Martin Van Bruinessen, Pakar Barat yang Sebut Tradisi dan Naskah Sufisme Indonesia Harta Karun

Saturday, 18 January 2025 - 08:25 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Gambar Martin Van Bruinessen, Pakar Barat yang Sebut Tradisi dan Naskah Sufisme Indonesia Harta Karun (Sumber: Frensia Grafis)

Gambar Martin Van Bruinessen, Pakar Barat yang Sebut Tradisi dan Naskah Sufisme Indonesia Harta Karun (Sumber: Frensia Grafis)

Frensia.id – Martin Van Bruinessen, seorang pakar barat yang dikenal luas dalam kajian Islam, khususnya tradisi sufisme Indonesia, menyebut bahwa tradisi dan naskah lokal tentang sufisme di Nusantara adalah harta karun intelektual yang patut dijaga.

Pernyataan ini termuat dalam penelitiannya yang berjudul Studies of Sufism and the Sufi Orders in Indonesia, yang diterbitkan pada tahun 1998 di jurnal Die Welt des Islams, Brill, Leiden.

Menurut Bruinessen, Indonesia, sebagai negara Muslim terbesar di dunia, memiliki sejarah tasawuf yang kaya dan menonjol. Kehadiran tasawuf di Indonesia, yang telah mewarnai peradaban Islam di wilayah ini sejak masa lampau, seharusnya menarik perhatian ilmiah yang lebih besar, tidak hanya dari spesialis regional tetapi juga dari komunitas akademik global. Namun, ia menyoroti bahwa kajian-kajian tentang tasawuf Indonesia masih tertinggal dibandingkan dengan kajian serupa di wilayah lain dalam dunia Islam.

Salah satu hambatan utama, menurutnya, adalah keterasingan linguistik. Banyak karya mendasar tentang tasawuf Indonesia ditulis dalam bahasa Belanda dan Indonesia, sehingga sulit diakses oleh akademisi dari wilayah lain.

Hal ini mengakibatkan minimnya interaksi antara sarjana Islam Indonesia dan akademisi yang meneliti tasawuf di bagian lain dunia Muslim.

Baca Juga :  Berkat Lobi Perempuan, Sukarno Membatalkan Hukuman Mati Seorang Agen CIA

Sejarah kajian ilmiah tentang sufisme di Indonesia berawal pada paruh kedua abad ke-19, bertepatan dengan perubahan kolonialisme Belanda yang beralih dari dominasi perdagangan ke kontrol teritorial langsung. Penetrasi Belanda ke wilayah-wilayah luar seperti Aceh dan Sumatra Barat mempertemukan mereka dengan gerakan-gerakan perlawanan yang sering dipimpin oleh tarekat sufi.

Dalam konteks ini, muncul apa yang disebut sebagai littérature de surveillance, yaitu kajian tentang tarekat sufi yang dilakukan oleh pejabat kolonial untuk kepentingan keamanan. Salah satu tokoh utama yang muncul pada masa ini adalah Snouck Hurgronje, yang disebut Bruinessen sebagai pelopor kajian Islam Indonesia di Leiden.

Meski begitu, kontribusi terbesar dalam kajian sufisme Indonesia tidak datang langsung dari Snouck, melainkan dari murid-muridnya. Mereka mulai mengumpulkan, menganalisis, dan mempublikasikan teks-teks karya para sufi Nusantara.

Namun, kelangkaan sumber tertulis dalam bahasa Melayu dan kompleksitas teks-teks kuno dalam bahasa Jawa atau bahasa lokal lainnya menjadi tantangan besar dalam perkembangan kajian ini.

Martin Van Bruinessen juga menyoroti pentingnya pekerjaan pendahuluan dalam penelitian, seperti pengumpulan, identifikasi, katalogisasi, dan transliterasi manuskrip.

Baca Juga :  Tragedi Natal, Pernah Dikaji Pakar Riset Konflik Politik

Menurutnya, pekerjaan ini tidak hanya dilakukan oleh akademisi ternama tetapi juga oleh banyak individu yang melakukan observasi lokal dan mencatat praktik-praktik sufisme di berbagai daerah. Kemajuan dalam proyek-proyek mikrofilm dan katalogisasi modern telah membuka akses yang lebih luas terhadap koleksi naskah besar Indonesia. Hal ini memberi harapan baru untuk kajian sufisme di Nusantara.

Namun, Bruinessen menekankan bahwa upaya ini harus dilanjutkan dengan serius. Banyak laporan penelitian, tesis, dan disertasi dari universitas-universitas di daerah menyimpan data deskriptif penting tentang praktik-praktik sufisme lokal.

Sayangnya, kondisi perpustakaan yang buruk di beberapa institusi berpotensi menyebabkan hilangnya harta karun intelektual ini. Ia mengingatkan bahwa dokumen-dokumen tersebut adalah materi primer yang berharga bagi penelitian masa depan.

Dengan ketersediaan sumber daya dan teknologi saat ini, Bruinessen percaya bahwa penelitian-penelitian besar yang baru tentang sufisme Indonesia seharusnya dapat dilakukan.

Tradisi intelektual dan naskah-naskah lokal ini adalah aset luar biasa yang perlu dilestarikan demi memahami lebih dalam warisan Islam Indonesia yang kaya.

Follow WhatsApp Channel frensia.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Baca Lainnya

Muslim di Indonesia Merayakan Natal? Dulu Ketua MUI Pernah Mundur Karena Masalah ini
Film Komedi Keren Tentang Perayaan Natal, “Christmas Every Day” Karya William Dean Howells
Tragedi Natal, Pernah Dikaji Pakar Riset Konflik Politik
Berkat Lobi Perempuan, Sukarno Membatalkan Hukuman Mati Seorang Agen CIA
Rabo Wekasan: Antara Tradisi, Doa, dan Catatan Ilmiah
Masalah Wong Jowo dan Gembong Narkotika Internasional Era Kolonial, Ini Bukti Dokumennya!
Menengok Ulang Wajah Reformasi 1998
Yayasan Sahabat Ulul Albab Gelar Halal Bihalal Harlah PMII ke-65, Prof. Hepni: UIN KHAS Jember Peletak Dasar NDP PMII

Baca Lainnya

Thursday, 25 December 2025 - 01:23 WIB

Muslim di Indonesia Merayakan Natal? Dulu Ketua MUI Pernah Mundur Karena Masalah ini

Thursday, 25 December 2025 - 01:03 WIB

Film Komedi Keren Tentang Perayaan Natal, “Christmas Every Day” Karya William Dean Howells

Thursday, 25 December 2025 - 00:26 WIB

Tragedi Natal, Pernah Dikaji Pakar Riset Konflik Politik

Saturday, 6 December 2025 - 18:54 WIB

Berkat Lobi Perempuan, Sukarno Membatalkan Hukuman Mati Seorang Agen CIA

Wednesday, 20 August 2025 - 06:14 WIB

Rabo Wekasan: Antara Tradisi, Doa, dan Catatan Ilmiah

TERBARU