Frensia.id – Viktor Orban, Perdana Menteri Hongaria mengungkapkan pada media tentang kesannya selama mengenal Vladimir Putin.
Sebagai teman dari presiden Rusia, Viktor Orban ditanya dalam kesempatan interview oleh media majalah mingguan.
Hal ini sebagaimana pernyataan Viktor Orban dalam interview bersama Roger Koppel for Die Weltwoche, July 6, 2024.
Saat ditanya kesan apa yang milikinya tentang Putin? Viktor Orban pun menjawab bahwa ia sudah menjalin kerjasama sejak tahun 2009.
“Pertama-tama, kami sepakat pada tahun 2009 bahwa dasar kerja sama kami adalah saling menghormati dan menjaganya tetap seperti itu” ucapnya.
Perdana Menteri Hongaria mengaju tidak tau sikap Putin saat marah, karena ia sendiri tidak pernah membuat Presiden Rusia itu marah.
“Saya tidak tahu bagaimana dia bersikap ketika dia tersinggung karena saya tidak pernah melakukannya” jelas Viktor Orban.
Saat menjalin negosiasi dengan Rusia, Viktor Orban mengatakan bahwa Vladimir Putin selalu dengan suasana hati yang baik.
“Semua negosiasi dan pembicaraan dengannya selalu dalam suasana hati yang baik” ucap Perdana Menteri Hongaria pada 06/07/2024.
Viktor Orban juga menjelaskan bahwa Presiden Rusia merupakan pria yang sangat rasional dan sangat detail saat melakukan negosiasi.
“Kedua, dia lebih dari 100% rasional. Ketika dia bernegosiasi, ia menjelaskan suatu hal atau membuat proposal, dia sangat rasional”, jelas Viktor Orban.
Menurut Perdana Menteri Hongaria, Vladimir Putin merupakan seorang yang berkepala dingin dalam bahasanya. Seorang yang pendiam, hati-hati, dan disiplin.
“Seperti yang kami katakan dalam bahasa Hongaria, ‘berkepala dingin’. Anda tahu, berkepala dingin, pendiam. Dia sangat berhati-hati, tepat waktu, siap, dan disiplin”, ucapnya.
Bernegosiasi dengan Vladimir Putin menurut Perdana Menteri Hongaria merupakan tantangan tersendiri, sebab dia pintar secara intelektual dan politik.
“Merupakan tantangan nyata untuk bernegosiasi dengannya dan harus siap jika Anda ingin mempertahankan tingkat intelektual dan politiknya” ucapnya memuji Vladimir Putin.