Frensia.id- Pasca penutupan lokalisasi Padang Bulan Banyuwangi, ternyata ada positif dan dampak negatifinya. Hal demikian ini telah diriset oleh sejumlah akademisi.
Salah satunya adalah Miskawi dari Universitas PGRI Banyuwangi dan I Kadek Yudiana Yudiana serta Mahfud yang keduanya berasal dari Universitas 17 Agustus 1945 Banyuwangi. Temuan mereka baru terbit tahun ini.
Penutupan lokalisasi di Padang Bulan membawa perubahan signifikan bagi masyarakat di sekitarnya. Dampaknya bisa dilihat dari dua sisi—positif dan negatif—tergantung sudut pandang dan kondisi sosial-ekonomi yang dialami oleh masyarakat setempat. Namun, dalam menghadapi perubahan tersebut, penduduk sekitar tentu harus menyesuaikan diri untuk tetap bertahan hidup.
Tiga akademisi dari kota tersebut melakukan kajian yang bertujuan untuk menggambarkan kondisi umum masyarakat sekitar pasca-penutupan. Mereka buruapaya memahami pandangan mereka tentang kebijakan ini, menganalisis bagaimana bentuk adaptasi yang terjadi baik pada masyarakat sekitar maupun mantan pekerja seks komersial (PSK), serta memberikan rekomendasi terkait langkah-langkah yang bisa diambil oleh pemerintah dan masyarakat guna meminimalkan dampak negatif yang muncul.
Temuan penelitianya menunjukkan bahwa masyarakat setempat terbagi menjadi dua kelompok utama dalam merespons penutupan ini. Kelompok pertama adalah mereka yang mendukung langkah penutupan lokalisasi karena alasan moral dan sosial.
Mereka percaya bahwa penutupan ini akan meningkatkan kualitas hidup di daerah mereka, terutama dalam hal keamanan dan ketertiban sosial. Kelompok ini berpendapat bahwa dengan ditutupnya lokalisasi, lingkungan mereka akan menjadi lebih aman, bersih, dan terbebas dari stigma negatif yang sebelumnya melekat.
Namun, di sisi lain, terdapat kelompok yang tidak mendukung kebijakan ini. Alasan utama penolakan mereka adalah kurangnya upaya dari pihak berwenang dalam menangani dampak negatif yang ditimbulkan dari penutupan tersebut.
Mereka khawatir bahwa penutupan tanpa adanya langkah lanjutan untuk mendukung mantan PSK dan masyarakat yang bergantung pada ekonomi sekitar lokalisasi akan memperburuk situasi. Sebagian besar dari mereka menggantungkan hidupnya pada aktivitas ekonomi yang terkait dengan lokalisasi, seperti penyewaan kamar, warung makan, dan berbagai usaha kecil lainnya.
Dengan hilangnya pusat kegiatan yang menghidupi mereka, kelompok ini merasa ditinggalkan tanpa solusi konkret dari pemerintah.
Selain itu, mantan PSK juga menghadapi tantangan besar dalam beradaptasi dengan kehidupan di luar lokalisasi. Banyak dari mereka tidak memiliki keterampilan lain untuk mencari nafkah, dan tanpa dukungan yang memadai, mereka bisa jatuh ke dalam kemiskinan atau bahkan kembali ke praktik-praktik lama di tempat lain yang tidak terpantau.
Oleh karena itu, langkah penting yang perlu dilakukan adalah menyediakan pelatihan keterampilan dan bantuan ekonomi bagi mantan PSK, serta mengupayakan program rehabilitasi sosial yang komprehensif.
Penelitian ini menyoroti pentingnya sinergi antara pemerintah dan masyarakat dalam menangani dampak dari penutupan lokalisasi. Pemerintah perlu mengambil langkah lebih proaktif dengan melibatkan berbagai pihak dalam merumuskan solusi jangka panjang, termasuk menciptakan lapangan kerja baru dan memberikan pendidikan keterampilan bagi mereka yang terdampak langsung.
Sementara itu, masyarakat setempat juga perlu didorong untuk lebih terbuka dan mendukung mantan PSK dalam proses reintegrasi mereka ke masyarakat. Dengan upaya kolektif ini, dampak negatif dapat diminimalkan, dan masyarakat bisa beradaptasi dengan lebih baik terhadap perubahan yang terjadi.