Obrolan Orang Desa Seputar Pilkada

Thursday, 28 November 2024 - 23:05 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Frensia.id- Di hari H pemilihan kepala daerah, suasana desa selalu ramai dengan pembicaraan yang beragam. Bagi beberapa penduduk desa, pilkada adalah saat yang tidak hanya dipenuhi oleh ketegangan, tetapi juga oleh canda dan tawa. Seperti saat itu, masyarakat berkumpul di kedai kopi, di tepi jalan, atau di lapangan, mendiskusikan berbagai hal yang berkaitan dengan para calon pemimpin daerah mereka.

“Calon itu sepertinya akan menang. Lihat saja, berduyun-duyun orang datang ke rumahnya sampai berjubel” adalah salah satu bentuk basa-basi sembari menyeruput kopi. Obrolan seperti ini, memang seringkali menjadi pembicaraan yang menghangatkan suasana. Di desa, hasil pemilihan kepala daerah tidak hanya tentang siapa yang lebih mumpuni, tetapi siapa lebih dekat dengan masyarakat dan pandai dalam menjalin kedekatan.

Namun, tidak semua percakapan berjalan lancar dan bahagia. Ada juga yang menggoda dengan suara setengah serius, “Janji-janji dari para calon itu seperti air yang sudah dicampur gula, manis untuk sejenak, tapi kemudian menghilang.” Sindiran ini mengingatkan akan kenyataan pahit yang sering terjadi setelah pemilukada — janji-janji yang tak kunjung ditepati. Beberapa orang di desa bahkan sudah sangat paham mengenai hal ini, menyebutkan dengan jelas berbagai janji calon yang tidak pernah terealisasi pasca mereka terpilih.

Baca Juga :  Prof Busriyanti Angkat Maqasid Al-Usrah sebagai Paradigma Pembentukan Keluarga Islam dalam Orasi Ilmiah Guru Besar

Di tengah obrolan ini, isu uang dalam politik selalu menjadi topik yang tidak pernah terlewatkan. “Tentu ada uang untuk imbalan, biasa masyarakat menyebut istilah tongket (settong saeket) atau satu suara, lima puluh ribu. Jika tidak, siapa yang akan datang ke tempat pemungutan suara, terutama yang lokasinya jauh?” Basa-basi yang kerap kali muncul setiap pemilukada. Ihwal Ini, memperlihatkan kenyataan pahit yang terjadi dalam banyak pemilihan, khususnya di desa-desa.

Praktik ini masih banyak ditemukan, terutama di beberapa wilayah tertentu, meskipun terdapat peraturan yang melarang politik uang. Seperti yang dijelaskan oleh M. EZA Helyatha Begouvic dalam risetnya Money Politik Pada Kepemiluan Di Indonesia, SOL justicia, (202), fenomena ini muncul karena ada kelemahan dalam penerapan hukum yang berlaku. Selain itu, pengaruh budaya setempat juga membentuk pandangan masyarakat terhadap politik uang.

Baca Juga :  Prof Busriyanti Usul Ada Percepatan Karier Guru Besar Perempuan di UIN KHAS Jember

Masyarakat menganggap politik uang sebagai salah satu cara untuk mendapatkan dukungan dalam pemilu. Praktik ini sudah dipandang sebagai hal yang umum. Bahkan, seringkali dianggap sebagai bagian dari proses pemilihan yang sah, meskipun tidak dinyatakan secara langsung.

Namun, selain obrolan mengenai kandidat dan janji-janji manis para calon, seringkali perbincangan tentang pilkada juga diwarnai dengan lelucon mengenai keunikan anggota tim sukses. “Si A dari tim sukses itu, saat berbicara, bisa membuat orang terpesona. Tetapi ketika dihitung-hitung, yang hadir di rumah ternyata hanya segelintir orang saja. Itu adalah gambaran tentang bagaimana warga desa melihat keramaian yang diciptakan oleh tim sukses yang sering kali sangat berbeda dari realitas yang ada.

Pilkada sebenarnya lebih dari sekadar perayaan demokrasi, ia juga merupakan kesempatan bagi penduduk desa untuk saling bertukar cerita, tertawa bersama, dan kadang-kadang merenungkan sejenak apa yang benar-benar mereka inginkan dari pemimpin yang bakal terpilih. Namun, yang jelas: percakapan itu selalu mengalir, santai, dan dipenuhi dengan kebijaksanaan yang tersembunyi di balik setiap guyonan.

Follow WhatsApp Channel frensia.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Baca Lainnya

Prof Busriyanti Usul Ada Percepatan Karier Guru Besar Perempuan di UIN KHAS Jember
28 Siswa MI di Jember Keracunan Makanan Gratis, Susu Kedelai Diduga Jadi Pemicu
Puluhan Siswa MI di Jember Diduga Keracunan Program Makan Bergizi Gratis
Kasus 2 WNA Rusia Pemakai Ganja di Pantai Plengkung Banyuwangi Dilimpahkan ke Kejaksaan
Prof Busriyanti Angkat Maqasid Al-Usrah sebagai Paradigma Pembentukan Keluarga Islam dalam Orasi Ilmiah Guru Besar
Orasi Ilmiah Moderasi Beragama, Prof Muis: Bukan Agamanya Dimoderat, Tapi Praktik Keagamaannya
8 Guru Besar UIN KHAS Jember Resmi Jadi Pendaftar Bakal Calon Rektor
Respons Ketua IKA UIN KHAS soal Penjaringan Bakal Calon Rektor

Baca Lainnya

Wednesday, 23 September 2026 - 10:22 WIB

Prof Busriyanti Usul Ada Percepatan Karier Guru Besar Perempuan di UIN KHAS Jember

Wednesday, 23 September 2026 - 01:12 WIB

28 Siswa MI di Jember Keracunan Makanan Gratis, Susu Kedelai Diduga Jadi Pemicu

Tuesday, 22 September 2026 - 16:36 WIB

Kasus 2 WNA Rusia Pemakai Ganja di Pantai Plengkung Banyuwangi Dilimpahkan ke Kejaksaan

Tuesday, 22 September 2026 - 10:03 WIB

Prof Busriyanti Angkat Maqasid Al-Usrah sebagai Paradigma Pembentukan Keluarga Islam dalam Orasi Ilmiah Guru Besar

Monday, 21 September 2026 - 13:44 WIB

Orasi Ilmiah Moderasi Beragama, Prof Muis: Bukan Agamanya Dimoderat, Tapi Praktik Keagamaannya

TERBARU

Discover more from Frensia

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading