Frensia.id – Maria Zakharova, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Rusia ikut angkat bicara tentang ketegangan di Semenanjung Korea yang semakin meningkat dalam beberapa hari terakhir.
Berdasarkan pernyataan resmi yang dikeluarkan oleh Pyongyang, wilayah Republik Rakyat Demokratik Korea (DPRK), termasuk ibu kota Pyongyang, telah menjadi sasaran serangan tak terduga oleh kendaraan udara tak berawak yang berasal dari Korea Selatan.
Serangan ini, yang disertai penyebaran materi propaganda, dinilai sebagai pelanggaran serius terhadap kedaulatan DPRK.
Menanggapi situasi ini, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Maria Zakharova, memberikan pernyataan resmi terkait eskalasi tersebut.
Zakharova menegaskan bahwa tindakan yang diambil oleh Seoul, terutama dalam konteks penggunaan drone dan penyebaran propaganda, adalah campur tangan yang mencolok dalam urusan internal Korea Utara.
“Tindakan Seoul hanya dapat diartikan sebagai pelanggaran yang mencolok terhadap kedaulatan DPRK dan campur tangan dalam urusan internalnya,” jelas Zakharova pada 14/10/2024.
Ia menekankan bahwa langkah ini bukan hanya merusak sistem politik dan pemerintahan DPRK, tetapi juga merupakan ancaman terhadap hak DPRK sebagai negara merdeka untuk mempertahankan kedaulatannya.
“Pihak berwenang Korea Selatan harus segera menanggapi peringatan dari Pyongyang dengan serius,” ujar Zakharova dalam pernyataannya.
Ia memperingatkan bahwa tindakan provokatif Seoul dapat memicu konfrontasi bersenjata yang lebih luas di Semenanjung Korea, mengingat situasi yang kian panas.
Maria Zakharova juga menyoroti bahwa apa yang dilakukan oleh Korea Selatan untuk menyebarkan nilai-nilai pseudo-liberal dengan tujuan penggabungan Korea Utara dan Selatan menimbulkan risiko keamanan yang besar.
“Sangat penting bagi Seoul untuk mengakui bahwa penyebaran konsep penggabungan kedua Korea oleh Korea Selatan melalui penerapan nilai-nilai pseudo-liberal dan perluasan kebebasan tertentu memunculkan risiko keamanan, terutama bagi warga negaranya sendiri,” tegasnya.
Lebih lanjut, Rusia menyerukan pentingnya pendekatan politik dan diplomatik dalam menangani konflik ini.
Zakharova menegaskan bahwa hanya tindakan politik yang berdasarkan pada prinsip keamanan dapat menjamin perdamaian dan stabilitas jangka panjang di kawasan tersebut.
Ia juga menekankan bahwa opsi militer seharusnya bukan menjadi solusi, kecuali jika memang itu yang diinginkan Korea Selatan dan sekutu utamanya, Amerika Serikat.
Rusia, melalui kerangka Perjanjian Kemitraan Strategis Komprehensif dengan DPRK, berkomitmen untuk terus memainkan peran konstruktif dalam upaya menjaga stabilitas di Semenanjung Korea.
Ia juga mengatakan bahwa Rusia akan terus berupaya untuk mencegah perkembangan situasi yang lebih berbahaya dan mendukung solusi diplomatik yang berkelanjutan demi perdamaian di kawasan tersebut.
“Rusia berkomitmen untuk memainkan peran konstruktif di Semenanjung Korea, berupaya untuk mencegah perkembangan yang berbahaya dan mengarahkan situasi ke arah yang positif,” tambahnya.