Frensia.id- Serat Centhini merupakan salah satu naskah Jawa paling istimewa. Ditulis berdasarkan inisiatif Adipati Anom Amangkunegara III, seorang putra mahkota kerajaan Surakarta yang kelak akan mewarisi tahta dengan gelar Sunan Pakubuwono V.
Dalam proses penulisannya membutuhkan waktu kurang lebih sembilan tahun antara 1814-1823 dan menjadi naskah Jawa yang memiliki ketebalan 4200 halaman folio, yang terdiri dari 12 jilid. Ditulis dengan menggunakan huruf Jawa dan berbahasa Jawa.
Naskah Jawa ini dianggap sebagai ensiklopedi kebudayaan Jawa, ditinjau dari kelengkapan kandungan isinya. Beberapa tema yang termuat diantaranya adalah dilsafat, agama, etika, adat istiadat, klenik, obat-obatan, flora dan fauna, kesaktian dan beberapa tema utama lainnya yang menjadi tradisi masyarakat Jawa.
Dalam proses penulisannya, putra Mahkota Surakarta memerintahkan kepada tiga pujangga untuk melakukan riset dan mencatat segala yang ditemukan, sedangkan ia sendiri berperan sebagai koordinator.
Tiga dari pujangga yang dimaksud adalah, pertama Raden Ngabehi Ranggasutrasna, seorang ahli bahasa dan budaya Jawa. Mendapatkan tugas untuk menjelajah Jawa bagian Timur, mulai dari Surakarta hingga Banyuwangi.
Kedua, Raden Ngabehi Yasadipura II atau Ranggawarsita I, adalah seorang ahli sastra dan kebudayaan Jawa. Mendapatkan tugas untuk menjelajah Jawa bagian Barat, mulai dari Surakarta hingga Anyer.
Ketiga, Raden Ngabehi Sastradipura atau Kiai Haji Ahmad Ilhar, seorang ahli agama, bahasa Arab dan tasawuf. Mendapatkan tugas untuk pergi ke Mekah selama beberapa tahun dan menunaikan ibadah haji.
Setelah mereka bertiga kembali dari pengembaraannya untuk mencatat segala sesuatu yang dianggap penting, barulah penulisan dikerjakan di Keraton.
Naskah yang ditulis sebenarnya berjudul Suluk Tambangraras, namun nama yang lebih populer adalah Centhini. Dimabil dari nama seorang pembantu rumah tangga dari Niken Tambangraras, salah satu tokoh utama dalam naskah ini.
Sampai hari ini, identitas dari naskah yang ditulis berdasarkan inisiatif kerajaan ini lebih populer di masyarakat dengan sebutan Serat Centhini, daripada sebutan yang diberikan oleh pengarang naskah pada pengantar awalnya.
Sebagaimana naskah pada umumnya, ketika terdapat penyalinan dari dari tulisan utama untuk kemudian diperbanya selalu ada perbedaan, yang terjadi dikarenakan kesengajaan atau tidak.
Oleh karena itu, sekurang-kurangnya terdapat enam versi, Serat Centhini Baku, Serat Centhini persembahan Pakubuwono VII ke negeri Belanda, Serat Centhini bahasa Jawa Timur, Serat Centhini Bahasa Jawa Pegon, Serat Centhini Jalalen dan Serat Centhini Amongraga.