Nabi Sebagai Kepala Negara

Jumat, 20 September 2024 - 16:14 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Frensia.id- Saat Nabi Muhammad saw hijrah ke Madinah, dimulailah fase baru dalam sejarah Islam. Di Madinah Islam berkembang menjadi kekuatan politik yang mengatur tatanan masyarakat, berbeda saat seperi di Mekkah yang lebih dipandang sebagai risalah menentang kekuasaan oligarki Quraisy. Di Madinah inilah, Nabi memilki peran sebagai pemimpin agama, sekaligus kepala negara.

Peran ganda Nabi sebagai Rasul dan pemimpin politik membawa kompas perubahan signifikan bagi Madinah. Nabi mengubah kebiasaan yang bertentangan dengan Islam dan menggantinya dengan aturan yang lebih adil. Madinah, meski belum sepenuhnya terstruktur, namun sudah menjadi contoh negara ideal dalam Islam dengan keadilan menjadi landasan utamanya.

Hanya saja, negara baru ini belum dibekali dengan sumber daya yang melimpah. Tidak ada kekayaan atau kas negara yang bisa dimanfaatkan untuk memperkuat pemerintahan. Nabi bergerak cepat, menyadari sepenuhnya membangun negara bukan hanya soal mendidikan masjid dan mengajak umat sholat berjamaa. Lebih dari itu, memerlukan fondasi ekonomi yang kokoh, regulasi yang jelas serta sistem pertahanan yang tangguh.

Langkah awal yang dilakukan Nabi mendirikan masjid. Quraish Shihab dalam Membaca Sirah Nabi Muhammad menyebutkan masjid Nabawi bukan sekadar untuk sholat, tetapi menjadi pusat kegiatan umat muslim. Misalnya tempat musyawarah menyelesaikan problem umat, arena latihan bela negara dan lainnya, sementara di serambi masjid digunakan menjadi semacam guest house dan tempat penampungan.

Masjid yang dibangun Nabi berperan sebagai pusat aktivitas sosial dan politik. Masjid menjadi titik penyelesaian dari berbagai urusan umat kala itu, mulai persoalan agama hingga taktik peperangan, dibahas. Masjid menjadi simbol sekaligus sentrum kehidupan Madinah.

Baca Juga :  Sya'ban bulan Sholawat, Memandu Cinta pada Nabi

Nabi juga mempersatukan kuam Muhajirin dari Mekkah dan Anshor, penduduk pribumi Madinah. Persaudaraan yang nabi bentuk ini sebuah solidaritas yang melampaui batas-batas suku, menegaskan ulang bahwa dalam Isla, keturunan, kabilah atau suku bukanlah parameter menilai manusia. Esensi utamanya adalah semangat saling mendukung dan membantu satu sama lain.

Salain itu, Nabi merancang sistem keuangan negara. Zaqirotul Maghfroh dalam studinya Pemikiran Ekonomi Islam Pada Masa Peradaban Rasulullah saw meyebutkan meski tidak ada kekayaan bisa segera digunakan, nabi menetapkan zakat sebagai pilar utama keuangan negara.

Zakat selain sebagai kewajiban agama, juga mekanisme untuk mendistribusikan kekayaan secara adil. Tujuannya menjaga keseimbangan sosial, sebab negara tidak boleh menjadi penindasan bagi kau lemah dan kekayaan tidak boleh terkonsentrasi pada segelintir orang saja.

Kemudian, Nabi juga memperkuat sistem pertahanan. Meskipun Madinah berada dalam kondisi damai, ancaman dari luar bukan berarti tidak ada. Qurais Shihab dalam Membaca Sirah Nabi Muhammad Saw menyebutkan Rasul dan kaum muslim di Madinah sepenuhnya sadar bahwa musyrik Makkah tidak mungkin diam. Nabi merancang sebuah sistem pertahanan yang memastikan Madinah mampu melindungi diri dari serangan musuh.

Sebagai kepala negara Nabi membuat konstitusi dan dasar-dasar kewarganegaraan. Di tengah pluralitas yang didiami berbagai suku, agama dan kepercayaan, Nabi menyusun mitsaq al-madinah atau piagam Madinah. Sebuah konstitusi pertama yang mamastikan hak-hak setiap warga, baik muslim mupun Non-muslim, kaya ataupun miskin, dihormati. Mengafirmasi bagaimana keamanan dan keadilan harus ditegakkan.

