Frensia.id- Rajab, Sya’ban, dan Ramadhan adalah tiga bulan berturut yang memiliki keistimewaan dalam Islam. Ketiganya seperti tangga spiritual yang membawa umat Islam menuju puncak penghambaan kepada Allah.
Syekh Dzunnun Al-Mishri, sebagaimana dikutip oleh Syekh Abdul Qadir dalam Al-Ghuniyah, memberikan panduan penting tentang bagaimana memaknai ketiga bulan ini: Rajab untuk meninggalkan kejelekan, Sya’ban untuk menambah ketaatan, dan Ramadhan untuk menjemput kemuliaan.
Rajab, Bulan Resik-Resik
Rajab adalah bulan haram, bulan yang diagungkan oleh Allah. Dalam bulan ini, dosa-dosa dilarang lebih keras, dan kebaikan diberi pahala lebih besar. Bulan ini mengingatkan kita untuk berhenti dari kebiasaan buruk, baik dalam tindakan maupun pikiran.
Meninggalkan kejelekan bukan hanya berarti berhenti berbuat dosa, tetapi juga melatih diri untuk menjauhi hal-hal yang mendekati dosa. Inilah waktu yang tepat untuk bermuhasabah, memeriksa diri, dan memohon ampunan atas kesalahan yang telah lalu.
Disinilah mengapa para ulama menganjurkan memperbanyak bacaan istighfar di bulan Rajab. Bulan ini adalah momentum untuk memohon ampunan kepada Allah SWT dengan bacaan istighfar yang beragam, mulai dari yang pendek dan ringkas seperti رَبِّ اغْفِرْ لِي وَارْحَمْنِي وَتُبْ عَلَيَّ.
Istighfar ini dianjurkan dibaca 70 kali setiap pagi dan sore hari. Bahkan, para ulama juga mengingatkan agar memperbanyak membaca Sayyidul Istighfar, yang dikenal sebagai ‘induk’ dari semua doa istighfar.
Sya’ban, Bulan akselerasi
Jika Rajab adalah awal perbaikan, maka Sya’ban adalah bulan akselerasi. Di bulan ini, kita dianjurkan memperbanyak ibadah, seperti puasa sunnah, shalawat, dan sedekah. Nabi Muhammad SAW sendiri memperbanyak puasa di bulan Sya’ban sebagai persiapan spiritual menyambut Ramadhan. Bulan ini adalah kesempatan untuk membiasakan diri dengan ketaatan sehingga ketika memasuki Ramadhan, hati dan tubuh sudah siap.
Sya’ban juga merupakan waktu yang tepat untuk memperbaiki hubungan dengan sesama, memperbanyak amal sosial, dan menumbuhkan rasa empati. Di bulan ini, kita diingatkan untuk memperbaiki niat dan mempersiapkan diri dengan penuh kesungguhan untuk menyambut Ramadhan. Dengan memaksimalkan ibadah di Sya’ban, kita akan lebih siap untuk menjalani bulan suci Ramadhan dengan penuh keberkahan dan ketaatan.
Ramadhan, Bulan menuai prestasi
Rajab adalah bulan untuk membersihkan diri, di bulan ini diajak untuk meninggalkan keburukan dan memperbaiki diri. Sya’ban kemudian menjadi bulan akselerasi, fase untuk memperbanyak amal ibadah sebagai persiapan spiritual untuk menyambut Ramadhan.
Kedua bulan ini membentuk fondasi yang kuat bagi perjalanan menuju bulan suci, sehingga ketika Ramadhan tiba, umat Islam siap meraih kemuliaan. Ramadhan menjadi bulan untuk menuai prestasi, hasil dari persiapan yang telah dilakukan sebelumnya.
Puncak dari perjalanan ini adalah Ramadhan, bulan yang penuh keberkahan dan ampunan. Bulan ini menjadi momentum untuk memperbaiki hubungan dengan Allah, memperbanyak ibadah, dan menjemput kemuliaan sebagai hamba-Nya.
Puasa di bulan Ramadhan adalah ibadah yang mengajarkan kita kesabaran, keikhlasan, dan empati kepada sesama. Ramadhan juga adalah bulan turunnya Al-Qur’an, yang seharusnya menjadi pedoman hidup bagi setiap Muslim.
Ketiga bulan ini memiliki hubungan yang erat. Rajab adalah awal perjalanan, di mana kita meninggalkan keburukan. Sya’ban adalah fase transisi untuk meningkatkan kebaikan, dan Ramadhan adalah klimaks, di mana kemuliaan spiritual dapat diraih. Jika diibaratkan, Rajab adalah fondasi, Sya’ban adalah pembangunan, dan Ramadhan adalah penyempurnaan.
Seperti sebuah rumah, fondasi yang kokoh menjadi syarat utama agar bangunan di atasnya dapat berdiri dengan baik. Tanpa fondasi yang kuat, mustahil bangunan itu dapat bertahan lama, apalagi terlihat indah dan sempurna.
Begitu pula dengan perjalanan spiritual ini—tanpa memanfaatkan Rajab untuk membersihkan diri dari kejelekan, jangan berharap kebaikan di Sya’ban dapat dilakukan dengan maksimal, apalagi meraih kemuliaan di Ramadhan. Rajab adalah prasyarat pertama yang harus dilalui dengan sungguh-sungguh untuk memastikan perjalanan menuju Ramadhan menjadi sempurna.