Frensia.id- Pada era modernisasi yang gemerlap dengan kecanggihan teknologi, seringkali banyak yang melupakan kisah-kisah kecil yang tetap bertahan di tengah arus perubahan. Salah satunya adalah cerita para tukang becak—sosok yang akrab menghiasi jalanan dan sudut-sudut kota di masa lalu.
Namun kini, mereka perlahan-lahan tergeser dari panggung kehidupan perkotaan. Deru mesin motor, kecepatan ojek online, dan kemewahan kendaraan pribadi menjadikan becak sebagai “barang lama” yang mulai dilupakan. Di tengah keadaan ini, di Kabupaten Jember, tepatnya di Pojok Mangli, ada seorang tukang becak yang enggan menyerah pada keadaan—Supardi.
Supardi, pria sederhana berusia 54 tahun asal Sempusari, adalah sosok yang setia menanti nasib di becaknya. Seperti sebuah patung yang menantang perubahan zaman, ia tetap duduk di sudut jalan, memandang lalu-lalang kendaraan yang melewatinya, tanpa rasa getir yang membebani langkah hidupnya.
Pojok Mangli menjadi rumah keduanya, tempat di mana ia menganyam cerita dan mengukir perjuangan panjang. Hari-harinya mungkin terlihat monoton bagi sebagian orang, tetapi tidak bagi Supardi. Ada kenyamanan dalam keteraturan itu.
“Enak wes jadi tukang becak, nyantai gak ada yang marahin saya,” katanya sembari melempar senyum tipis, penuh keikhlasan.
Supardi pernah mencoba peruntungan di tempat lain. Semasa muda, ia menjadi buruh bangunan, berkawan dengan kerasnya adukan semen dan panasnya terik matahari. Namun, lambat laun tubuhnya tak lagi sekuat dahulu. Mengangkat beban berat tak lagi bisa ia lakukan. Maka, ia memilih jalan yang lebih ‘nyaman’—mengayuh becak.
“Sekarang wes capek, jadi tukang bangunan sudah gak kuat lagi,” ungkapnya dengan suara yang parau namun penuh ketegaran.
Menjadi petani pun pernah ia jajal, namun kesulitan panen seringkali menggiringnya kembali ke becak—menjadi penumpang setia dari harapan yang berulang kali terhempas.
Kehidupan Supardi adalah gambaran dari dunia yang berubah dengan cepat.
“Sekarang udah sepi nduk, orang-orang udah punya kendaraan,” keluhnya, namun bibirnya tetap menyunggingkan senyum.
Ia tak menghakimi zaman yang berubah, tak menyimpan dendam kepada teknologi yang lebih disukai. Baginya, becaknya adalah ruang waktu di mana kenangan bertemu realita, tempat ia terus mengayuh meski jalan terjal menantinya.
Setiap hari, Supardi berangkat dari rumah pukul 04:30 pagi, berharap roda-roda becaknya bisa mendatangkan rejeki untuknya. Tapi, kenyataan kerap kali berbicara sebaliknya. Sehari ia bisa membawa pulang 20 ribu rupiah, kadang 40 ribu.
Namun, tak jarang ia pulang dengan tangan hampa. Bayangkanlah langkah-langkah Supardi di kala senja mulai mengintip, wajahnya mungkin lelah, tapi ada kilauan keteguhan yang mengiringinya. Ketika pintu rumahnya terbuka, senyum hangat istrinya menyambut, menghapus sedikit kelelahan yang menggelayut.
Kisah Supardi adalah potret kecil dari banyak cerita yang tak tercatat dalam gemerlapnya peradaban. Ia adalah sosok yang mengajarkan kita arti pasrah dan syukur dalam satu waktu. Ia tidak pernah mengeluh, meski hidup memberinya ujian yang terus menerus.
Menunggu penumpang di Pojok Mangli bukan sekadar soal mencari nafkah, tetapi juga soal menjaga harapan tetap hidup. Setiap kayuhan adalah doa, setiap detik yang berlalu adalah harapan yang disematkan di antara gerak-gerik lalulintas.
Suatu hari, Supardi tahu bahwa becaknya mungkin tak akan selamanya membawa penumpang. Namun, ia tetap bertahan, tak peduli seberapa banyak roda teknologi melaju melewatinya. Karena baginya, hidup adalah tentang terus bergerak, meski perlahan, meski dengan rintangan.
Setiap pagi, ia akan tetap berangkat. Menjemput matahari dengan roda kayu yang berderit pelan, mengantar kita semua pada renungan sederhana—betapa banyak nilai hidup yang ia kayuh setiap harinya di atas becak tuanya. (*)
Penulis: Asri Lalitatus Sa’adah (Anggota Forum Literasi Akademik)