Frensia.id – Senat Mahasiswa (SEMA) bersama Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) UIN KHAS Jember, menyampaikan pernyataaan sikap penolakan terkait pemaparan Visi-Misi Calon Rektor yang akan dilaksanakan di Kabupaten Lumajang.
Ketua Senat Mahasiswa UIN KHAS Jember, Muhammad Oky Mabruri, menolak apabila demokrasi kampus dikebiri oleh panitia penjaringan rektor.
“Kampus sejatinya adalah mimbar suci kebebasan akademik dan transparansi,” kata Oky, di depan Kantor SEMA UIN KHAS Jember, pada Jum’at (16/10/2026).
Namun, kata dia, pihaknya selaku lembaga perwakilan mahasiswa UIN KHAS Jember mengaku kecewa dan marah menyaksikan kampusnya dioperatori oleh segelintir oknum yang tidak bertanggung jawab.
“Pemilihan rektor yang seharusnya menjadi proses sakral, bermartabat dan partisipatif, justru direduksi menjadi panggung keangkuhan yang menabrak nalar, etika, dan asas kepatutan kepatutan,” tuturnya.
Oleh karena itu, menyikapi permasalahan tersebut, SEMA dan DEMA UIN KHAS Jember menyatakan sikap penolakan atas tertutupnya transparansi rangkaian penjaringan calon rektor, terutama dalam hal ini pemaparan visi dan misi.
“Yang pertama, penolakan mutlak atas proses sosialisasi visi dan misi calon rektor yang diadakan di Lumajang,” ujarnya.
Menurut Oky, pihakny selaku representasi mahasiswa UIN KHAS Jember, tidak menerima pemberitahuan adanya pengumuman pemaparan visi-misi tersebut.
Lebih lanjut, Senat Mahasiswa bersama Dewan Eksekutif Mahasiswa UIN KHAS Jember, akan segera menyusun dan mengirimkan laporan pelanggaran ini secara resmi kepada Menteri Agama Republik Indonesia.
Hal itu, kata dia, demi menjaga kondusifitas, integritas, dan nama baik institusi,
“Langkah ini akan kami ambil dan kami tindak lanjuti hingga selesai,” ujarnya.
Selain itu, dia juga menegaskan bahwa pihaknya bersama seluruh elemen mahasiswa akan berkonsolidasi menyiapkan perlawanan, apabila panitia penjaringan calon rektor tetap tidak ada keterbukaan dan berlanjut tanpa evaluasi.
“Kami tidak akan ragu untuk turun ke jalan, mengonsolidasikan aksi massa besar-besaran, dan melumpuhkan arogansi birokrasi demi merebut kembali kedaulatan kampus,” tuturnya.
Menurut Oky, kebenaran mungkin bisa dibungkam di meja panitia, tetapi di kemudian hari akan selalu menemukan jalannya.
“Itu yang terus kami yakini,” tegasnya.***






