Frensia.id – Siapapun –meskipun tidak semuanya bisa melakukannya — berkeinginan menjadi pribadi yang istiqomah. Selain terkesan konsisten, sebuah sikap yang digandrungi setiap orang apapun negara dan latar belakang agamanya. Istiqomah juga merupakan ajaran dan anjuran yang sangat diperhatikan dalam ajaran Islam.
Menurut KH. Muhammad Syamsul Arifin dalam kalam hikmah sebuah buku kumpulan pemikiran ulama kharismatik asal pulau garam madura tersebut, menuturkan istiqomah dalam penyebutan orang madura di sebutan “jhek-jehk”. Secara istilah, istiqomah adalah luzum al ‘amal Shaleh (menetapi amal yang shaleh).
Hakekatnya istiqomah menurutnya adalah orang yang mempunyai ketetapan hati untuk mengerjakan sesuatu yang baik sehingga tidak mudah terombang-ambing oleh berbagai macam kepentingan dan godaan yang bisa dari tujuan pekerjaan tersebut.
Istiqomah secara gamblang dapat dijumpai dalam hadist yang diriwayatkan Muslim, Sufyan bin Abdillah, salah seorang sahabat Rasulullah saw bertanya “Kata pada saya (Ya Rasulullah) suatu pekerjaan tentang Islam yang tidak usah saya tanyakan pada orang lain! Rasulullah menjawab : Katakanlah : ‘saya beriman pada Allah. Setelag itu ber-istiqamah-lah’”
Hadis lain yang mengandung sikap Istiqomah adalah sabda Rasulullah saw “Sebaik-baiknya amal adalah yang paling berkesinambungan walaupun amal itu hanya sedikit”.
Dalam kehidupan dan praktek nyata, Rasulullah saw adalah pribadi mulya yang telah memberi contoh dalam beristiqomah. Sebagaimana jamak diketahui dalam riwayat disebutkan Rasulullah saw sangat istiqomah dalam sholat berjemaah bahkan dalam keadaan sakit parah minta untuk dibawa ke masjid agar bisa berjemaah.
Keteladanan istiqomah Rasulullah saw juga diikuti sahabat Nabi dan para ulama. Oleh karenanya, kita – sebagai muslim—seharusnya mencontohnya. Tidak mudah? iya. Cara mengikisnya dalam petuah KH. Syamsul Arifin adalah harus ingat bahwa kita sebagai manusia diciptakan dalam kerangka misi untuk beribadah.
Supaya istiqomah tidak terasa berat harus dilatih. Salah satu sarana merancung istiqomah dalam diri kita adalah ramadhan. Ramadhan mengajarkan kita konsisten waktu kapan waktu makan, waktu menahan diri sekalipun halal namun belum waktunya.
Dilatih bangun tengah malam untuk sahur dan beribadah, dilatih tadarus setiap malam agar kita terbiasa membaca al-Qur’an dll.
Itu semua dirancang untuk membetuk diri kita istiqomah. Persoalannya sekarang ada pada diri kita, maukah kita terus melanjutkan kebiasaan baik ini? mengambil pelajaran dan manfaat dari Ramadhan? jika iya, insyallah Ramadhan akan merancung kita menjadi istiqomah.
Namun jika tidak, maka kita hanya sebatas formalitas an-sich dalam melakoni rutinitas ibadah ramadhan.