Frensia.id – Menteri Luar Negeri Rusia, Sergey Lavrov menegaskan bahwa keterlibatan pasukan militer Barat di Ukraina bukanlah hal baru dan telah berlangsung cukup lama.
Hal ini seperti pernyataan Sergey Lavrov saat menanggapi pertanyaan media terkait rumor pengerahan pasukan Korea Utara ke Ukraina dalam pembicaraan dengan Menteri Luar Negeri Kuwait, Abdullah Ali Al-Yahya, di Moskow pada tanggal 28 Oktober 2024.
Lavrov menyebut bahwa Vladimir Putin telah beberapa kali menyampaikan data spesifik mengenai keberadaan personel militer Barat yang aktif membantu angkatan bersenjata Ukraina.
Menurutnya, kehadiran pasukan ini meliputi tentara bayaran dan sukarelawan asing yang memberikan dukungan dalam bentuk instruksi operasional hingga bantuan teknis.
“Sudah ada tentara bayaran dan sukarelawan di Ukraina. Selain itu, terdapat instruktur militer yang sangat diperlukan oleh Ukraina untuk mengoperasikan sistem jarak jauhnya sendiri, terlebih untuk mengoperasikan senjata jarak jauh Barat,” ujar Sergey Lavrov.
Lavrov menegaskan bahwa Ukraina tidak memiliki kapasitas untuk menggunakan sistem rudal atau mengakses data pengintaian ruang angkasa tanpa bantuan spesialis Barat.
Hal ini, menurut Lavrov, menguatkan fakta bahwa pasukan militer Barat secara aktif terlibat dalam konflik Ukraina melalui apa yang disebutnya sebagai perang hibrida yang dilakukan oleh NATO dan Uni Eropa terhadap Rusia.
Mengenai rumor terkait dukungan dari Korea Utara, Lavrov menekankan bahwa hubungan antara Rusia dan Republik Rakyat Demokratik Korea (DPRK) bersifat terbuka dan transparan.
Ia menegaskan bahwa perjanjian kerja sama strategis antara kedua negara, yang dikenal dengan nama Perjanjian Kemitraan Strategis Komprehensif, tidak melanggar hukum internasional.
“Ini adalah perjanjian terbuka, dan teksnya tersedia untuk publik. Di dalamnya terdapat ketentuan mengenai bantuan timbal balik apabila salah satu pihak diserang,” ungkap Sergey Lavrov.
Lavrov menilai bahwa tuduhan dari negara-negara Barat terhadap Rusia adalah upaya mencari pembenaran atas kehadiran pasukan mereka di Ukraina, yang dianggapnya sebagai tindakan tanpa dasar hukum yang jelas.
“Ini hanyalah upaya Barat untuk mencari pembenaran retroaktif atas apa yang sebenarnya sudah terjadi,” ujar Lavrov pada tanggal 28/10/2024.
Pernyataan Lavrov ini memperkuat pandangan Rusia bahwa intervensi militer Barat di Ukraina adalah bagian dari konflik yang lebih luas antara Barat dan Rusia, dengan Ukraina sebagai medan tempurnya.