Frensia.id – Novel Orang-Orang Proyek adalah salah satu karya terbaik dari Ahmad Tohari, seorang sastrawan Indonesia yang telah lama dikenal karena kemampuannya mengangkat isu-isu sosial melalui narasi yang kuat dan menggugah.
Buku ini terdiri dari 224 halaman yang bercerita melalui lensa kehidupan masyarakat desa, terutama dalam konteks pembangunan yang seringkali dipenuhi dengan kepentingan politik dan korupsi. Dalam karya ini, Tohari tidak hanya menyajikan drama politik, tetapi juga menyoroti relasi manusia, idealisme, dan keserakahan.
Kisah berfokus pada Kabul, seorang insinyur yang merupakan mantan aktivis mahasiswa. Kabul dihadapkan pada tantangan besar saat dipercaya memimpin proyek pembangunan jembatan di desanya.
Proyek yang seharusnya menjadi jalan untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat, justru terjebak dalam kepentingan politik dan penguasaan ekonomi para elit. Idealismenya sering berbenturan dengan realitas yang kotor, di mana mutu bangunan bukanlah prioritas utama.
Masalah ini semakin diperparah dengan adanya korupsi dan penggelapan dana yang melibatkan hampir semua pihak terkait, baik dari kalangan politik maupun manajemen proyek.
Tohari dengan cermat menggambarkan konflik batin yang dirasakan Kabul. Ia berjuang untuk mempertahankan idealismenya sementara harus berhadapan dengan kenyataan pahit tentang korupsi dan keserakahan yang merajalela.
Pertanyaan mendasar yang diangkat novel ini adalah: “Apakah kejujuran selalu sejalan dengan kemiskinan?” Tohari mengajak pembaca untuk merenungkan arti sebenarnya dari kejujuran, dan bagaimana nilai-nilai tersebut dapat bertahan di tengah tekanan dan godaan.
Salah satu tema sentral dalam novel ini adalah konflik antara kejujuran dan keserakahan. Tohari berhasil menggambarkan dilema etis yang dihadapi Kabul. Apakah dia harus mengorbankan prinsip-prinsipnya demi kepentingan pribadi ataukah dia harus tetap teguh pada keyakinannya meski harus merelakan proyek yang ambisius ini? Melalui pertarungan ini, novel ini mengajak pembaca untuk memahami bahwa kejujuran seringkali disertai dengan risiko tinggi.
Tohari juga menyelipkan elemen romansa dalam cerita, memperkenalkan karakter Wati yang memberikan warna baru dalam dunia Kabul. Hubungan mereka tidak hanya menambah kedalaman karakter, tetapi juga memberikan kita gambaran tentang bagaimana cinta dapat tumbuh di tengah kesulitan dan kegelapan.
Humor pun tidak dilupakan; karakter Tante Ana yang eksentrik mempersembahkan momen yang menghibur dan menunjukkan sisi humanis dalam kondisi yang serba sulit.
Dalam konteks masyarakat Indonesia, novel ini merangkum banyak realitas yang dihadapi oleh desa-desa kecil, terutama terkait dengan pembangunan dan intervensi politik. Khalayak pembaca dihadapkan pada gambaran jelas tentang bagaimana pembangunan sering kali dimanfaatkan sebagai alat untuk mencapai kepentingan politik, di mana masyarakat yang seharusnya diuntungkan justru menjadi korban.
Melalui narasi yang tinggi empati, Tohari menyerukan pentingnya keterlibatan masyarakat dalam proses pembangunan agar hasilnya benar-benar bisa dirasakan bersama.
Menggunakan bahasa yang puitis namun mudah dipahami, Tohari menciptakan suasana yang kental dan mengundang pembaca untuk menjelajahi pemikiran di balik kata-katanya. Pembaca diajak menyelami psikologi tokoh-tokoh yang beragam, dari yang idealis hingga yang pragmatis, memberikan gambaran komprehensif tentang konflik nilai yang ada. (*)