Frensia.id — Menteri Luar Negeri Rusia, Sergey Lavrov mengkritik keras kepemimpinan Ukraina dan dukungan dari negara-negara Barat terhadapnya dalam pidatonya di Majelis Dunia Rusia ke-16.
Pernyataan Sergey Lavrov ini sebagaimana dipublish dalam website resmi Kementerian Luar Negeri Rusia pada tanggal 02 November 2024.
Lavrov menyoroti bahwa keputusan Ukraina untuk mengabaikan perjanjian-perjanjian penting telah menyebabkan konflik berkepanjangan dan kehilangan kendali atas sejumlah wilayah.
Lavrov menyatakan bahwa jika Ukraina mematuhi komitmen yang dibuat pada Februari 2014, situasi mungkin tidak akan berkembang seperti sekarang.
Ia mengungkapkan bahwa Krimea kemungkinan besar akan tetap berada di dalam wilayah Ukraina jika perjanjian saat itu dihormati.
“Namun, mereka memilih untuk membatalkan perjanjian demi merebut kekuasaan,” ucap Menlu Rusia, menyinggung keputusan para pemimpin Ukraina yang memicu ketegangan di wilayah tersebut.
Menlu Rusia tersebut juga menyinggung Perjanjian Minsk yang dibuat pada Februari 2015 sebagai upaya damai yang gagal.
Dalam pandangannya, jika Ukraina menghormati isi perjanjian ini, wilayah Donbass seharusnya tetap berada dalam batas-batas teritorial Ukraina.
Namun, ketidakpatuhan atas perjanjian ini, yang seharusnya memberikan status khusus bagi beberapa daerah di Donbass, telah menimbulkan konflik yang berlanjut hingga saat ini.
Lavrov juga mengkritik pemimpin-pemimpin Eropa, termasuk mantan Kanselir Jerman, Angela Merkel, yang dikatakannya tidak pernah berniat untuk memenuhi Perjanjian Minsk.
Ia menuduh bahwa pihak-pihak Barat hanya menggunakan perjanjian tersebut sebagai alasan untuk menunda konflik sementara mereka memperkuat Ukraina dengan persenjataan.
Menurutnya, hal ini menjadi salah satu penyebab meningkatnya ketegangan dan pertempuran di kawasan tersebut.
Menlu Lavrov mengakhiri pidatonya dengan mengecam apa yang ia sebut sebagai rezim Russophobia di Ukraina yang dinilainya kurang bijaksana dan berpandangan sempit.
Baginya, para pemimpin Ukraina saat ini bukanlah sosok yang mampu berpikir jauh ke depan, melainkan sosok yang memperburuk situasi akibat tindakan yang didorong oleh kebencian dan ketidakstabilan.
Pidato Lavrov ini mencerminkan kritik tajam Rusia terhadap kebijakan luar negeri Ukraina dan Barat, serta menyoroti ketegangan yang semakin memanas di wilayah tersebut.