Baca Juga :  Istimewa! Warteg Gratis Alfamart Hadirkan 54.000 Paket Berbuka untuk Kaum Duafa di 36 Kota

Melalui dasar kewarganegaraan, Nabi ingin memastikan seorang warga negara tidak hanya melulu soal tempat tinggal atua keturunan. Melainkan juga melekatnya hak dan kewajiban, bahwa setiap individu memilik peran dan berhak atas keadilan. Dibawah kepemimpinannya sebagai kepala negara, Madinah menjadi contoh nyata dari sebuah negara yang berdiri teguh di atas prinsip keadilan.

Nabi Muhammad Saw telah menunjukkan bahwa kepemimpinan, baik sebagai kepala negara mupun pejabat publik, adalah tanggung jawab, bukan kekuasaan. Nabi mengajarkan kepemimpinan pada hakikatnya terletak pada kesiapan turun kejalan dan menjamin keadilan bagi semua, dari yang kaya hingga yang tertindas.

Kepemimpinan Nabi sebagai kepala negara yang memegang teguh keadilan, seharusnya menjadi role model bagi pemimpin masa kini, apapun jabatannya. Lebih lagi, di negeri ini, prinsip tersebut sering diabaikan, otoritas kepemimpinan lebih digunakan untuk kepentingan pribadi dan kelompoknya. Tak ubahnya sebagai alat untuk menumpuk kekayaan serta mempertahankan status qou.

Di tengah darurat keadilan dan krisis kesenjangan yang semakin tajam, spirit kepemimpinan Nabi sebagai kepala negara menjadi lebih dari sebatas inspirasi, ia adalah kebutuhan mendesak di negeri ini. Pemimpin mestinya sadar ia bukanlah sosok yang dimuliakan tanpa syarat, melainkan pelayan yang menjalankan amanah dengan penuh tanggung jawab. Layaknya Nabi sebagai pemimpin sebuah negara, memimpin bangsanya dengan bijaksana.

*Moh.Wasik (Pengurus LKBHI UIN KHAS Jember, Anggota Dar Al Falasifah Institut)

Follow WhatsApp Channel frensia.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Baca Lainnya

Lima Jawaban Elegan Untuk Pertanyaan Sensitif Saat Lebaran
Dari Mustahik ke Miliarder Kecil, Riset Berikut Ungkap Rahasia Program Zakat di Malaysia yang Sukses Raih RM12.000 per Bulan
Manifesto Zakat: Cinta, Kemanusiaan, dan Keadilan
Mereguk Sahur, Meneguk Cahaya Ramadhan
Ramadhan dan Kita yang Sibuk Sendiri
Sekolah Tiga Bahasa Rukun Harapan Jember: Jodoh Perjuangan Gus Dur dengan Pendiri Yayasan
Bikin Haru, Jawaban Nyai Sinta Ketika Ditanya Tentang Kebiasaan Buka Puasa Gus Dur
Viral Pedagang Bakso Jember Diringkus Polisi Diduga Gelapkan Uang Arisan 3 M, Begini Kronologinya

Baca Lainnya

Selasa, 1 April 2025 - 08:23 WIB

Lima Jawaban Elegan Untuk Pertanyaan Sensitif Saat Lebaran

Kamis, 27 Maret 2025 - 21:23 WIB

Dari Mustahik ke Miliarder Kecil, Riset Berikut Ungkap Rahasia Program Zakat di Malaysia yang Sukses Raih RM12.000 per Bulan

Selasa, 25 Maret 2025 - 15:26 WIB

Manifesto Zakat: Cinta, Kemanusiaan, dan Keadilan

Selasa, 18 Maret 2025 - 18:52 WIB

Mereguk Sahur, Meneguk Cahaya Ramadhan

Sabtu, 15 Maret 2025 - 17:41 WIB

Ramadhan dan Kita yang Sibuk Sendiri

TERBARU

Don Quixote, Tokoh fiksi karangan Miguel De Cervantes

Kolomiah

Kita Adalah Don Quixote yang Terhijab

Jumat, 4 Apr 2025 - 13:02 WIB

Kolomiah

Lebaran yang Membumi

Rabu, 2 Apr 2025 - 23:14 WIB