Frensia.id – Lebaran sudah tiba, dan seperti biasa, dua kelompok merayakannya dengan cara yang kontras. Yang satu sibuk menampilkan gemerlap: baju baru yang masih berbau pabrik, meja makan penuh hidangan seperti parade kuliner yang lebih pantas untuk pesta negara, dan tentu saja, postingan media sosial yang menyerupai katalog kemakmuran tahunan.
Sementara Yang lain merayakan dengan sederhana, dengan doa yang lirih, senyum yang tulus, dan hidangan sekadarnya, karena bagi mereka, kebahagiaan tak selalu diukur dari jumlah lembaran rupiah di dalam amplop Lebaran.
Tetapi benarkah Lebaran hanya tentang perayaan? Ada yang lebih mendasar: bagaimana kita memahami kemenangan setelah sebulan penuh menahan diri. Apakah kemenangan itu diukur dari berat badan yang tetap stabil meski berbuka dengan penuh strategi? Ataukah dari suksesnya seseorang menghindari pertanyaan klise dari sanak saudara seperti “kapan menikah?” atau “kerja di mana sekarang?”
Lebaran, jika mau dipahami lebih dalam, bukan sekadar perayaan seremonial. Ia harusnya menjadi momen refleksi—setidaknya bagi mereka yang masih percaya bahwa agama bukan hanya soal ritual, tapi juga soal kemanusiaan. Sebulan penuh kita berlatih untuk menahan lapar dan dahaga, tapi apakah kita juga berlatih menahan ego?
Jika sebulan puasa berhasil menutup mulut dari makanan, mengapa sulit menutupnya dari kata-kata yang menyakitkan? Jika menahan haus bisa dilakukan, mengapa dahaga akan pujian dan gengsi tak kunjung berkurang?
Di sinilah pentingnya Lebaran yang membumi. Sebuah Lebaran yang tak hanya dipenuhi dengan kesibukan membalas ribuan pesan “mohon maaf lahir dan batin”—yang jujur saja, sebagian besar dikirim hanya untuk memenuhi etiket sosial. Lebaran yang membumi adalah Lebaran yang memberi ruang untuk melihat ke sekitar: apakah di balik kemeriahan ini ada saudara-saudara kita yang masih berjuang sekadar untuk menikmati sesuap ketupat?
Anehnya, setiap tahun kita mengulang kebiasaan yang sama. Bersilaturahmi dengan penuh kehangatan, tapi hanya untuk beberapa hari. Setelah itu? Jalanan kembali dipenuhi kemarahan, media sosial kembali menjadi ajang perdebatan, dan masyarakat kembali ke kebiasaan lama: lebih sibuk mencari kesalahan orang lain ketimbang memperbaiki diri sendiri.
Lebaran yang membumi seharusnya mengajarkan bahwa kemenangan sejati bukan sekadar kembali ke fitrah, tetapi juga menjaga fitrah itu tetap utuh dalam kehidupan sehari-hari. Apa gunanya saling memaafkan di Hari Raya jika besok lusa kita kembali saling mencurigai?
Seharusnya, kita belajar untuk lebih santai dalam melihat hidup. Tidak perlu setiap perbedaan pendapat ditanggapi seperti perkara hidup dan mati. Tidak semua orang harus sepakat dalam segala hal. Lebaran yang membumi bukanlah tentang siapa yang lebih suci atau lebih alim, tetapi tentang bagaimana kita bisa lebih rendah hati dan lebih tulus dalam memperlakukan orang lain.
Kalau Lebaran hanya membuat kita lebih sibuk dengan penampilan luar, sementara hati tetap penuh prasangka, maka mungkin yang kita rayakan bukan kemenangan, melainkan hanya jeda sebelum kembali ke kebiasaan lama.
Jadi, di antara takbir yang bergema dan aroma opor ayam yang menguar, mari bertanya pada diri sendiri: apakah kita benar-benar menang? Atau hanya sekadar menjalani ritual tahunan yang makin lama makin kehilangan makna?
Lebaran yang membumi adalah Lebaran yang tidak hanya kembali ke kampung halaman, tetapi juga kembali ke hati yang lebih luas, lebih lapang, dan lebih siap untuk menerima bahwa manusia, dengan segala kekurangannya, tetap harus dirangkul dengan kasih sayang.
Selamat Lebaran. Jangan lupa membumi!