang disebut sebagai ‘sistem partai hegemonik.
Kampanye pemilu telah ada bahkan diberi label “Festival Demokrasi”. Pelakasanaan seolah hanya bersifat ritualistik dan tertib dalam retorikanya.
Hanya saja, tetap, di balik layar, militer tetap menjadi penengah utama kekuasaan. Meskipun Orde Baru memiliki prestasi besar dalam bidang ekonomi, kebebasan berekspresi tidak dijamin. Pemerintah mengandalkan sentralisasi kekuasaan yang kuat di tangan Presiden Soeharto dan para pengikutnya.
Akibatnya, kebebasan politik ditekan melalui kekerasan fisik, penahanan, dan pelarangan publikasi yang jelas semuanya tampak menampilkan pelanggaran yang kejam. Kekuasaan politik Orde Baru ditandai oleh karakter birokrasi otoriter yang mendominasi peran negara di semua bidang.
Begitu otoriter dan sentralistis. Orde baru dikuasai satu kalangan saja. Mereka yang berposisi sebagai penguasa, mudah melakukan penindasan. Utamanya, bagi semua kekuatan politik yang berlawanan dengan penguasa orde baru.
Adapun potongan lirik lagunya, adalah sebagaimana berikut ini:
Wakil rakyat bukan kumpulan orang hebat
Bukan kumpulan teman-teman dekat
Apalagi sanak famili
Di hati dan lidahmu kami berharap
Suara kami tolong dengar lalu sampaikan
Kami tak sudi memilih para juara
Juara diam, juara malas, juara hahaha
Wakil rakyat seharusnya merakyat
Jangan tidur waktu sidang soal rakyat
Wakil rakyat bukan paduan suara
Hanya tahunya nyanyian lagu setuju