Frensia.id – Dalam upaya membangun mimpi perubahan dan mewujudkan desa inklusif, Tim Teknis Program Penguatan Pemerintah dan Pembangunan Desa (P3PD) Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Lumajang menggelar kegiatan Theory of Change (ToC) yang kedua.
Acara ini berlangsung pada hari Selasa (28/05/2024) di Pondok Asri Restaurant Lumajang dan dihadiri oleh berbagai elemen masyarakat, termasuk perangkat desa, tokoh agama, serta kepala desa.
Theory of Change adalah metode yang digunakan untuk merencanakan dan mengevaluasi inisiatif perubahan sosial.
Metode ini membantu pemangku kepentingan dalam mengidentifikasi tujuan jangka panjang, langkah-langkah yang diperlukan untuk mencapainya, serta asumsi-asumsi yang mendasari perubahan tersebut.
Ketua Tim Teknis P3PD Lakpesdam PCNU Lumajang, Muhammad Farid, dalam sambutannya menyatakan pentingnya partisipasi aktif seluruh elemen masyarakat dalam proses pembangunan desa yang inklusif.
“Desa inklusif bukan hanya sekadar visi, tetapi sebuah keharusan agar semua warga desa, termasuk kelompok yang selama ini terpinggirkan, dapat merasakan manfaat pembangunan,” ujar Farid.
Kegiatan ToC ini melibatkan diskusi mendalam mengenai tantangan-tantangan yang dihadapi oleh desa-desa di Lumajang dalam mewujudkan desa yang inklusif.
Peserta diajak untuk berpikir kritis dan konstruktif tentang cara-cara yang dapat ditempuh untuk memastikan bahwa semua warga desa, tanpa terkecuali, memiliki akses yang sama terhadap sumber daya dan kesempatan.
Kegiatan ini menghadirkan narasumber berpengalaman, Gus Hasan Sobri, yang menjelaskan tahapan-tahapan dalam Theory of Change, mulai dari identifikasi masalah, penentuan tujuan, pengembangan strategi, hingga evaluasi hasil.
Gus Hasan Sobri juga mengajak para peserta untuk terlibat dalam diskusi dan latihan praktik guna memperkuat pemahaman mereka.
Tak hanya itu, dalam sambutannya oleh Pak Ahsan, Kabid Bina Pemdes DPMD Kabupaten Lumajang mengatakan bahwa kegiatan ini merupakan kolaboratif penting di masa depan dalam mewujudkan visi pemerintah daerah.
Karena membangun mimpi desa yang inklusi membutuhkan waktu yang panjang, karenanya kegiatan menjadi pendobrak dalam mewujudkan mimpi tersebut.
Dengan adanya kegiatan seperti ini, diharapkan mimpi perubahan menuju desa inklusif dapat semakin dekat dengan kenyataan.
Lakpesdam PCNU Lumajang bertekad untuk terus mendampingi dan mendorong desa-desa di Lumajang agar mampu menjadi contoh desa inklusif yang dapat ditiru oleh daerah-daerah lain di Indonesia. (*)